Rupiah Loyo ke 17.840 per Dolar AS, BI Sebut Masih Sejalan Negara Kawasan

Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi. BI menilai yekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik.
Editor: Agustiyanti
21/9/2026, 16.34 WIB

Nilai tukar rupiah melemah 0,50% atau 89 poin ke level 17.847 per dolar AS menjelang penutupan perdagangan Senin (21/9). Bank Indonesia menyebut tekanan rupiah masih dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi. 

Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 0,19% atau 33 poin di level 17.790 per dolar AS. Namun, terus begerak loyo ke level 17.840 per dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, pelemahan rupiah masih dipengaruhi kekhawatiran terhadap tensi geopolitik di Timur Tengah. Kekhawatiran ini mendorong harga minyak tetap tinggi di atas US$ 100 per barel, meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal

“Namun secara umum, pergerakan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan penguatan secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,37%,” kata Erwin dalam keterangannya.

Erwin mengatakan, tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik. Namun, ia menekankan, BI akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya. Upaya ini dilakukan melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan memperkuat strategi operasi moneter yang pro-market.

BI juga memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif.

“Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” ujarnya. 

Saat ini, menurut dia, posisi cadangan devisa Indonesia juga masih meningkat. Hingga akhir Agustus 2026, posisi cadangan devisa mencapai US$ 146,5 miliar.

BI juga terus melakukan koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar. Langkah ini, antara lain ditujukan untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan.  Selain itu, BI mendorong diversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah