RI Terjebak Middle Income Trap, Krisis Bisa Jadi Jalan Keluar

ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/rwa.
Ilustrasi.
Editor: Agustiyanti
9/9/2026, 17.04 WIB

Mantan Chief Economist Bank Dunia Indermit Gill menilai, periode krisis dapat menjadi momentum penting bagi negara berpendapatan menengah untuk keluar dari middle income trap atau jebakan pendapatan menengah. 

Ia mengatakan pada periode saat ini diperlukan gagasan baru mengenai pertumbuhan ekonomi, salah satunya melalui konsep creative destruction atau penghancuran kreatif bagi negara berpendapatan menengah. 

“Konsep tersebut memungkinkan struktur ekonomi lama yang tidak lagi efisien untuk digantikan oleh struktur ekonomi baru yang lebih produktif,” kata Gill dalam acara Bappenas – ADBI Joint Conference on Asian Countries Long Term Development Visions Rabu (9/9). 

Menurut Gill, proses tersebut bukan semata-mata persoalan ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan aspek sosial dan politik. Pasalnya, perubahan struktural dapat berhadapan dengan kepentingan kelompok yang selama ini memperoleh keuntungan dari struktur ekonomi yang sudah ada.

“Pada dasarnya, negara-negara ini harus mendisiplinkan perusahaan-perusahaan besar, mendisiplinkan kelompok elite, dan sebagainya untuk memastikan transformasi struktural benar-benar terjadi,” kata dia. 

Gill menjelaskan, kelompok yang selama ini mendapatkan keuntungan dari struktur ekonomi yang ada cenderung tidak menginginkan perubahan. Karena itu, pemerintah membutuhkan mekanisme yang mampu mendorong perubahan struktural, termasuk menghancurkan struktur lama dan membangun struktur ekonomi yang baru.

“Waktu terbaik untuk melakukan hal tersebut adalah ketika terjadi krisis. Sebab, dalam kondisi krisis, kelompok elite yang sudah mengakar, perusahaan-perusahaan besar, dan pihak-pihak yang selama ini memperoleh keuntungan dari situasi yang ada cenderung berada dalam posisi yang lebih lemah,” ujarnya.

Kondisi Negara Berpendapatan Menengah Saat Ini Lebih Sulit

Gill mengatakan negara berpendapatan menengah saat ini menghadapi kondisi yang jauh lebih sulit dibandingkan dua dekade lalu. Situasi kini tidak semudah periode ketika negara-negara seperti Singapura dan Korea Selatan berhasil bertransisi dari negara berpendapatan menengah menjadi negara berpendapatan tinggi.

“Menjadi negara berpendapatan menengah saat ini jauh lebih sulit dibandingkan 20 tahun lalu,” katanya.

Menurut Gill, salah satu persoalan utama negara berpendapatan menengah adalah rendahnya efisiensi dalam memanfaatkan berbagai sumber daya ekonomi. Negara-negara tersebut cenderung menggunakan modal, talenta, energi, dan sumber daya lainnya dengan tingkat efisiensi yang lebih rendah dibandingkan negara berpendapatan tinggi. 

“Dengan kata lain, produktivitas mereka masih rendah,” ujarnya.

Karena itu, Gill menilai jalan keluar dari middle-income trap pada dasarnya adalah meningkatkan efisiensi dan produktivitas ekonomi. Namun, upaya tersebut tidak cukup hanya dilakukan melalui kebijakan ekonomi konvensional saja.

Untuk itu menurut Gill, perubahan struktur ekonomi saat waktu krisis saat ini menjadi periode yang sangat penting bagi negara berpendapatan menengah.  

Pemerintah, menurut dia, tidak seharusnya hanya berfokus pada bagaimana mengakhiri krisis dengan cepat dan membatasi dampaknya. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan bahwa perekonomian dapat keluar dari krisis dengan struktur yang lebih produktif dan efisien.

“Bagi negara berpendapatan menengah, krisis merupakan periode yang sangat penting. Bukan hanya karena kita ingin menjaga agar krisis berlangsung singkat dan tidak terlalu dalam, tetapi juga karena kita ingin keluar dari krisis dengan struktur ekonomi yang baru,” kata Gill.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah