Moody's: Kebijakan Fiskal RI Kian Berisiko, Danantara Sumberdaya Jadi Sorotan
Moody's Ratings menaruh kekhawatiran terhadap tingginya ketidakpastian kebijakan dan risiko keberlanjutan fiskal Indonesia. Lembaga pemeringkat ini masih mempertahankan penilaiannya terhadap ekonomi Indonesia yang dibayangi risiko perlambatan.
Wakil Presiden Sovereign Risk Moody's Ratings, Martin Petch mengatakan kondisi ekonomi Indonesia saat ini justru bergeser ke arah lebih negatif dibandingkan saat Moody's menurunkan prospek outlook peringkat utang Indonesia menjadi negarif pada Februari lalu.
"Kami melihat munculnya tekanan baru, terutama setelah perang Iran. Subsidi meningkat secara signifikan dan hal itu memberikan tekanan terhadap kondisi fiskal pada tahun ini maupun tahun depan," ujar Petch seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (21/7).
Pandangan ini mencerminkan kekhawatiran investor yang masih terjadi pada agenda ekonomi Presiden Prabowo Subianto. Kekhawatiran tentang disiplin fiskal, independensi bank sentral, dan peran pemerintah yang semakin besar di sektor-sektor kunci telah membebani aset Indonesia tahun ini, memicu aksi jual yang membuat obligasi, mata uang, dan saham negara tersebut termasuk yang berkinerja terburuk di kawasan ini.
Moody's menilai, salah satu area yang dinilai berisiko adalah PT Danantara Sumberdaya Indonesia, sebuah lembaga baru yang dibentuk pada bulan Mei untuk mengawasi ekspor bahan baku. Menurut Petch, kurangnya kejelasan seputar mandatnya telah menambah kekhawatiran investor atas meningkatnya intervensi negara.
Moody's juga melihat basis pendapatan Indonesia yang sempit menjadi kendala yang semakin besar. Pemerintah dinilai memiliki sedikit ruang untuk membiayai program-program ambisius seperti program makan siang gratis.
“Saat ini, kami belum melihat banyak pergerakan dalam memperluas basis pendapatan,” katanya.
Namun, Moody's melihat ada beberapa hal positif. Indonesia telah mengurangi anggaran program makan siang di tengah meningkatnya biaya subsidi energi untuk menjaga defisit tetap dalam batas hukum. Pemerintah juga tengah meninjau anggaran untuk mengidentifikasi cara-cara tambahan untuk menghemat.
Sementara itu, S&P Global Ratings pada pekan lalu justru memberikan pandangan positif. Lembaga pemeringkat global ini mempertahankan peringkat investasi Indonesia dan prospek stabil bahkan setelah Moody's dan Fitch Ratings menurunkan penilaian mereka, menandakan kepercayaan bahwa kemampuan Indonesia terkait kewajiban utangnya tetap utuh.
Moody's melihat enam hingga 12 bulan ke depan akan menjadi momen sangat penting. Lembaga ini akan mengamati dengan cermat kecukupan cadangan devisa, kredibilitas kebijakan, kesehatan perusahaan milik negara, dan tata kelola di sekitar Danantara.
Petch mengatakan, ini pada akhirnya adalah tentang apakah kebijakan bergerak ke arah yang benar. Ekspansi belanja fiskal yang signifikan tanpa disertai reformasi pendapatan, menurut dia, akan menjadi sinyal yang sangat mengkhawatirkan bagi profil kredit Indonesia.