Peran Data Ciptakan Kepercayaan dalam Ekosistem Kredit Digital

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Paramananda Setyawan
11/2/2026, 07.05 WIB

Di era keuangan digital, data bukan lagi sekadar rangkaian angka, melainkan layaknya mata uang kepercayaan yang menentukan sejauh mana seseorang layak mendapatkan akses finansial. Interaksi yang dulu bergantung pada dokumen fisik dan penilaian manual kini tergantikan oleh pola transaksi digital yang terekam secara otomatis. Setiap keputusan pembayaran, ritme penggunaan kredit, hingga preferensi belanja membentuk profil perilaku finansial seseorang, yang menjadi dasar penilaian risiko di ekosistem keuangan modern.

Perubahan ini membawa kita pada pemahaman yang lebih luas mengenai pentingnya data bagi kredit digital. PayLater misalnya, ia bukan menjadi alat konsumsi semata, melainkan sebagai gerbang bagi pengguna untuk mulai membangun rekam jejak finansial mereka melalui transaksi kecil yang dilakukan secara rutin. 

Sejak hadir hampir satu dekade lalu, PayLater telah menjadi titik awal bagi banyak orang untuk terlihat oleh sistem keuangan formal. Setidaknya, lebih dari 70% pengguna Kredivo mendapatkan akses kredit pertamanya dari PayLater. Dari sinilah perjalanan reputasi finansial banyak pengguna sebenarnya dimulai. 

PayLater layaknya “laboratorium kepercayaan” telah mengisi kekosongan yang selama ini tidak terjangkau layanan perbankan konvensional. Dalam konteks underbanked, data perilaku sering kali lebih representatif daripada data dokumen, karena perilaku tidak bisa “dipoles”, tetapi terbentuk dari kebiasaan nyata.

Lantas, bagaimana data dapat membuat seseorang creditworthy? Di balik kesaktian PayLater sebagai gerbang akses kredit, bekerja sistem berbasis AI dan data intelligence yang menilai perilaku pengguna secara real-time, mulai dari konsistensi transaksi, ritme penggunaan, hingga pola pembayaran. Ribuan sinyal mikro ini memungkinkan model risiko memprediksi kemungkinan gagal bayar secara presisi, bahkan bagi mereka yang belum memiliki histori kredit. 

Dengan pendekatan berbasis perilaku , setiap pengguna dinilai berdasarkan tindakan aktual, bukan hanya mengacu pada dokumen administratif. Inilah yang membuat proses penilaian menjadi lebih akurat, efektif, dan inklusif, sekaligus membuka akses bagi segmen yang selama ini terpinggirkan seperti pekerja informal, perempuan, maupun mereka yang tidak memiliki slip gaji.

Dalam ekosistem kredit digital, setiap transaksi kecil berfungsi sebagai penanda perilaku yang mencerminkan kedisiplinan. Ketika pengguna membayar tepat waktu selama beberapa siklus, sistem memetakan pola stabil yang kemudian meningkatkan tingkat kelayakan kreditnya. 

Di sinilah kontribusi terbesar data, yang bukan hanya membuka akses kredit, tetapi juga menciptakan skor kredit yang lahir dari kebiasaan nyata, bukan hanya dari dokumen formal. Skor kredit inilah yang kemudian tercermin dalam SLIK OJK, catatan formal yang akan diakses bank atau lembaga keuangan lain ketika pengguna mengajukan kredit di masa depan. 

Catatan perilaku baik pengguna di PayLater dapat menjadi pijakan menuju layanan finansial yang lebih besar di masa depan, mulai dari KTA hingga KPR. Dengan demikian, PayLater menempatkan masyarakat sebagai pihak yang aktif membangun reputasi finansialnya sendiri, bukan sekadar penerima layanan.

Di tengah inovasi berbasis data tersebut, industri keuangan digital tanah air masih dihadapkan pada tantangan literasi masyarakat. Data OJK menunjukkan sekitar 35% masyarakat masih belum memahami dasar pengelolaan keuangan pribadi. Padahal, konsep sederhana seperti bunga, jatuh tempo, dan konsekuensi keterlambatan PayLater sangat berpengaruh pada skor kredit. Banyak masyarakat yang belum memahami bahwa setiap transaksi PayLater tercatat dalam SLIK OJK. 

Karena itu, literasi finansial dan kesadaran data harus berjalan beriringan. Pengguna perlu memahami bahwa setiap keputusan pembayaran adalah bagian dari reputasi finansial yang mereka bangun sendiri. Pengalaman pertama menggunakan PayLater dapat menjadi batu loncatan menuju kredit produktif, apabila dimulai dengan pemahaman yang benar dan disiplin bayar. 

Sebaliknya, ketidakpahaman dapat menjebak pengguna dalam utang yang merugikan. Pada akhirnya, prinsip yang perlu dipegang sederhana: pinjam boleh, tetapi harus bertanggung jawab, karena setiap jejak data adalah investasi reputasi yang menentukan akses finansial mereka di masa depan.

Di titik inilah peran penyedia layanan menjadi krusial. Kredivo memandang edukasi bukan sebagai aktivitas tambahan, tetapi sebagai bagian dari manajemen risiko yang terintegrasi. Karena tanpa literasi, akses yang lebih luas justru berpotensi menciptakan kerentanan baru. 

Oleh sebab itu, Kredivo membangun ekosistem edukasi yang menyasar dua sisi sekaligus: peningkatan pemahaman konsumen dan penguatan kualitas perilaku finansial yang terekam dalam data mereka. Di level industri, literasi bukan hanya kebutuhan sosial, tetapi bagian dari governance yang berdampak langsung pada kualitas portofolio, tingkat gagal bayar, dan keberlanjutan model risiko.

Melalui program seperti KrediCast dan Generasi Djempolan, Kredivo telah menjangkau lebih dari 2.500 mahasiswa, pelaku UMKM, dan komunitas di 21 kota di seluruh Indonesia. Program ini tidak berhenti pada teori, tetapi membantu peserta memahami hubungan langsung antara perilaku harian, mengatur arus kas, membayar tepat waktu, mengelola pengeluaran, dengan peluang mereka mengakses kredit produktif di masa depan. 

Upaya ini diperkuat oleh kampanye digital seperti #AutoMikir, AndaiAndaPandai, dan Kredinspirasi, yang kini telah menjangkau lebih dari 26 juta penonton di Youtube. Pesan utamanya yaitu bagaimana setiap keputusan kecil dalam penggunaan kredit merupakan bagian dari modal kepercayaan yang terus dibangun oleh pengguna, sebagai fondasi untuk memperoleh akses kredit yang lebih besar dan produktif di masa depan.

Pada akhirnya, ekosistem kredit digital yang sehat tidak hanya dibangun oleh satu pihak, tetapi oleh tiga pilar yang saling menguatkan. Penyedia layanan harus memastikan pertumbuhan yang bertanggung jawab melalui keamanan data, transparansi algoritma, dan edukasi berkelanjutan bagi pengguna. 

Regulator berperan menjaga keseimbangan antara inovasi dan perlindungan konsumen agar stabilitas sistem tetap terjaga. Sementara itu, pengguna memegang peran penting sebagai pemilik data perilaku finansial mereka sendiri, setiap pembayaran tepat waktu adalah aset kepercayaan yang dapat membuka peluang finansial lebih besar di masa depan.

Dengan fondasi kolaboratif tersebut, PayLater bukan lagi sekadar fasilitas cicilan, melainkan catatan kepercayaan yang dapat menentukan masa depan finansial seseorang, bahkan sebelum ia memiliki akses perbankan yang lengkap. Jika digunakan dengan bijak dan disertai literasi finansial yang memadai, PayLater dapat menjadi batu loncatan yang memperkuat perjalanan masyarakat menuju kemandirian finansial serta mendorong terwujudnya ekonomi digital Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Paramananda Setyawan
Direktur PT Kredivo Finance Indonesia (Kredivo)

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.