BI Ramal Ekonomi Negara Berkembang Cuma Tumbuh 3,9%, RI Masih Aman?
Bank Indonesia (BI) memperkirakan, perekonomian negara berkembang atau emerging market masih menghadapi tekanan dan hanya tumbuh 3,9% pada 2026. Namun, ekonomi Indonesia diperkirakan mampu tumbuh lebih baik.
BI memperkirakan ekonomi RI sepanjang 2026 tumbuh di kisaran 4,9%-5,7% dan meningkat menjadi 5,2%-6% pada 2027.
Pejabat sementara (Pjs) Gubernur BI, Destry Damayanti mengatakan, kondisi ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian tinggi. Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan hanya mencapai 3%, dengan pertumbuhan negara maju sebesar 1,7% dan emerging market 3,9%.
“Prospek pertumbuhan ekonomi dunia 2026 akan tetap lemah sebesar 3%. Penurunan terjadi baik di negara emerging market yang melambat menjadi sebesar 3,9% maupun negara maju yang hanya tumbuh diperkirakan sebesar 1,7%,” kata Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9).
Destry menjelaskan, tekanan terhadap ekonomi negara berkembang datang dari berbagai arah. Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas pada awal Juli 2026 dan mengancam kesepakatan sementara yang sebelumnya dicapai pada pertengahan Juni 2026.
Di saat yang sama, harga minyak mentah dunia masih tinggi. BI mencatat harga minyak berada di sekitar US$ 89,71 per barel pada 28 Agustus 2026.
Destry menuturkan, kondisi itu ikut menjaga tekanan inflasi global tetap tinggi, sekitar 4,5%. Sementara indeks dolar AS masih menguat seiring tingginya suku bunga AS, arus modal yang kembali ke AS, serta meningkatnya risiko global.
Menurut Destry, kondisi tersebut memberikan tekanan pelemahan terhadap hampir seluruh mata uang dunia, dengan tekanan yang lebih besar dirasakan negara berkembang, termasuk Indonesia.
Namun, menurut dia ekonomi Indonesia sejauh ini masih mampu mencatat pertumbuhan yang relatif kuat. Pada kuartal II-2026, ekonomi RI tumbuh 5,29%, meski melambat dari pertumbuhan kuartal I-2026 sebesar 5,6%.
Destry mengatakan, pertumbuhan tersebut banyak ditopang oleh stimulus fiskal pemerintah yang berdampak pada peningkatan konsumsi pemerintah dan investasi.
Konsumsi pemerintah juga tercatat tumbuh tinggi, antara lain karena peningkatan belanja pegawai, termasuk pembayaran gaji ke-13, serta belanja barang dan jasa yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Perkembangan ekonomi domestik pada kuartal III-2026 disebutnya masih menunjukkan kondisi yang baik. BI mencatat indeks ekspektasi penghasilan masyarakat pada Juli 2026 tetap terjaga di seluruh kelompok penghasilan.
Namun, BI mengingatkan agar momentum stimulus fiskal dapat dimanfaatkan untuk mendorong sumber pertumbuhan lain, terutama investasi swasta. “Investasi swasta juga perlu terus didorong,” kata Destry.
Salah satu sinyal positif datang dari Purchasing Managers Index (PMI) yang kembali meningkat pada Juli 2026 setelah sempat mengalami penurunan. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh pesanan ekspor baru.
Daya tahan Indonesia juga ditopang kondisi eksternal yang disebut masih relatif kuat. Neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif pada Januari-Juni 2026 mencatat surplus US$ 3,5 miliar.
Di sisi lain, investasi portofolio pada kuartal II-2026 tercatat surplus US$ 12 miliar. Posisi cadangan devisa pada akhir Juli 2026 juga mencapai US$ 145,3 miliar, setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor.
Destry menuturkan, tekanan terhadap rupiah, arus modal, harga energi, dan inflasi tetap perlu diwaspadai. Terlebih, BI mencatat inflasi pangan atau volatile food pada Agustus 2026 meningkat menjadi 4,06%, dari 3,19% pada bulan sebelumnya.
Karena itu, menurut dia, BI akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan.