Penutupan Selat Hormuz imbas dari konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat-Israel mengakibatkan terganggunya rantai pasok bahan bakar minyak (BBM).

Hal tersebut menimbulkan lonjakan harga minyak dan meningkatnya beban subsidi sehingga menjadi tantangan yang harus dihadapi banyak negara, termasuk Indonesia.

Seiring dengan rentannya persediaan bahan bakar minyak, kendaraan listrik hadir sebagai alat transportasi alternatif dan menjadi bagian penting dari strategi dalam transisi energi.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian hingga tahun 2025 populasi kendaraan listrik di Indonesia angkanya mencapai 333.563 unit. Dari jumlah tersebut sepeda motor mendominasi jumlahnya yakni 225.647 unit dan mobil roda empat sebanyak 106.137 unit.

Dalam rangka mendukung ekosistem kendaraan listrik, PLN juga telah mengoperasikan 4.272 mesin Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di 2.811 lokasi, serta menyediakan lebih dari 57 ribu layanan home charging di penjuru tanah air.

Salah satu SPKLU tersebut berada di Kantor PLN kawasan Gambir, Jakarta Pusat. Berdasarkan pantauan Katadata.co.id pada Rabu (8/4) sejumlah motor dan mobil listrik secara bergantian mengantre untuk mengisi ulang baterai.

Biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengisi daya 1 KWH di stasiun pengisian kendaraan listrik umum ini sebesar Rp 2.466.

Seorang pengemudi ojek online mengungkapkan bahwa motor listrik lebih hemat dibandingkan motor konvensional. "Kalau pakai motor biasa (berbahan bakar bensin) satu hari Rp 30 ribu, sekarang hanya Rp 20 ribu," ujarnya kepada Katadata.co.id

Melalui hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan kendaraan listrik menekan ongkos pengeluaran sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Fauza Syahputra