Menkeu Janjikan Penerbitan SBN Tetap Sesuai Target APBN 2026
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara menjanjikan penerbitan surat berharga negara (SBN) sesuai dengan target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Bendahara negara itu menegaskan, penerbitan SBN akan sesuai target di tengah defisit yang diproyeksikan berada di kisaran 2,85% dari produk domestik bruto (PDB).
“Sudah kami umumkan, target defisit kita di 2,85 persen dari PDB. Itu sudah ada angka penerbitannya kan. Kami bekerja dengan itu,” kata Suahasil kepada awak media di hotel Fairmont, Jakarta, Senin (26/10).
Adapun, pemerintah menargetkan defisit APBN 2026 sebesar 2,85% terhadap PDB. Hingga 30 September 2026, tercatat realisasi surat berharga negara senilai Rp 497,5 triliun atau setara 62,6% dari total target Rp 799,5 triliun dalam APBN 2026.
Sebelumnya, Suahasil menyatakan bahwa Kementerian Keuangan tetap memantau perkembangan pasar keuangan sebelum menentukan waktu penerbitan Surat Berharga Negara.
Menurutnya, penerbitan SBN harus dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi pasar keuangan dan perekonomian global. Kedua faktor tersebut dapat memengaruhi pergerakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah, termasuk SBN bertenor 10 tahun.
"Kalau pasar lagi bagus, kami terbitkan. Kalau lagi kurang bagus pasarnya, kita agak lakukan penyesuaian untuk melihat pasar," kata Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTA edisi Oktober, Jumat (9/10).
Rencana penerbitan SBN menjadi sorotan di tengah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah. Pemerintah tetap membutuhkan penerbitan SBN untuk membiayai belanja negara dan menutup defisit APBN. Namun, kenaikan yield juga berpotensi menambah beban biaya utang pemerintah ke depan.
Dalam APBN 2026, pemerintah menetapkan asumsi yield SBN tenor 10 tahun sebesar 6,9%. Sementara itu, Kementerian Keuangan mencatat rata-rata yield SBN tenor 10 tahun hingga pertengahan September 2026 sebesar 6,8%, masih di bawah asumsi APBN.