Rupiah Menguat ke 18.067 per dolar AS, Ketegangan di Timur Tengah Mereda

ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 52 poin atau 0,29 persen menjadi Rp18.066 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp18.014 per dolar AS.
Editor: Agustiyanti
10/7/2026, 09.56 WIB

Kurs rupiah menguat 0,34% ke level 18. 067 per dolar AS pada perdagangan hari ini (10/7).  Rupiah masih memelah meski ada sentimen positif dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Melansir dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 18.099 per dolar AS menguat 0,23% atau 43 poin. Kurs rupiah semakin menguat ke Rp 18.067 pada pukul 09.50 WIB. 

Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan rupiah berpotensi menguat tipis setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memberikan sinyal lebih lunak terhadap Iran.

"Rupiah diperkirakan akan bergerak datar dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS di tengah meredanya tensi di Timur Tengah menyusul retorika Trump yang lebih lembut terhadap Iran dengan mengatakan bahwa dia mengizinkan negosiasi untuk terus berlanjut," kata Lukman.

Lukman memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran 18.000-18.150 per dolar AS.

Trump sebelumnya menyatakan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran telah berakhir. Meski demikian, Trump mengaku belum bisa memastikan apakah konflik antara kedua negara benar-benar akan berakhir atau justru kembali meningkat menjadi perang skala penuh.

Trump menjawab bahwa kesepakatan tersebut telah berakhir. "Saya rasa semuanya sudah berakhir. Saya tidak ingin lagi berurusan dengan mereka. Bagi saya, semuanya sudah selesai," ujar Trump. 

Trump juga mengatakan AS akan terus merespons setiap serangan Iran dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

"Saya katakan kita menyerang mereka 20 banding 1. Setiap kali mereka menyerang kita, kita akan menyerang mereka 20 kali lipat, dan kita melakukannya tadi malam," katanya.

Sebelumnya, rupiah berada di bawah tekanan akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat, serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang mendorong penguatan dolar.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah