Memutus Rantai Generasi Sandwich melalui Jaminan Sosial

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Iqbal Khatami
11/7/2026, 06.05 WIB

Saat gegap gempita narasi optimistis “Indonesia Emas 2045”, secara paralel kita juga tengah menapaki jalan sunyi menuju penuaan populasi (ageing population). Data BPS menunjukkan sejak 2021, Indonesia telah bergeser dari populasi muda menuju populasi yang menua. Hal tersebut terlihat dari proporsi penduduk usia 60 tahun ke atas yang telah melampaui 10%, dan tren ini diproyeksikan akan mencapai angka 20% pada 2045 mendatang.

Penuaan populasi terdengar seperti fitrah kehidupan. Namun jika ini terjadi secara masif dan tanpa jaring pengaman yang baik, maka akan menjadi bom waktu sosio-ekonomi. Dampak nyata dari penuaan populasi yang tanpa jaring pengaman yang baik adalah yang hari ini biasa kita lihat sebagai fenomena "generasi sandwich". 

Generasi sandwich adalah realitas getir di mana kelompok usia produktif, terutama kelompok muda yang harus memikul beban finansial ganda: membiayai diri mereka, anak-anak mereka sekaligus merawat orang tua yang memasuki masa purnabakti tanpa kepastian ekonomi dan jaring pengaman memadai.

Cerita-cerita tentang perjuangan para generasi sandwich banyak kita baca dan lihat melalui curhatan di media sosial, atau orang sekitar. Cerita mereka sebagian besar menggambarkan semakin terhimpitnya ekonomi generasi muda sekaligus kian merentankan kelompok lansia. 

Ketidakpastian dunia tenaga kerja saat ini juga menjadi faktor yang memperparah. Ketika kita berbicara cakupan pekerja formal dan informal saja misalnya, sektor pekerja informal mendominasi penduduk bekerja dengan persentase 60:40 dibandingkan pekerja formal. 

Pada 2025, ada sekitar 86,59 juta pekerja informal dibanding dengan pekerja formal yang hanya 59,18 juta. Kita semua juga tahu bahwa ekosistem pekerja informal di Indonesia juga amat rentan dan penuh ketidakpastian.

Impitan Kondisi Ekonomi

Pada kondisi ekonomi saat ini, nampaknya pendapatan bulanan bukan lagi sekadar instrumen aktualisasi diri dan modal menyongsong masa depan. Bagaimana tidak, sebagian pekerja yang tergolong generasi sandwich saat ini kehilangan sebagian besar pendapatannya yang digunakan untuk menyokong biaya hidup, layanan kesehatan hingga perawatan orang tua mereka. 

Mengapa ini terjadi? Dominasi pekerja informal sebesar 60% ini menjadi krusial ketika disandingkan dengan statistik lansia 2024. Ada jurang lebar yakni ada sekitar 10,8 tahun antara Usia Harapan Hidup (71,57 tahun) dengan Usia Harapan Hidup Sehat (60,7 tahun). 

Artinya, rata-rata lansia di Indonesia harus melewati hampir 11 tahun sisa hidupnya dalam kondisi kesehatan yang menurun. Data dari sumber yang sama juga menyebut bahwa ada Lebih dari setengah lansia di Indonesia (65,6%) sama sekali tidak memiliki tabungan atau aset finansial.

Sebagian besar lansia yang masih bekerja biasanya terpaksa bertahan di sektor informal yang tidak stabil dan low-skilled. Di banyak kasus, pada akhirnya pasar kerja menolak mereka dan anak-anak merekalah yang maju menjadi jaring pengaman sosial ekonomi. Di balik impitan kondisi inilah mata rantai generasi sandwich terbentuk, hingga menggerus tabungan masa depan generasi muda.

Hadirnya Negara melalui Jaminan Sosial

Memutus mata rantai generasi sandwich tidak bisa hanya sebatas bertumpu pada imbauan moralistik dan dinormalisasikan melalui anggapan kesalehan keluarga. Fokusnya adalah bagaimana negara yang seharusnya hadir bertanggungjawab dan memberi solusi atas masalah ini—salah satunya melalui penguatan program jaminan sosial.

Penguatan jaminan sosial perlu melalui beberapa pilar krusial yang perlu segera diakselerasi dan diperluas. Pertama, perlunya perluasan manfaat kelanjutusiaan yang menyeluruh. Berbicara program BPJS Ketenagakerjaan saat ini seperti misalnya Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun (JP) masih menghadapi tantangan besar seperti cakupan kepesertaan yang belum menyeluruh, termasuk JP yang belum mampu menjangkau pekerja informal. Seyogyanya, jaminan sosial tidak boleh dibiarkan terus terbatas pada ASN, TNI-POLRI, maupun pekerja formal saja. Melainkan juga harus meluas ke sektor pekerja informal. 

Kedua, perlu adanya program Long-Term Care atau perawatan kesehatan jangka panjang yang terintegrasi dengan Jaminan Kesehatan Nasional. Program ini dapat memberikan manfaat berupa layanan kunjungan tenaga kesehatan ke rumah maupun fasilitas khusus lansia. 

Jika fasilitas ini tersedia, generasi sandwich tidak perlu lagi mengorbankan pendapatannya untuk membayar pengasuh atau biaya kesehatan bagi orang tua mereka. Praktik baik dari program ini telah diterapkan di Korea Selatan yang telah mengintegrasikannya dalam sistem asuransi perawatan jangka panjang. Program ini dapat didorong misalnya melalui integrasi dengan Posyandu Lansia yang sudah ada. 

Ketiga, perlu adanya kebijakan bantuan iuran untuk pekerja miskin. Jika dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kita mengenal istilah Penerima Bantuan Iuran (PBI), maka perlu kiranya mendorong adanya PBI untuk Jaminan Sosial Ketenagakerjaan. Jaminan Sosial Ketenagakerjaan penting untuk pekerja miskin dan tidak mampu, yang dapat menjadi jaring pengaman bagi mereka ketika terjadi risiko kerja. 

Manfaat-manfaat program BPJS Ketenagakerjaan seperti manfaat Jaminan Kematian (JKM) Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), maupun Jaminan Hari Tua (JHT) dapat menjadi intervensi penting untuk memutus rantai kemiskinan ekstrem di masa tua, kelompok pekerja miskin, petani, nelayan, dan perempuan maupun pekerja rentan lainnya.

Sistem jaminan sosial nasional yang kuat memegang empat fungsi strategis sekaligus: jaring pengaman sosial bagi yang tidak mampu, redistribusi pendapatan antar-generasi, diversifikasi risiko, dan penjaga stabilitas ekonomi makro berkelanjutan. 

Ketika negara mampu menjamin adanya jaring pengaman bagi populasi lansia melalui sistem jaminan sosial yang inklusif, maka beban finansial yang selama ini diemban para generasi sandwich dapat jauh berkurang. Dengan begitu, generasi muda dapat mengalokasikan pendapatannya untuk investasi pendidikan anak-anak mereka, modal usaha, dan tabungan masa tua mereka sendiri.

Memutus rantai generasi sandwich melalui jaminan sosial adalah investasi peradaban, memastikan Indonesia Emas tidak berubah menjadi Indonesia yang cemas karena menua sebelum sejahtera.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Iqbal Khatami
Founder Muda Bicara ID

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.