Rupiah Loyo Dekati 18.100 per Dolar AS Tertekan Tensi Gopolitik Timur Tengah
Nilai tukar rupiah melemah 0,08% ke level 18.088 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Rabu (29/7). Kurs rupiah tertekan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Melansir dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 18.097 per dolar AS melemah 0,09% atau 16 poin. Pantauan Katadata hingga pukul 09.30, rupiah kian melemah berada di level Rp 18.088 per dolar AS.
Analis Doo Financial Lukman Leong memperkirakan rupiah akan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akibat meningkatnya minat investor terhadap aset-aset aman di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS oleh harga minyak mentah yang kembali melonjak menyusul berita penyerangan oleh Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah," ujar Lukman kepada Katadata.
Menurutnya, kenaikan harga minyak berpotensi memperkuat dolar AS sekaligus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Kondisi tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko terganggunya pasokan energi global akibat konflik yang kembali memanas.
Selain faktor eksternal, Lukman menilai sentimen domestik juga masih belum sepenuhnya pulih setelah pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Ia mengatakan pasar masih mencermati proses transisi kepemimpinan bank sentral, termasuk penunjukan gubernur definitif yang dinilai akan menjadi faktor penting dalam menjaga kredibilitas kebijakan moneter dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Meski demikian, Lukman memperkirakan pelemahan rupiah masih berada dalam kisaran terbatas. Ia memproyeksikan rupiah bergerak di rentang Rp 18.000 hingga Rp 18.100 per dolar AS pada perdagangan hari ini.