Membangun Fondasi Investasi Gen Z Sejak Dini

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Fikri C. Permana
11/7/2026, 07.05 WIB

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 5 Mei 2026, Generasi Z (Gen Z)—mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012—kini menjadi kelompok terbesar di Indonesia. Jumlahnya mencapai 24,9% dari total penduduk. Artinya, saat ini satu dari empat orang Indonesia adalah Gen Z. Dalam beberapa tahun ke depan, merekalah yang akan menjadi motor penggerak konsumsi, tenaga kerja, sekaligus wajah baru dunia investasi di Indonesia.

Menariknya, peran sebagai motor penggerak sudah mulai terlihat. Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), per Mei 2026, sekitar 54,4% investor pasar modal berasal dari kelompok Gen Z. Angka ini menunjukkan bahwa minat generasi muda terhadap investasi terus meningkat. Walaupun nilai Aset Gen Z di Central Depository and Book Entry Settlement System (C-Best) BEI masih tergolong kecil, hanya Rp48,3 triliun atau hanya 3,2% dari total aset di periode yang sama. 

Di sisi lain, juga masih ditemui banyaknya siswa dan mahasiswa yang merasa investasi adalah sesuatu yang “belum untuk sekarang”. Alasannya sederhana: belum memiliki penghasilan tetap, uang saku terbatas, atau merasa modal yang dimiliki terlalu kecil untuk mulai berinvestasi. Padahal, justru di saat sekaranglah investasi yang paling berharga bisa dimulai.

Pengelolaan Anggaran

Bagi banyak orang, investasi sering dipahami dengan hanya jual-beli saham, obligasi, reksadana ataupun aset tertentu. Jauh daripada itu, investasi kadang juga merupakan dorongan tambahan pada diri sendiri—membangun kebiasaan, pengetahuan, dan keterampilan yang akan memberikan imbal hasil jauh lebih besar daripada keuntungan finansial jangka pendek.

Robert T Kiyosaki dalam Rich Dad Poor Dad (1997) menuliskan bahwa “Your most important asset is your mind. If it is trained well, it can create enormous wealth.” Pemikiran klasik Irving Fisher (1930) dalam teori intertemporal choice, juga mengingatkan bahwa investasi pada dasarnya adalah keputusan untuk menunda sebagian konsumsi hari ini agar memperoleh manfaat atau konsumsi yang lebih besar di masa depan. 

Bagi Gen Z yang tengah membangun “portofolio” pertama, perlu diingat bahwa portofolio terbaik di usia muda bukanlah kumpulan instrumen investasi, melainkan kumpulan kebiasaan baik. 

Pandangan ini sejalan dengan berbagai otoritas dan lembaga global, baik World Bank, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menekankan pentingnya literasi keuangan dan investasi. Tidak hanya mengetahui produk investasi, tetapi juga tentang membentuk cara berpikir yang sehat dalam mengelola uang, termasuk membedakan kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). 

Dengan fondasi tersebut, ketika kesempatan untuk berinvestasi benar-benar datang, seseorang tidak hanya memiliki modal finansial. Namun, juga modal pengetahuan dan karakter untuk mengambil keputusan yang lebih bijak. 

Hal ini dapat dimulai dari bagaimana Gen Z memahami cara mengelola uang saku dengan baik agar selalu tersedia dana untuk memenuhi kebutuhan serta menghadapi keadaan darurat. Meskipun belum memiliki penghasilan tetap, anggaran tetap perlu dibagi ke dalam beberapa pos sesuai tujuan penggunaannya, seperti dana operasional untuk kebutuhan sehari-hari, dana darurat, tabungan, dan investasi. 

Besarnya alokasi pada setiap pos bergantung pada kondisi masing-masing. Bagi mahasiswa yang menggunakan uang sakunya untuk membayar kebutuhan sehari-hari, sebagian besar anggaran sebaiknya dialokasikan untuk dana operasional. 

Sebaliknya, bagi siswa sekolah menengah yang kebutuhan sehari-harinya masih ditanggung oleh orang tua, porsi dana operasional dapat lebih kecil sehingga lebih banyak dana dapat dialokasikan untuk tabungan, dana darurat, atau investasi.

Pengelolaan anggaran yang baik juga membantu Gen Z mengendalikan pengeluaran yang bersifat konsumtif. Gen Z lebih rentan terhadap fenomena fear of missing out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari orang lain, sehingga dapat terdorong untuk membeli barang atau mengikuti tren yang sebenarnya tidak diperlukan. 

Dengan mengalokasikan uang ke dalam pos-pos anggaran yang jelas, pengeluaran dapat lebih terkontrol dan kebiasaan menabung dapat terbentuk sejak dini. Tabungan dan dana darurat juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan di masa depan, seperti biaya pendidikan, modal investasi, maupun menghadapi kondisi tak terduga, sehingga membantu membangun keamanan finansial jangka panjang.

Meningkatkan Pendidikan dan Keterampilan

Benjamin Franklin (1758) pernah menyatakan, "An investment in knowledge pays the best interest." Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa pendidikan merupakan investasi terbaik bagi masa depan. 

Namun investasi pendidikan tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga pelatihan, sertifikasi, serta pengembangan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri. Meskipun membutuhkan biaya dan waktu dalam jangka pendek, manfaatnya dapat meningkatkan produktivitas, peluang kerja, dan pendapatan di masa depan.

