Airlangga soal Ekonomi RI Tumbuh 5,47%: Fundamental Kuat, Arahan Presiden Tepat
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga 2026 tumbuh mencapai 5,47% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini mencapai 5,4%, sesuai dengan target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, kinerja pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tahun ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah berada pada jalur yang benar. Ia juga menyebut fundamental ekonomi kuat dan investasi terus meningkat.
“Untuk kuartal keempat pemerintah tetap menargetkan secara year to date 5,4 jadi kira-kira targetnya hampir sama dengan apa yang dicapai di Q3,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers, Kamis (5/11).
Ia mengatakan pemerintah akan mempertahankan stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat. Nilai stimulus yang didorong pemerintah mencapai sekitar Rp 31 triliun.
Selain stimulus untuk masyarakat, pemerintah juga akan melanjutkan belanja negara, terutama untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Menurut Airlangga, belanja kedua program tersebut diharapkan tetap menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun.
“Ini juga akan terus dilanjutkan sehingga dibandingkan tahun lalu mungkin ini kita tetap bisa menjadi pendorong untuk pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Strategi tersebut melanjutkan tren pada kuartal III 2026, ketika konsumsi pemerintah menjadi komponen pengeluaran dengan pertumbuhan tertinggi dibandingkan komponen lainnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal II 2026 sebesar 5,29% maupun periode yang sama tahun lalu sebesar 5,04%.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah tumbuh 8,95% yoy pada kuartal III 2026. Meski kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) hanya sebesar 7,28%, pertumbuhan komponen ini menjadi yang tertinggi dibandingkan komponen pengeluaran lainnya.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga yang menjadi penyumbang terbesar PDB dengan kontribusi 51,97% tumbuh 5,04% yoy. Adapun pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi berkontribusi 30,81% terhadap PDB, dengan pertumbuhan 6,06% yoy.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Edy Mahmud mengatakan seluruh komponen pengeluaran mengalami pertumbuhan positif pada kuartal III 2026.
“Dari sisi pengeluaran pada kuartal III tahun 2026 secara year on year, seluruh komponen mengalami pertumbuhan positif,” ujar Edy.
Selain konsumsi dan belanja pemerintah, Airlangga mengatakan pemerintah akan terus mendorong investasi hingga akhir tahun. Pemerintah juga menyiapkan langkah untuk memperkuat kinerja ekspor melalui penyisiran regulasi yang dinilai menghambat kegiatan ekspor.
“Dan yang ketiga dari segi investasi, di mana investasi juga diharapkan sampai dengan akhir tahun angkanya bisa dicapai,” kata Airlangga.
Ia mengatakan pemerintah tengah menyiapkan kebijakan untuk mempermudah kegiatan ekspor, termasuk kebijakan kemudahan impor untuk tujuan ekspor.
“Arahan Bapak Presiden adalah mempermudah ekspor dan kami sedang mempersiapkan kebijakan kemudahan impor untuk tujuan ekspor,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian global, pemerintah juga mencermati perkembangan harga energi. Airlangga mengatakan harga pembelian energi Indonesia masih berada di bawah US$100 per barel, yakni sekitar US$93 per barel. Dengan kondisi tersebut, pemerintah memperkirakan gejolak harga energi hingga akhir tahun masih dapat diserap oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).