Foto: Kisah Buruh Tani di Ibu Kota Menempati Lahan Tidur

Muhammad Zaenuddin|Katadata
23/8/2021, 08.25 WIB

Hingar bingar suara paku bumi terus menghentak. Beberapa pekerja menggunakan helm proyek bergelayut saat membangun Jakarta International Stadium (JIS), Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat, (20/8/2021). Tak ada yang istimewa selain kemegahan stadion yang dinantikan banyak orang, terutama pendukung tim kebanggan Ibu Kota Persija Jakarta. 

Tak jauh dari proyek bangunan super megah itu, terhampar sawah nan hijau. Rupanya ada lahan pertanian yang disewa buruh tani bersebelahan dengan proyek tersebut. Dulunya itu lahan tidur yang dimanfaatkan petani, yang kebanyakan warga asal Indramayu, Jawa Barat, untuk berkebun.

 “Sebelum ke sini, saya bertani di kampung. Berhubung ibu dan bapak sudah lebih awal bertani di sini, kami ikut menanam sejak lima tahun lalu” kata Yuna, petani yang melanjutkan perjalanan hidup kedua orang tuanya sebagai petani kota, saat ditemui di rumah gubuknya.

Menjadi buruh tani di Ibu Kota bukanlah hal yang mudah. Lahan tidur seperti ini kian menghantui para petani. Perubahan peruntukan dan diambilnya lahan menjadi masalah musiman.

Selain Yuna, di lahan itu ada belasan petani lain yang menyewa tiap petak sawah dengan harga Rp 500.000 per bulan. "Makin luas petak yang kami sewa maka makin tinggi juga biayanya," kata Kadram.

Beberapa sayuran yang ditanam para petani di sini seperti kangkung, sawi, bayam, kemangi, dan pare. Mereka menjual hasil panennya ke pasar terdekat, Pasar Bambu Kuning, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Para petani yang kepemilikan lahannya belum jelas itu harus memutar otak untuk tetap bertahan. Tak jarang sebagian dari mereka berpindah-pindah, bahkan kembali ke kampung halaman karena sulitnya mencari lahan kosong di Jakarta untuk digarap.

Kadram, 45, misalnya memilih kembali bertani dekat proyek JIS lagi. Ia sempat pulang ke kampung karena penghasilan yang makin hari makin tak menentu. Namun peruntungan di kampung hasilnya juga nihil.