Rupiah Berpotensi Menguat Usai The Fed Tahan Suku Bunga
Mata uang Garuda mengawali perdagangan menjelang akhir pekan ini dengan pergerakan yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini Kamis (30/7) setelah pengumuman AS yang mempertahankan suku bunga.
Melansir dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 18.075 per dolar AS melemah tipis 0,02% atau 3 poin. Pantauan Katadata hingga pukul 09.10 rupiah berbalik arah menguat berada di level Rp 18.070 per dolar AS naik 0,02% atau 3 poin.
Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup menguat tipis sebesar 10 poin setelah sebelumnya sempat melemah hingga 25 poin. Rupiah ditutup di level Rp 18.073 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di kisaran Rp 17.083 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini seiring melemahnya mata uang Negeri Paman Sam setelah hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dinilai tidak seagresif atau less hawkish dari ekspektasi pasar.
Sebagai informasi Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed)) mengumumkan untuk mempertahankan suku bunganya pada kisaran 3,5% hingga 3,75% pada Rabu waktu setempat (29/7).
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan koreksi dolar AS memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi cukup besar setelah hasil pertemuan FOMC dinilai less hawkish dari harapan," kata Lukman kepada Katadata.co.id, Kamis (30/7).
Menurutnya, pelaku pasar menilai hasil pertemuan FOMC tidak memberikan sinyal pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif sehingga menekan penguatan dolar AS. Kondisi tersebut menjadi sentimen positif bagi pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini.
Meski demikian, Lukman memperkirakan penguatan rupiah masih akan terbatas. Dari dalam negeri, sentimen pasar dinilai belum cukup kuat setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo yang masih menyisakan ketidakpastian terkait proses transisi kepemimpinan bank sentral.
Selain itu, eskalasi konflik di Timur Tengah juga masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai karena berpotensi kembali mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia dan meningkatkan permintaan terhadap aset-aset aman, termasuk dolar AS.
"Kondisi domestik yang masih belum kuat serta eskalasi di Timur Tengah bisa menahan penguatan rupiah," ujar Lukman.
Ia memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.100 per dolar AS pada perdagangan hari ini.