Rupiah Diproyeksi Menguat, Pasar Cermati Inflasi AS dan Konflik Timteng
Nilai tukar rupiah melemah 0,04% ke level 17.885 per dolar AS pada perdagangan pagi ini. Penguatan rupiah didorong oleh data inflasi AS yang menunjukkan tekanan harga kembali termoderasi serta sentimen positif dari hasil tinjauan indeks MSCI.
Melansir dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.876 per dolar AS menguat tipis 0,01% atau 1 poin. Pantauan Katadata hingga pukul 09.25 rupiah melemah berada di level Rp 17.8815 per dolar AS turun 0,04%
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan rupiah berpeluang menguat setelah data inflasi AS menunjukkan perlambatan. Berdasarkan data terbaru, inflasi konsumen AS pada Juli 2026 mencapai 3,4% secara tahunan, turun dari 3,5% pada Juni. Sementara inflasi inti berada di 2,5%, turun dari 2,6% pada bulan sebelumnya.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS menyusul data yang menunjukkan inflasi di AS yang kembali termoderasi," ujar Lukman.
Menurut dia, perlambatan inflasi AS dapat mengurangi tekanan terhadap dolar karena pasar kembali mempertimbangkan prospek kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).
Selain faktor eksternal, sentimen positif juga datang dari dalam negeri setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mempertahankan kebijakan pembekuan indeks Indonesia.
Lukman menilai keputusan tersebut menjadi sentimen positif karena tidak terjadi penghapusan besar-besaran seperti pada tinjauan sebelumnya. MSCI memang telah menjadwalkan pengumuman hasil August 2026 Index Review pada 12 Agustus 2026.
Meski demikian, penguatan rupiah diperkirakan tidak akan berlangsung terlalu agresif. Ketidakpastian terkait prospek perdamaian di Timur Tengah masih menjadi faktor yang dapat membatasi penguatan mata uang Garuda.
"Namun penguatan diperkirakan terbatas oleh ketidakpastian seputar prospek perdamaian di Timur Tengah," kata Lukman.
Lukman pun memperkirakan rupiah pada perdagangan hari ini bergerak dalam rentang 17.800 hingga 17.900 per dolar AS.