Pentingnya peningkatan kompetensi semakin besar seiring pesatnya perkembangan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI) dan machine learning (ML), yang mendorong persaingan di pasar tenaga kerja menjadi semakin ketat, terutama bagi Gen Z. 

Data International Labour Organization (ILO) tahun 2026 menunjukkan bahwa proporsi pemuda usia 15–24 tahun dalam angkatan kerja global menurun dari 17,1% sebelum pandemi menjadi 13,4% setelah pandemi. 

Selain itu, World Bank Jobs Series Issue No. 14 pada 31 Mei 2026 juga mengingatkan adanya risiko setengah pengangguran (underemployment) akibat ketatnya persaingan di pasar tenaga kerja, dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi negara berkembang hingga sekitar 2% PDB. 

Oleh karena itu, peningkatan keterampilan (upskilling) dan pembelajaran keterampilan baru (reskilling) menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing di dunia kerja.

Menambah Literasi Keuangan

Literasi keuangan sering kali baru diperoleh ketika seseorang memasuki dunia kerja dan banyak dipelajari melalui pengalaman, yang dapat menyebabkan berbagai kesalahan finansial di sepanjang proses tersebut. 

Untuk mengurangi risiko tersebut, berinvestasi dalam literasi keuangan sejak dini dapat memberikan manfaat yang besar bagi Gen Z. Literasi keuangan tidak hanya mencakup pemahaman mengenai cara menabung. 

Literasi keuangan juga meliputi penyusunan anggaran, pengelolaan arus kas pribadi, konsep suku bunga, evaluasi risiko dan imbal hasil investasi, serta kemampuan mengenali berbagai bentuk penipuan keuangan.

Selain itu, literasi keuangan juga berperan penting dalam membantu individu menyusun perencanaan keuangan jangka panjang, seperti mempersiapkan dana pendidikan, kepemilikan rumah, hingga dana pensiun. 

Dengan pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan, Gen Z diharapkan mampu mengambil keputusan finansial secara lebih bijaksana. Mereka dapat membangun kekayaan secara bertahap melalui investasi yang terencana, serta menghindari pola pikir ingin memperoleh kekayaan secara instan yang umumnya disertai dengan risiko tinggi.

Di era digital seperti saat ini, terdapat banyak cara belajar yang dapat diakses secara gratis. YouTube menyediakan berbagai materi mengenai literasi keuangan yang membantu memahami dasar-dasar pengelolaan keuangan, keterampilan yang akan sangat penting di masa depan. 

Memahami berbagai risiko, seperti penipuan keuangan, juga dapat membantu mencegah kerugian di kemudian hari. Selain itu, terdapat berbagai platform eksternal untuk mempelajari keterampilan yang lebih mendalam, seperti investasi di pasar modal. 

Sebagai contoh, berbagai stock market simulator yang memungkinkan pengguna memperoleh pengalaman berinvestasi di pasar saham secara langsung tanpa menggunakan uang sungguhan.

Literasi keuangan juga membantu investor muda mengenali berbagai bias perilaku, seperti FOMO, rasa percaya diri yang berlebihan (overconfidence), serta kecenderungan melakukan panic selling, sehingga Gen Z dapat mengambil keputusan keuangan yang lebih rasional. Literasi keuangan juga dapat menunjukkan risiko yang terkait dengan berbagai isu saat ini, seperti pinjaman online berlebihan bahkan judi online. 

Sebagai catatan, di Indonesia, perjudian online telah berkembang menjadi permasalahan ekonomi dan sosial yang serius. Berdasarkan data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), nilai perputaran dana judi online mencapai sekitar Rp327 triliun pada 2023 dengan sekitar 3,1 juta pemain. 

Nilai tersebut kemudian meningkat menjadi Rp359,81 triliun pada 2024, dan sedikit turun menjadi Rp286,84 triliun pada 2025. Namun PPATK masih mencatat sekitar 12,3 juta orang melakukan deposit ke platform judi online melalui berbagai kanal pembayaran di 2025. 

Kesimpulan

Sebagai generasi yang tumbuh di era digital, Gen Z memiliki akses yang luas terhadap berbagai informasi dan peluang keuangan. Namun investasi terbaik bagi Gen Z pada tahap awal kehidupan bukanlah semata-mata mengejar keuntungan dari instrumen keuangan. Melainkan, membangun fondasi yang kuat melalui kebiasaan keuangan yang sehat, meningkatkan pendidikan dan keterampilan, serta menambah literasi keuangan yang semakin baik setiap waktunya. 

Ketiga aspek tersebut diharapkan dapat saling melengkapi dalam membentuk kemampuan mengelola keuangan, mengambil keputusan investasi secara rasional, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dengan fondasi yang kokoh, Gen Z akan lebih siap menghadapi dinamika ekonomi, memanfaatkan peluang yang ada, dan mencapai kesejahteraan finansial yang berkelanjutan di masa depan.

Namun, juga perlu diingat bahwa tantangan investasi saat ini juga diikuti dengan maraknya misinformasi, ekspektasi keuntungan yang tidak realistis, serta meningkatnya risiko pengambilan keputusan finansial yang kurang tepat. Oleh karena itu, berbagai fondasi investasi hendaknya juga diikuti dengan cara berpikir kritis dan memverifikasi informasi dari sumber yang kredibel.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Fikri C. Permana
Senior Economist PT KB Valbury Sekuritas

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.