Mayoritas Mata Uang Asia Tertekan Dolar AS, Harga Minyak Tembus US$100 per Barel
Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini seiring melonjaknya harga minyak mentah dunia yang kembali menembus level psikologis US$100 per barel.
Rupiah menjadi salah satu mata uang yang berada di bawah tekanan. Dilansir dari Bloomberg rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.982 per dolar AS melemah 0,30% atau 45 poin, ini sejalan dengan pelemahan yang dialami sejumlah mata uang Asia lainnya.
Ringgit Malaysia tercatat melemah 0,13% ke level 4,0945 per dolar AS, sedangkan dong Vietnam turun 0,03% ke posisi 26.321 per dolar AS. Di kawasan Asia Tenggara, peso Filipina juga terkoreksi 0,11% menjadi 61,828 per dolar AS.
Sementara itu, pergerakan mata uang lainnya cenderung terbatas. Baht Thailand menguat tipis 0,03%ke level 33,8140 per dolar AS dibandingkan posisi pembukaan di 33,8230, sedangkan yuan China naik tipis 0,01% ke posisi 6,7752 per dolar AS.
Harga minyak Brent tercatat berada di level US$100,82 per barel pada pukul 08.08 waktu Singapura, setelah sebelumnya melonjak sekitar 7% pada sesi perdagangan sebelumnya. Kenaikan tersebut membuat harga Brent kembali berada di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir.
Minyak Brent bahkan mengalami kenaikan kontrak berjangka sekitar 14% sepanjang pekan ini. Sementara itu harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di level di US$ 92,50 per barel.
Lonjakan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah kelompok Houthi dilaporkan menyerang sebuah kapal tanker di Laut Merah. Serangan pertama kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah semakin memperbesar kekhawatiran akan gangguan pasokan energi di kawasan.