Rupiah Loyo Lagi Mendekati 18.000 per US$, Tertekan Potensi Kenaikan Bunga AS

ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/nym.
Karyawan memperlihatkan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Pada perdagangan Rabu (3/6) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di level Rp17.975 yaitu paling rendah dari rekor terendah sebelumnya.
Editor: Agustiyanti
26/6/2026, 09.55 WIB

Nilai tukar rupiah melemah 0,21% ke level 17.981 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Jumat (26/6). Rupiah tertekan data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan dan potensi kenaikan suku bunga AS. 

Melansir dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.988 per dolar AS melemah 0,25% atau 44 poin. Kurs rupiah sempa menguat ke level  Rp 17.958 per dolar AS, tetapi melemah lagi ke 17.981 per dolar AS pada pukul 09.45 WIB. 

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan kenaikan inflasi inti AS berdasarkan indikator Personal Consumption Expenditures (PCE) menjadi sentimen utama yang mendorong penguatan dolar AS.

"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS PCE yang menunjukkan kenaikan pada inflasi inti mencapai tingkat tertinggi sejak Oktober 2023, serta pernyataan hawkish (cenderung dengan kebijakan lebih ketat) para pejabat The Fed semalam meningkatkan prospek kenaikan suku bunga oleh The Fed," ujar Lukman.

Menurutnya, data inflasi tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa tekanan harga di AS masih belum sepenuhnya mereda. 

Kondisi ini membuka peluang bagi bank sentral AS untuk kembali mempertahankan kebijakan moneter ketat, bahkan menaikkan suku bunga apabila inflasi tetap bertahan di level tinggi.

Di tengah sentimen tersebut, Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.050 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah