BPS: Ekspor Barang Ekonomi Kreatif Capai US$ 2,61 Miliar, Naik 4,47% pada April
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor barang ekonomi kreatif Indonesia pada April 2026 mencapai US$ 2,61 miliar (Rp 46,6 triliun, kurs Rp 17.844 per US$), meningkat 4,47% dibandingkan Maret 2026. Ekspor barang ekonomi kreatif tersebut berkontribusi sebesar 10,82% terhadap total ekspor nonmigas Indonesia.
"Nilai ekspor barang ekonomi kreatif saat ini mencapai US$ 2,61 miliar atau meningkat 4,47% dibandingkan Maret 2026. Ekspor ekraf ini menyumbang 10,82% dari total ekspor nonmigas Indonesia," kata Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti, dalam peluncuran hasil Sensus Ekonomi 2026 Sektor Ekonomi Kreatif, Senin (29/6).
Secara kumulatif, nilai ekspor barang ekonomi kreatif selama Januari–April 2026 mencapai US$ 9,99 miliar (Rp 176,8 triliun). Subsektor fesyen masih menjadi penyumbang terbesar dengan nilai ekspor US$ 5,85 miliar (Rp 104,4 triliun), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 5,58 miliar (Rp 99,57 triliun). Kontribusi subsektor fesyen mencapai 58,55% dari total ekspor ekonomi kreatif pada empat bulan pertama 2026.
Di posisi berikutnya terdapat subsektor kria dengan nilai ekspor US$ 3,82 miliar (Rp 68,16 triliun), naik dari US$ 3,47 miliar (Rp 61,9 triliun) pada Januari–April 2025. Sementara itu, subsektor kuliner mencatat nilai ekspor US$ 0,28 miliar (Rp 4,99 triliun) meningkat dibandingkan US$ 0,23 miliar (Rp 4,01 triliun) pada periode yang sama tahun lalu.
BPS juga mencatat pertumbuhan ekspor pada sejumlah subsektor berbasis teknologi dan kreativitas. Nilai ekspor game developer meningkat menjadi US$ 27,50 juta (Rp 490,72 miliar) dari US$ 15,77 juta (Rp 281,4 miliar) pada Januari–April 2025. Selain itu, subsektor penerbitan, seni rupa, fotografi, serta film, animasi, dan video juga berkontribusi terhadap ekspor ekonomi kreatif Indonesia.
AS Pasar Terbesar Ekspor Ekonomi Kreatif RI
Berdasarkan negara tujuan utama, Amerika Serikat menjadi pasar terbesar ekspor ekonomi kreatif Indonesia dengan nilai mencapai US$ 3,31 miliar (Rp 59,06 triliun) selama Januari–April 2026. Komoditas yang paling banyak diekspor ke negara tersebut berasal dari subsektor fesyen senilai US$ 2,80 miliar (Rp 40,68 triliun), disusul kria US$ 480 juta (Rp 8,57 triliun) dan kuliner US$ 15,55 juta (Rp 277,48 miliar).
Negara tujuan berikutnya adalah Thailand dengan nilai ekspor US$ 1,23 miliar (Rp 21,95 triliun), yang didominasi subsektor kria sebesar US$ 1,16 miliar (Rp 20,7 triliun). Selanjutnya Jepang mencatat nilai ekspor US$ 550 juta (Rp 9,81 triliun), Uni Emirat Arab sebesar US$ 510 juta (Rp 9,1 triliun), dan Belanda sebesar US$ 500 juta (Rp 8,92 triliun). Untuk Jepang dan Belanda, subsektor fesyen menjadi kontributor terbesar, sedangkan ekspor ke Uni Emirat Arab didominasi subsektor kria.
Amalia juga mengungkapkan sejumlah provinsi menjadi basis utama ekspor berbagai subsektor ekonomi kreatif. Ekspor fesyen terutama berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Barat, sementara subsektor game developer didominasi oleh Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.
Untuk subsektor fotografi, kria, dan penerbitan, DKI Jakarta menjadi daerah asal utama ekspor. Adapun subsektor film, animasi, dan video didominasi oleh Kepulauan Riau. Menurut Amalia, hal tersebut tidak terlepas dari keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa yang berperan sebagai penggerak pertumbuhan industri kreatif di wilayah tersebut.
"Karena itulah ternyata kawasan ekonomi khusus memang salah satu prime mover dari berkembangnya ekonomi kreatif di provinsi tersebut," ujar Amalia.