Rupiah Loyo Imbas Ketegangan AS-Iran dan Bengkaknya Defisit Transaksi Berjalan

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Ilustrasi.
Editor: Agustiyanti
24/8/2026, 15.48 WIB

Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,15% ke level 17.721 pada perdagangan Senin (24/8). Rupiah tertekan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta kekhawatiran terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia.

Mengutip Bloomberg, kurs rupiah dibuka menguat 4 poin dibandingkan perdagangan kemarin di level 17.690 per dolar AS. Namun, bergerak melemah hingga penutupan.  

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipicu aksi AS yang menyatakan bakal mengumumkan rangkaian sanksi ekonomi pada Senin (24/8). Mereka menyebut, sanksi yang akan diberikan akan menjadi yang paling keras. 

Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam artikel opini untuk Financial Times menyebut, “D-Day ekonomi” bagi Iran akan segera tiba. Bessent diperkirakan memaparkan sanksi baru ini dalam konferensi pers pada Senin pukul 14.00 waktu setempat atau 18.00 GMT. 

Rencana ini muncul di tengah kebuntuan yang masih berlangsung di Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump dan sejumlah pejabat pemerintahannya sebelumnya telah memperingatkan akan melakukan perang ekonomi terhadap Iran. 

Iran pun mengecam rencana sanksi baru tersebut. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Mohsen Rezaee bahkan mengancam tidak akan ada minyak Iran yang diekspor melalui Selat Hormuz maupun wilayah Teluk Persia apabila tekanan ekonomi terus berlanjut. Menurut Ibrahim, perkembangan tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.

Dari Amerika Serikat, aktivitas bisnis sektor jasa menunjukkan kinerja yang kuat. Indeks PMI Jasa S&P Global AS pada Agustus mencapai 56,8, naik dari 54,6 pada bulan sebelumnya sekaligus menjadi level tertinggi sejak Desember 2024. Angka tersebut juga melampaui perkiraan 54.

Namun, PMI manufaktur justru melambat dari 53,9 menjadi 53,2 atau menjadi level terendah dalam lima bulan.

Kondisi ini membuat pasar kembali mencermati arah kebijakan The Federal Reserve. Kekhawatiran terhadap inflasi yang dipicu kenaikan harga energi akibat ketegangan Timur Tengah berpotensi membuat ruang penurunan suku bunga Fed semakin terbatas. 

Dari dalam negeri, sentimen negatif juga datang dari pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia. Pada kuartal II 2026, defisit transaksi berjalan mencapai US$12,5 miliar atau 3,3% terhadap PDB, meningkat tajam dibandingkan defisit kuartal I sebesar US$3,6 miliar atau 1% terhadap PDB. 

Pelebaran defisit tersebut antara lain dipengaruhi kenaikan impor minyak seiring tingginya harga minyak dunia. Kondisi ini menjadi perhatian karena kenaikan harga energi global dapat kembali meningkatkan kebutuhan devisa Indonesia.

Meski demikian, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan masih relatif terjaga. Pada kuartal II 2026, NPI mencatat defisit US$ 900 juta, jauh lebih rendah dibandingkan defisit US$9,1 miliar pada kuartal sebelumnya.

Perbaikan tersebut ditopang transaksi modal dan finansial yang berbalik mencatat surplus US$ 12 miliar, setelah sebelumnya mengalami defisit US$ 4,8 miliar.

Posisi cadangan devisa juga masih kuat. Pada akhir Juni 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat US$ 145,6 miliar, setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah