Bos BI Bantah Cadangan Devisa Habis: Lebih dari Cukup
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo membantah kabar cadangan devisa habis. Ia menyatakan, BI selalu mengukur cadangan devisa, dan saat ini berada di taraf lebih dari cukup.
“Lebih dari cukup. BI itu selalu mengukur berapa jumlah cadangan devisa yang cukup,” kata Perry kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (9/6).
Perry menjelaskan, International Monetary Fund (IMF) mengeluarkan indikator internasional yang disebut Adequacy Reserve Asset. BI, kata Perry, berpedoman pada itu.
“Ada indikator yang dikeluarkan IMF ya internasional yang disebut Adequacy Reserve Asset. Nah, kita kami ukur itu. Itu adalah mudahnya ya berapa cadangan devisa untuk bisa mengcover pelemahan rupiah yang dalam,” kata dia.
Perry menuturkan, dari hasil perhitungan cadangan devisa yang tersedia berada di angka lebih dari 115%.
“Jadi masih lebih dari cukup itu di samping yang sekitar 6 bulan impor. Jadi jangan khawatir jumlah cadangan devisa lebih dari cukup ya,” kata Perry.
Adapun, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tercatat turun menjadi US$ 144,9 miliar. Angka cadangan devisa tersebut merupakan yang terendah sejak Desember 2024 ketika cadangan devisa mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$ 155,72 miliar.
Jika dibandingkan dengan posisi April 2026 sebesar US$ 146,2 miliar, cadangan devisa Mei 2026 turun US$ 1,3 miliar.
Dalam pernyataan resminya, Bank Indonesia (BI) menjelaskan penurunan cadangan devisa atau cadev tersebut terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.
“Perkembangan cadangan devisa Mei 2026 dipengaruhi penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia,” kata BI dalam keterangan resminya, Senin (8/6).