Ekonom: Peluang BI Pangkas Suku Bunga Makin Kecil, BI Rate Bisa ke 6%

Katadata/Fauza Syahputra
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, saat menyampaikan paparan pada acara Katadata Policy Dialogue, Ekonomi Tumbuh 5,04%: Bagaimana Prospek 2026? di Jakarta, Kamis (13/11/2025).
Editor: Ahmad Islamy
22/10/2026, 14.08 WIB

Peluang Bank Indonesia (BI) untuk memangkas suku bunga acuan dinilai semakin kecil. Penilaian itu muncul di tengah meningkatnya tekanan eksternal dan kecenderungan suku bunga global bertahan tinggi dalam waktu lebih lama.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan selama dua bulan terakhir mencerminkan masih kuatnya ketidakpastian yang memengaruhi arah kebijakan moneter domestik.

“Probability (kemungkinan) untuk memangkas itu relatif cukup kecil. Jadi, potensi ataupun probability ke depannya adalah pertama menahan suku bunga, atau dengan menaikkan suku bunganya,” ujar Josua dalam acara Wealth Wisdom 2026 Permata Bank di Jakarta, Kamis (22/10).

Dia juga menyoroti arah kebijakan moneter global yang cenderung tetap ketat. Ia menyebut situasi ini sebagai higher for longer yang menunjukkan bahwa suku bunga tinggi berpotensi bertahan lebih lama, bahkan kenaikan suku bunga yang terjadi pada tahun ini masih berpeluang berlanjut hingga awal tahun depan.

“Sehingga kami melihat bahwa kecenderungan ataupun probability untuk pengetatan kebijakan moneter itu masih tetap terbuka ke depannya,” katanya.

Lebih lanjut, Josua menyoroti stabilitas nilai tukar rupiah dan biaya pendanaan atau cost of fund sebagai faktor yang perlu dicermati dalam menentukan arah suku bunga ke depan. Menurutnya, tekanan pada kedua aspek tersebut dapat memengaruhi keputusan BI dalam merespons perkembangan ekonomi domestik maupun global. Ia bahkan memperkirakan BI rate berpotensi naik lagi hingga akhir 2027.

“Stabilitas nilai tukar dan juga cost of fund ataupun cost of pembiayaan ini masih menjadi faktor yang perlu kita cermati, dan di mana kami memperkirakan BI rate hingga akhir tahun 2027 itu di kisaran 6%,” ujar Josua.

Kendati demikian, dia menilai nilai fundamental rupiah masih berada dalam kisaran Rp 17.800–Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Di sisi lain, ia mengakui proyeksi pertumbuhan ekonomi masih berada di bawah target pemerintah.

Kendati demikian, peluang akselerasi pertumbuhan ekonomi masih terbuka, sehingga prospek perekonomian domestik tetap perlu dilihat dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan perkembangan ke depan.

Sebagai informasi, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI rate sebesar 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20–21 Oktober 2026. Namun, BI menaikkan suku bunga deposit facility menjadi 5% dari level sebelumnya. Sementara itu, suku bunga lending facility dipertahankan sebesar 6,5%.

Gubernur BI Destry Damayanti menuturkan, keputusan tersebut mempertimbangkan meningkatnya tekanan eksternal, terutama akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta arah kebijakan moneter AS yang diperkirakan tetap ketat dalam waktu lebih lama.

Dalam konferensi pers hasil RDG di kantor BI, Jakarta, Rabu (21/10/2026), Destry juga menyampaikan penguatan kebijakan insentif untuk instrumen domestic non-deliverable forward (DNDF) lindung nilai kepada BI.

Kebijakan tersebut ditujukan untuk menarik aliran masuk modal asing, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah