Rupiah Berpeluang Menguat meski Risiko Geopolitik dan Inflasi Masih Membayangi

Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menghitung pecahan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (18/5/2026).
Editor: Ahmad Islamy
11/6/2026, 09.52 WIB

Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan pergerakan yang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Bloomberg melansir, mata uang nasional itu membuka perdagangan di level Rp 17.939 per dolar AS, Kamis (11/6).

Pantauan Katadata, hingga pukul 09.34 rupiah kembali melemah berada di level Rp17.961 per dolar AS turun 0,09% atau 17 poin. Adapun pada perdagangan kemarin rupiah ditutup di level Rp 17.944 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah menguat 0,63% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 18.058 per dolar AS.

Analis memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak mixed pada perdagangan hari ini. Di satu sisi, rupiah masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan terhadap dolar AS. Namun di sisi lain tekanan dari meningkatnya tensi geopolitik global dan ekspektasi suku bunga tinggi AS berpotensi menahan laju apresiasi mata uang Garuda.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat terhadap dolar AS. Namun, penguatan tersebut diperkirakan tertahan akibat meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.

“Rupiah masih berpotensi menguat terhadap dolar AS, namun penguatan diperkirakan terbatas oleh eskalasi di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah dunia,” ujar Lukman kepada Katadata, Kamis (11/6).

Ia memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.850 hingga Rp 18.000 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, melihat risiko pelemahan rupiah masih cukup besar. Menurut dia, rupiah berpotensi terdepresiasi tipis ke level Rp 18.010 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini.

Fikri menjelaskan, sentimen utama yang membebani rupiah berasal dari meningkatnya risiko geopolitik global setelah saling serang antara Iran dan Israel yang kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

Selain itu, data inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi turut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

“Rilis inflasi AS yang tinggi dan meningkatnya ekspektasi kenaikan Fed rate pada Desember menjadi faktor yang mendukung penguatan dolar AS,” kata Fikri.

Dari dalam negeri, Fikri menilai pasar juga mulai mencermati potensi kenaikan tekanan inflasi setelah pemerintah menaikkan harga Pertamax pada Rabu (10/6) kemarin. Kenaikan harga BBM nonsubsidi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan logistik yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi domestik.

“Pasar juga mengkhawatirkan peningkatan risiko inflasi domestik setelah kenaikan harga Pertamax,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah