BPS Ungkap Penyebab Karet hingga Teh RI Kehilangan Pangsa Pasar Global

ANTARA FOTO/Novrian Arbi
Nyai Sunarsih memetik daun teh menggunakan alat pemotong di Perkebunan Teh Malabar, Pangalengan, Kabupaten Bandung.
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
7/10/2026, 17.40 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap pangsa sejumlah komoditas ekspor Indonesia di pasar global merosot tajam dibandingkan hampir satu abad ke belakang. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti memaparkan, karet, gula, hingga teh yang pernah menjadi andalan ekspor Indonesia kini hanya menguasai sebagian kecil pangsa pasar dunia.

Amalia menuturkan, kondisi tersebut menjadi pelajaran bahwa perekonomian yang hanya mengandalkan komoditas tanpa pengolahan dan sentuhan teknologi sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

“Artinya perekonomian yang berbasis komoditas tanpa sentuhan teknologi, tanpa diolah menjadi produk hilir yang bernilai tambah tinggi, tidak akan sustain," kata Amalia dalam agenda Mata Lokal Fest 2026, di Jakarta, Rabu (7/10).

Ia mencatat,  Indonesia mampu memasok sekitar 37% kebutuhan pasar ekspor karet global pada 1927. Namun, kini pangsa ekspor karet Indonesia di pasar dunia hanya tersisa 2,4%.

Hal serupa terjadi pada komoditas gula. Pada 1927, Indonesia mampu memasok sekitar 10% pasar gula dunia, tetapi kini hanya tersisa sekitar 0,75%.

Pangsa ekspor teh Indonesia pada 1927 juga menyentuh 16% pasar global, tetapi kini telah merosot menjadi 0,67%.

Amalia menegaskan, penurunan ini menunjukkan bahwa keunggulan sebagai negara penghasil komoditas tidak otomatis menjamin daya saing Indonesia di pasar global.

Karena itu, ia menilai, Indonesia perlu mengubah strategi dengan mengolah sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi. Menurut Amalia, hilirisasi menjadi salah satu cara untuk menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar sekaligus menjaga keberlanjutan pertumbuhan.

“Nah, ini saatnya kita sekarang bagaimana mengolah sumber daya alam yang dimiliki menjadi produk bernilai tambah tinggi dengan sentuhan teknologi,” katanya.

Dengan melakukan pengolahan terhadap komoditas tersebut, menurut dia, Indonesia dapat meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan.

Sebagai contoh, menurut dia, komoditas kelapa sawit dapat diproduksi menjadi  minyak goreng sehingga nilai tambahnya meningkat sekitar empat hingga enam kali lipat.

Biji kopi setelah diolah menjadi bubuk kopi juga meningkatkan nilai tambahnya sekitar dua hingga tiga kali lipat. 

"Kelapa, jangan jual kelapa butiran, tapi ketika kelapa diolah menjadi minyak kelapa, nilai tambahnya naik sampai 2 sampai 5 kali lipat," kata Amalia.

Amalia menilai, penciptaan nilai tambah tidak hanya bergantung pada proses produksi, tetapi juga teknologi, pengemasan, dan kemampuan membangun merek yang mampu menembus pasar global.

Ia mencontohkan Singapura yang mampu membangun merek teh TWG meski tidak memiliki perkebunan teh. Begitu pula Maroko yang memiliki merek kopi Bacha Coffee meskipun biji kopinya berasal dari negara lain.

“Nilai tambah yang diciptakan adalah branding, kemasan, teknologi, dan lain-lain,” katanya.

Amalia menilai Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk mengembangkan produk bernilai tambah dan membangun merek global karena memiliki kekayaan sumber daya alam.

Dia menyebut kopi sebagai salah satu komoditas yang memiliki peluang besar. Sejumlah kopi Indonesia yang telah dikenal di pasar global antara lain kopi Gayo, Kintamani, Toraja, dan kopi Jawa.

BPS mencatat Indonesia memiliki sekitar 461.991 kedai kopi, sementara ekspor kopi Indonesia pada semester I-2026 mencapai sekitar 208.000 ton dengan nilai sekitar US$ 1 miliar.

Menurut Amalia, potensi tersebut perlu terus dikembangkan agar Indonesia tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah, tetapi mampu menguasai bagian yang lebih besar dari rantai nilai global.

“Jadi saatnya Indonesia naik kelas lewat hilirisasi, lewat nilai tambah,” kata Amalia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman