Perang kerap dianalogikan sebagai permainan catur. Ada papan, ada bidak, ada strategi, dan pada akhirnya ada pemenang serta pecundang. Dalam kerangka ini, jatuhnya seorang pemimpin tertinggi sering dipahami sebagai checkmate, penentu akhir permainan.
Namun konflik yang dimulai Amerika Serikat dan Israel melawan Iran justru menunjukkan hal sebaliknya. Logika catur tampak gagal membaca realitas perang modern.
Amerika Serikat dan Israel sejak awal perang tampak mengarahkan serangan pada target paling strategis, yakni figur yang dapat dianalogikan sebagai “raja” dalam struktur kekuasaan Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Serangan tersebut dinyatakan berhasil dan Presiden Donald Trump mengumumkannya dengan penuh keyakinan disertai klaim kemenangan.
Secara teoritis, wafatnya Khamenei sebagai figur sentral dalam struktur politik dan ideologis Iran seharusnya menjadi pukulan telak yang mengarah pada pernyataan kekalahan. Terlebih jika kehilangan tersebut juga diiringi gugurnya elite militer dan aktor strategis lainnya. Dalam banyak preseden sejarah, kondisi semacam ini kerap berujung pada disorientasi negara, fragmentasi elite, keruntuhan internal, hingga pada akhirnya memaksa terjadinya penyerahan kekuasaan kepada pihak pemenang.
Namun Iran tidak runtuh.
Dalam logika catur, jatuhnya raja menandai akhir permainan. Dalam realitas konflik ini, raja tumbang tapi permainan terus berlangsung. Struktur tetap bertahan, kekuatan direorganisasi, dan perlawanan berlanjut. Apa yang terlihat bukan akhir, melainkan pergeseran bentuk permainan itu sendiri.
Iran menunjukkan respons yang cepat dan relatif terkonsolidasi. Kepemimpinan baru segera terbentuk, dan narasi yang dibangun bukan defensif, melainkan ofensif. Narasi perlawanan justru menguat. Ini memberi sinyal bahwa kekuatan Iran tidak bertumpu pada figur semata. Namun, pada struktur yang lebih dalam, institusi yang relatif stabil, ideologi yang mengikat, serta kohesi sosial-politik yang terpelihara.
Di titik ini, analogi catur menjadi terlalu sederhana. Negara bukan sekadar kumpulan bidak yang bergantung pada satu figur. Ia adalah sistem kompleks yang adaptif dan resilien, yang mampu mereorganisasi dirinya bahkan ketika kehilangan elemen kunci. Sementara itu, dinamika di kubu lawan justru memunculkan lapisan ketidakpastian baru.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus menggaungkan klaim kemenangan melalui berbagai kanal komunikasi. Narasi keberhasilan operasi militer diulang secara konsisten, diperkuat oleh aktivitas intens di media sosial. Namun, realitas di lapangan belum sepenuhnya mengonfirmasi klaim tersebut. Konflik yang telah berlangsung berminggu-minggu masih berada dalam fase yang cair, tanpa tanda jelas menuju penyelesaian.
Di sinilah paradoks perang modern mengemuka dimana jurang antara narasi kemenangan dan kenyataan strategis cukup berjarak.
Perang tidak lagi bergerak dalam garis lurus dari konflik menuju penyelesaian. Ia berputar dalam siklus kompleks, di mana setiap aksi melahirkan reaksi yang sulit diprediksi. Pergantian kepemimpinan di Iran tidak menghasilkan pelemahan, justru membuka ruang konsolidasi baru.
Dalam kerangka yang lebih luas, konflik ini mencerminkan transformasi lanskap geopolitik global. Dunia tidak lagi sepenuhnya unipolar. Kekuatan tidak lagi terkonsentrasi pada satu aktor dominan. Sebaliknya, kita menyaksikan konfigurasi multipolar yang cair, di mana berbagai aktor memiliki kapasitas untuk menantang, mengimbangi, atau setidaknya mengganggu dominasi yang ada.
Dalam konteks ini, kemenangan tidak lagi ditentukan semata oleh superioritas militer. Ia ditentukan oleh daya tahan (resilience), kemampuan adaptasi, serta kapasitas menjaga legitimasi, baik di dalam negeri maupun di mata internasional.
Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa konflik berkepanjangan jarang dimenangkan oleh pihak yang paling kuat secara konvensional, melainkan oleh mereka yang mampu bertahan lebih lama dan mengelola strategi jangka panjang secara konsisten. Iran tampaknya sedang memainkan permainan jenis ini.
Amerika Serikat dan Israel dihadapkan pada dilema klasik tentang bagaimana mentransformasikan keunggulan militer menjadi kemenangan politik yang berkelanjutan. Tanpa keberhasilan pada tahap ini, setiap klaim kemenangan berisiko tereduksi menjadi sekadar retorika.
Pernyataan pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, mempertegas arah perlawanan. Dalam pidato perdananya, ia tidak hanya menegaskan komitmen untuk membalas kematian ayahnya, tetapi juga mengirimkan sinyal strategis yang lebih luas: mempertahankan tekanan melalui Selat Hormuz, mendorong negara-negara kawasan untuk menjauh dari basis militer Amerika, menolak gencatan senjata, serta menegaskan kedaulatan politik Iran dari intervensi eksternal.
Pesan ini menunjukkan bahwa Iran tidak sedang bermain dalam logika “menang cepat”, melainkan “bertahan lama”. Dan dalam banyak konflik asimetris, bertahan sering kali adalah bentuk kemenangan itu sendiri.
Pertanyaan besar kemudian muncul. Bagaimana jika Iran mampu melancarkan serangan balasan yang menyasar figur puncak kepemimpinan Israel atau bahkan Amerika Serikat. Apakah kedua negara tersebut memiliki ketahanan yang sama ketika kehilangan figur sentralnya. Atau justru tekanan politik dan strategis akan memaksa mereka menghentikan perang, dengan risiko hilangnya kredibilitas global.
Minimnya kemunculan publik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah serangan balasan Iran ke Tel Aviv dalam beberapa waktu terakhir telah memicu spekulasi luas. Situasi ini semakin diperkeruh oleh beredarnya video yang diduga merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan, sehingga batas antara fakta dan manipulasi menjadi semakin kabur.
Israel benar-benar berada pada titik yang semakin menentukan. Jika perang ini berujung pada kegagalan strategis, maka yang dipertanyakan bukan hanya kekuatan militernya, tetapi juga legitimasi dan daya tahannya dalam konfigurasi regional.
Jika skenario ekstrem tersebut benar-benar terjadi, implikasinya tidak hanya bersifat militer atau geopolitik jangka pendek. Ia menyentuh fondasi historis kawasan. Salah satu kemungkinan adalah terbukanya ruang bagi koreksi terhadap eksistensi Israel dalam peta Timur Tengah, sebuah tatanan yang terbentuk dari proyek historis Zionisme dan dukungan Barat pasca-Perang Dunia II. Dalam konteks ini, menguatnya posisi Iran dapat berjalan seiring dengan meningkatnya peluang bagi kemerdekaan Palestina yang lebih penuh dan substantif.
Bagi Amerika Serikat dan Israel, skenario semacam ini merupakan hasil yang paling dihindari. Bukan semata karena pergeseran keseimbangan kekuatan, tetapi karena risiko terkikisnya legitimasi politik dan strategis yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Dalam lanskap global, dinamika ini dapat memicu gelombang dukungan internasional yang lebih luas terhadap Palestina, sekaligus menandai melemahnya pengaruh Amerika Serikat di Timur Tengah. Pada saat yang sama, Israel dapat menghadapi tekanan strategis yang kian besar, berupa menyempitnya ruang manuver dan menurunnya daya tawar geopolitik.
Namun skenario ini tidak sederhana. Ia berada dalam spektrum kemungkinan yang kompleks dan tidak linier. Realisasinya sangat ditentukan oleh dinamika regional serta perubahan konfigurasi kekuatan global yang terus bergerak.
Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar siapa yang menang atau kalah, melainkan keberlangsungan tatanan lama itu sendiri. Apakah ia masih mampu bertahan, atau justru sedang digantikan oleh sejarah yang baru tentang Israel-Palestina.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.