Rupiah Ditutup Melemah 57 Poin ke Rp 17.753 per Dolar AS

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/agr *** Local Caption ***
Petugas menghitung mata uang rupiah (Rp) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (7/9/2026).
17/9/2026, 15.49 WIB

Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis (17/9). Pasar merespons positif kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed yang membuat permintaan terhadap dolar AS meningkat.

Pada perdagangan Kamis (17/9), nilai tukar rupiah turun 57 poin ke level Rp 17.753 per dolar AS dari penutupan hari sebelumnya di Rp 17.696 per dolar AS. Rupiah sempat melemah hingga 60 poin ke level Rp17.753 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar merespons positif perkembangan pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan kelompok Houthi yang dinilai membantu meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di Timur Tengah.

AS dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran mengadakan dialog selama akhir pekan. Dalam pertemuan tersebut, Houthi kembali menegaskan komitmen terhadap gencatan senjata 2025 dan menyatakan tidak akan menyerang kapal-kapal AS maupun Israel.

Presiden AS Donald Trump pada Rabu (16/9) malam juga kembali menyatakan bahwa Iran tengah mengupayakan kesepakatan damai dan AS diperkirakan mendekati akhir perang. Namun, Washington dan Teheran masih berselisih mengenai Selat Hormuz. Aktivitas pelayaran melalui jalur strategis tersebut masih jauh di bawah tingkat sebelum perang.

Dari sisi kebijakan moneter AS, Federal Open Market Committee (FOMC) secara bulat menaikkan suku bunga acuan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4% pada Rabu (16/9). Kenaikan tersebut menjadi kenaikan suku bunga pertama bank sentral AS sejak Juli 2023.

Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menegaskan kekhawatirannya terhadap inflasi. Dia menyebut masih terlalu banyak kategori produk dan jasa yang mencatat kenaikan harga tahunan di atas 3% dalam periode enam dan 12 bulan.

Warsh juga mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang. Di sisi lain, Trump pada hari yang sama mendesak The Fed memangkas suku bunga menjadi 1% atau lebih rendah.

Peluang Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Terbatas

Sementara dari dalam negeri, ruang Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikkan suku bunga dinilai semakin terbatas menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22–23 September 2026.

BI sebelumnya telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin. Langkah tersebut dinilai sebagai kebijakan pre-emptive sehingga BI tidak perlu terburu-buru melakukan pengetatan tambahan.

Fundamental makroekonomi domestik juga dinilai menjadi penopang bagi BI untuk mempertahankan kebijakan suku bunga. Nilai tukar rupiah berangsur stabil di kisaran Rp 17.300–Rp 17.800 per dolar AS, sementara aliran modal asing kembali masuk ke pasar domestik.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara sebelumnya menegaskan komitmen pemerintah menjaga keuangan negara dan memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjadi instrumen untuk mendorong pertumbuhan sekaligus menjaga stabilitas perekonomian.

Pengelolaan keuangan negara tersebut diarahkan untuk mendukung aktivitas ekonomi dan memberikan manfaat bagi masyarakat melalui konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, serta kegiatan ekspor.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah