Sekolah yang Masih Menunggu Kartini

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Muhammad Iqbal
21/4/2026, 06.05 WIB

Setiap tanggal 21 April, Raden Ajeng Kartini (1879-1904) kembali hadir di halaman sekolah, baliho pemerintah, unggahan media sosial, dan pidato seremonial. Ia dikenang melalui kebaya, sanggul, lagu, dan ucapan selamat. Perayaan itu membuat Kartini terasa dekat, tetapi sering menjauhkannya dari pikiran-pikirannya sendiri. Di balik ikon yang necis itu, ada seorang perempuan muda Jawa yang membaca dengan lapar, menulis dengan gelisah, dan memikirkan pendidikan sebagai jalan perubahan sosial.

Kartini yang hidup dalam arsip jauh lebih tajam tinimbang Kartini dalam upacara. Ia menulis surat, catatan, tulisan etnografis, cerita pendek, serta memorandum pendidikan. Karena itu, ia layak dibaca sebagai pemikir, bukan hanya simbol emansipasi. Joost Coté dalam Kartini: The Complete Writings, 1898-1904 (Monash University Publishing, 2021), memperlihatkan bahwa tulisan Kartini tahun 1898-1904 membentuk korpus luas yang penting untuk memahami gagasannya tentang perempuan, Jawa, moralitas, kolonialisme, dan pendidikan. 

Inti pemikiran Kartini terletak pada pendidikan. Baginya, pendidikan bukan sekadar jalan menuju kepandaian. Pendidikan adalah cara membentuk manusia yang mampu berpikir, merasa, menimbang, dan bertanggung jawab. Ia tidak memuja sekolah secara dangkal. Ia tahu orang dapat menjadi pandai tanpa menjadi baik. Ia tahu pengetahuan dapat menjadi topeng baru bagi kesombongan lama.

Dalam memorandum “Give the Javanese Education!”, Kartini menegaskan bahwa pendidikan intelektual tidak otomatis melahirkan keunggulan moral. Ia menilai pendidikan harus menyentuh watak, bukan hanya kepala. Dalam salah satu bagian yang paling kuat, ia mengingatkan bahwa “Perkembangan intelektual yang maju bukanlah jaminan akan keunggulan moral” (Kartini, 1903, dalam Coté, 2021). Pernyataan itu masih terasa dekat. Indonesia hari ini memiliki lebih banyak sekolah, kampus, gelar, dan pelatihan. Namun, pertanyaan Kartini belum selesai. Apakah pendidikan kita telah memperhalus budi? Apakah sekolah melatih keberanian berpikir? Apakah kampus menumbuhkan tanggung jawab sosial? 

Kartini memahami pendidikan karena ia mengalami langsung arti pintu yang terbuka dan tertutup. Ia sempat mengenal sekolah, bahasa Belanda, bacaan, dan percakapan dunia. Setelah itu, tubuhnya dikembalikan ke dalam aturan pingitan. Pengalaman ini membentuk kesadaran historisnya. Ia tahu bahwa pembatasan perempuan tidak bekerja hanya melalui larangan kasar. Ia juga bekerja melalui adat, tata krama, keluarga, rasa takut, dan kepatuhan yang dianggap wajar.

Dari ruang yang sempit itu, Kartini menjadikan surat sebagai kelas. Ia berdialog dengan dunia yang tidak dapat ia datangi secara fisik. Ia menyerap gagasan Eropa, tetapi tidak ingin menjadi salinan Eropa. Ia mencintai Jawa, tetapi tidak menutup mata terhadap luka adat. Ia hidup sebagai priyayi, tetapi mulai memikirkan nasib masyarakat Jawa secara lebih luas. Di titik ini, pendidikan menjadi alat untuk membaca dua kekuasaan sekaligus, yaitu kolonialisme Belanda dan feodalisme Jawa.

Gagasan Kartini ihwal perempuan juga perlu dibaca dengan hati-hati. Ia sering disebut memperjuangkan pendidikan perempuan karena ibu adalah pendidik perdana. Pernyataan itu benar, tetapi mudah disempitkan. Kartini tidak sedang mengurung perempuan dalam rumah. Ia justru melihat rumah sebagai tempat pertama ketimpangan dapat diwariskan atau diputus. Jika perempuan tidak dididik, anak-anak akan tumbuh dalam gelap yang sama. Jika perempuan diberi pendidikan, masyarakat memiliki tenaga moral yang lebih kuat untuk berubah.

Dalam memorandum pendidikannya, Kartini menyatakan bahwa kemajuan masyarakat Jawa tidak akan memadai jika perempuan dikeluarkan dari proses pendidikan. Ia meminta agar hati dan pikiran perempuan Jawa dikembangkan. Ia membayangkan perempuan terdidik sebagai sekutu penting dalam kerja besar pencerahan masyarakat (Coté, 2021). Gagasan ini lahir dari bahasa zamannya, tetapi menyimpan daya gugat nan kuat. Kartini memakai posisi perempuan sebagai ibu untuk menuntut hak perempuan atas pendidikan. 

Kartini juga memikirkan bacaan. Ini sisi yang sering luput. Ia memahami bahwa pendidikan tidak hidup hanya di ruang sekolah. Masyarakat perlu bahan bacaan yang mudah dipahami, segar, berguna, dan dekat dengan kehidupan. Ia mengkritik minimnya bahan bacaan bagi orang Jawa, lalu mengusulkan cerita, majalah, dan tulisan populer yang dapat memperluas cakrawala serta menghidupkan pikiran (Coté, 2021). Dengan demikian, Kartini telah melihat pendidikan sebagai ekosistem. Sekolah, bahasa, bacaan, keluarga, dan percakapan publik saling berkaitan. 

Akan tetapi, Kartini juga harus dibaca secara kritis. Ia berbicara dari posisi priyayi. Visi pendidikannya masih memuat keyakinan bahwa pengaruh kaum bangsawan terdidik dapat mengalir kepada rakyat. Ia bukan perempuan desa, bukan buruh, dan bukan petani. Ia memiliki akses kepada bacaan, bahasa Belanda, dan jaringan korespondensi yang tidak dimiliki banyak perempuan Jawa pada masanya. Kritik ini tidak mengecilkan Kartini. Justru kritik membuatnya kembali menjadi manusia historis. Ia megak melampaui sebagian batas zamannya, sambil tetap membawa sebagian jejak kelas sosial tempat ia lahir.

Masalah liyan muncul setelah Kartini wafat. Kartini yang kita kenal hari ini bukan hanya Kartini yang menulis. Ia juga Kartini yang disunting, diterjemahkan, dinyanyikan, diperingati, dan digunakan oleh negara. Buku Appropriating Kartini: Colonial, National and Transnational Memories of an Indonesian Icon (ISEAS Publishing, 2020), menunjukkan bagaimana citra Kartini diperebutkan dalam ingatan kolonial, nasional, dan transnasional. Pada masa tertentu, ia tampil sebagai lambang kemajuan kolonial. Pada masa lain, ia dijadikan ibu bangsa, pelopor pendidikan perempuan, atau simbol perempuan pembangunan. 

Di masa Orde Baru, peringatan Hari Kartini cenderung menampilkan pesan yang jinak tentang pendidikan anak perempuan, keluarga, dan peran domestik. Jean Gelman Taylor mencatat bahwa Kartini pada masa itu sering hadir sebagai promotor pendidikan perempuan, kesejahteraan keluarga, dan harmoni sosial, bukan sebagai suara yang menggugat relasi kekuasaan (Bijl & Chin, 2020). Akibatnya, sekolah merayakan Kartini, tetapi jarang mengajak murid membaca kegelisahannya. 

Di sinilah Kartini masih relevan. Ia mengingatkan bahwa pendidikan yang kehilangan jiwa akan berubah menjadi administrasi. Ia menghasilkan nilai, ijazah, laporan, dan peringkat, tetapi tidak selalu melahirkan manusia yang bebas dan bertanggung jawab. Sekolah dapat ramai oleh kurikulum, tetapi miskin percakapan. Kampus dapat penuh oleh gelar, tetapi takut pada kritik. Pendidikan dapat tampak maju, tetapi tetap membiarkan ketimpangan berjalan dengan wajah sopan.

Kartini wafat muda. Ia tidak sempat melihat Indonesia merdeka. Ia tidak mendengar namanya dinyanyikan anak-anak sekolah. Ia juga tidak tahu bahwa suatu hari wajahnya akan menjadi simbol nasional yang akrab sekaligus sering disederhanakan. Walakin ia meninggalkan pertanyaan yang panjang umurnya. Untuk apa manusia dididik?

Akhirnya, selama pendidikan lebih sibuk melatih kepatuhan tinimbang keberanian berpikir, Kartini belum selesai. Selama perempuan diberi ruang belajar, tetapi terus diukur dengan kepantasan sosial yang sempit, Kartini belum selesai. Selama sekolah mengajarkan jawaban, tetapi cuak pada pertanyaan, Kartini belum selesai. Lebih dari seabad setelah ia menulis dari Jepara, sekolah Indonesia masih menunggu Kartini. Bukan Kartini sebagai kostum peringatan, melainkan Kartini sebagai kegelisahan intelektual yang menolak membiarkan manusia hidup dalam gelap.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Muhammad Iqbal
Sejarawan UIN Palangka Raya

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.