Foto: Senjakala Pelabuhan Sunda Kelapa

Adi Maulana Ibrahim|Katadata
28/7/2020, 12.05 WIB

Menjadi salah satu pelabuhan tertua di nusantara, Sunda Kelapa memiliki sejarah krusial yang erat berkait dengan cikal bakal bersalinnya kota Jakarta.

Sejarah mencatat, semula Pelabuhan Sunda Kelapa dikenal sebagai Sundapura yang tak lain merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-5 Masehi. Namun kemudian berpindah tangan menjadi milik Kerajaan Sunda pada abad ke-12 silam.

Sempat berkali-kali berganti nama, hingga akhirnya SK Gubernur DKI Jakarta tertanggal 6 Maret 1974, menetapkan bahwa Sunda Kelapa secara resmi diketuk palu sebagai nama pelabuhan yang terletak di Penjaringan, Jakarta Utara tersebut.

Pelabuhan Sunda Kelapa lambat laun tidak terlihat sesibuk saat masa jayanya. Kini, pelabuhan tersebut dikelola oleh PT Pelindo II dan tidak mengantongi sertifikasi International Ship and Port Security karena sifat pelayanan jasanya hanya untuk melayani kapal antar pulau di dalam negeri.

Namun demikian, dari sisi ekonomi pelabuhan ini masih cukup strategis, mengingat berdekatan dengan pusat-pusat perdagangan di Jakarta seperti Glodok, Pasar Pagi, Mangga Dua, dan lain-lainnya. Sejumlah barang yang diangkut dari pelabuhan ini selain barang kelontong adalah sembako dan tekstil.

Di sisi lain, Pelabuhan Sunda Kelapa telah menjelma sebagai kawasan wisata yang memiliki nilai historis tinggi. Perannya di masa silam membuatnya patut dialihfungsikan menjadi situs sejarah yang perlu dirawat kelestariannya.

Sejumlah bangunan bergaya art deco peninggalan Belanda yang ada di sekitar wilayah pelabuhan saat ini telah disulap menjadi Museum. Beberapa diantaranya seperti Museum Bahari, Museum Fatahillah, Museum Wayang dan Museum Bank Mandiri.