Rupiah Menguat, Pasar Cermati Harga Minyak dan Inflasi AS

Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menghitung pecahan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer, Melawai, Jakarta Selatan, Senin (27/7/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 46 poin atau 0,26 persen menjadi Rp18.009 dari sebelumnya sebelumnya di level Rp17.963 per dolar AS.
31/7/2026, 16.19 WIB

Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat pada perdagangan Jumat (31/7), di tengah pelemahan harga minyak mentah dunia serta meredanya kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat (AS).

Rupiah ditutup menguat 89 poin ke level Rp18.022 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat menguat hingga 90 poin. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp18.114 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan harga minyak mentah cenderung melemah setelah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mulai mereda. Meningkatnya arus pelayaran di Selat Hormuz menjadi penyeimbang di tengah masih tingginya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Arab Saudi tengah membentuk koalisi pertahanan maritim bersama 14 negara untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden. Langkah itu diambil setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi yang berpotensi mengganggu jalur ekspor minyak melalui Laut Merah.

Di sisi lain, Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya sesuai ekspektasi pasar. Ketua The Fed Kevin Warsh belum memberikan sinyal jelas mengenai arah kebijakan suku bunga berikutnya, meski menegaskan komitmen bank sentral AS menjaga target inflasi 2%.

Menurut Ibrahim, keputusan tersebut tidak diambil secara bulat. Tiga anggota Federal Open Market Committee (FOMC) bahkan menginginkan kenaikan suku bunga lebih lanjut karena inflasi dinilai masih cukup tinggi.

Sementara itu, data inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dirilis lebih rendah dari perkiraan turut meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi. 

Meski demikian, inflasi inti masih berada di atas target The Fed sehingga pasar masih memperhitungkan peluang setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari putusan Mahkamah Konstitusi yang mewajibkan anggaran Program Makan Bergizi Gratis dipisahkan dari alokasi wajib anggaran pendidikan sebesar 20% paling lambat pada APBN 2028. 

Kebijakan tersebut dinilai memperkuat tata kelola fiskal dan memberikan kepastian terhadap implementasi program prioritas pemerintah.

Selain itu, pasar juga menaruh perhatian pada prospek inflasi Juli 2026 yang diperkirakan kembali melandai. Ibrahim menyebut sejumlah ekonom memperkirakan inflasi bulanan turun menjadi sekitar 0,03% dari 0,44% pada Juni, sedangkan inflasi tahunan diproyeksikan turun menjadi sekitar 3,06% dari 3,34%.

Perlambatan inflasi terutama ditopang oleh penurunan harga pangan bergejolak, terutama cabai merah dan bawang bombai yang memasuki musim panen. Komponen volatile food diperkirakan mengalami deflasi 1,12% secara bulanan setelah pada Juni masih mencatat inflasi 0,14%.

Sementara itu, inflasi kelompok administered prices diproyeksikan melambat menjadi sekitar 0,10% setelah pada bulan sebelumnya mencapai 1,41%, seiring meredanya dampak penyesuaian harga BBM nonsubsidi.

Untuk perdagangan Senin (3/8), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp 18.020-Rp 18.070 per dolar AS. Sementara dalam sepekan ke depan, rupiah diproyeksikan bergerak di rentang Rp 17.920-Rp 18.300 per dolar AS. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah