Setiap kali ASEAN Power Grid (APG) dibicarakan, perhatian publik hampir selalu tertuju pada pembangunan kabel listrik lintas negara. Berbagai ilustrasi memperlihatkan jaringan transmisi yang menghubungkan Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, hingga Vietnam. Seolah keberhasilan integrasi kelistrikan ASEAN hanya ditentukan oleh seberapa banyak interkoneksi yang berhasil dibangun. Padahal, gambaran tersebut hanya memperlihatkan sebagian kecil dari pekerjaan besar yang sesungguhnya.
Laporan terbaru International Energy Agency (IEA), Financing the ASEAN Power Grid, justru menghadirkan perspektif yang berbeda. Dari total kebutuhan investasi jaringan listrik ASEAN hingga 2040 yang diperkirakan mencapai sekitar US$330 miliar. Dari jumlah itu, hanya US$27 miliar atau sekitar 8% yang dialokasikan untuk pembangunan interkoneksi lintas negara. Sebaliknya, sekitar 92% kebutuhan investasi justru diperuntukkan bagi penguatan jaringan listrik domestik di masing-masing negara ASEAN.
Temuan tersebut mengubah cara pandang terhadap ASEAN Power Grid. Tantangan terbesar kawasan ternyata bukan membangun kabel yang menghubungkan satu negara dengan negara lain. Melainkan, memastikan setiap negara memiliki sistem transmisi dan distribusi yang cukup kuat untuk menerima, mengelola, dan menyalurkan listrik secara andal. Dengan kata lain, integrasi regional hanya akan berhasil apabila fondasi nasionalnya telah kokoh.
Inilah perspektif yang selama ini kurang mendapat perhatian. ASEAN Power Grid sesungguhnya bukan sekadar proyek konektivitas regional, melainkan proyek modernisasi sistem kelistrikan nasional yang kemudian diintegrasikan menjadi satu jaringan kawasan.
Analogi paling sederhana adalah jaringan jalan. Jalan tol antarprovinsi tidak akan memberikan manfaat optimal apabila jalan-jalan di dalam kota masih sempit, rusak, dan dipenuhi kemacetan. Prinsip yang sama berlaku pada sistem kelistrikan. Interkoneksi lintas negara tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila jaringan domestik masih menghadapi bottleneck, kapasitas gardu induk terbatas, atau sistem pengendali jaringan belum cukup modern.
Urgensi penguatan jaringan listrik juga semakin besar karena struktur sistem kelistrikan ASEAN sedang mengalami perubahan mendasar. Dalam laporan yang sama, IEA memperkirakan konsumsi listrik kawasan akan terus tumbuh sekitar 3%-4% per tahun hingga 2040. Pada periode yang sama, kapasitas pembangkit diproyeksikan meningkat lebih dari dua kali lipat, dengan sekitar 75% tambahan kapasitas berasal dari energi terbarukan.
Transformasi tersebut membawa konsekuensi besar terhadap kebutuhan jaringan listrik. Berbeda dengan pembangkit berbahan bakar fosil yang umumnya dibangun dekat pusat beban, pembangkit energi surya, angin, maupun hidro sering kali berada jauh dari pusat konsumsi listrik.
Akibatnya, investasi terbesar tidak lagi hanya pada pembangunan pembangkit, tetapi juga pada pembangunan jaringan transmisi baru, gardu induk, sistem digital, perangkat kendali, hingga teknologi fleksibilitas jaringan seperti penyimpanan energi. Tanpa modernisasi tersebut, penetrasi energi terbarukan dalam skala besar akan sulit diwujudkan.
Bagi Indonesia, pesan tersebut memiliki arti yang jauh lebih strategis. Sebagai negara kepulauan terbesar di ASEAN, tantangan utama Indonesia bukan hanya menambah kapasitas pembangkit listrik. Namun, juga memastikan energi dapat mengalir secara efisien dari lokasi sumber daya menuju pusat-pusat permintaan yang tersebar di ribuan pulau dengan karakteristik sistem kelistrikan yang berbeda.
Karena itu, target ambisius dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tidak dapat dipandang semata sebagai agenda pembangunan pembangkit baru. Target tersebut juga mensyaratkan percepatan pembangunan jaringan transmisi, penambahan gardu induk, digitalisasi operasi sistem, serta peningkatan keandalan distribusi listrik di seluruh wilayah Indonesia.
Dengan kata lain, sebelum Indonesia berbicara mengenai ekspor listrik bersih ke negara tetangga, pekerjaan rumah terbesar justru berada di dalam negeri.
Modernisasi jaringan listrik juga menjelaskan mengapa investasi sektor ini sering kali jauh lebih besar dibanding persepsi publik. Infrastruktur seperti gardu induk bertegangan tinggi, sistem SCADA, pusat kendali jaringan, Flexible AC Transmission Systems (FACTS), High Voltage Direct Current (HVDC), hingga teknologi smart grid memang tidak terlihat secara langsung oleh masyarakat. Namun justru infrastruktur-infrastruktur inilah yang menjadi tulang punggung sistem kelistrikan modern.
Tantangan berikutnya adalah pembiayaan. IEA memperkirakan kebutuhan investasi jaringan listrik ASEAN mencapai sekitar US$330 miliar hingga 2040. Sementara itu, fasilitas pembiayaan ASEAN Power Grid yang saat ini didukung Asian Development Bank (ADB) dan World Bank baru mencapai sekitar US$12,5 miliar, atau hanya sebagian kecil dari kebutuhan investasi kawasan.
Kesenjangan pembiayaan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan ASEAN Power Grid tidak mungkin hanya mengandalkan lembaga pembangunan multilateral. Diperlukan partisipasi yang jauh lebih besar dari dana pensiun, sovereign wealth fund, investor institusional, penerbitan green bonds, skema blended finance, hingga kemitraan pemerintah dan swasta. Pada saat yang sama, kepastian regulasi menjadi prasyarat penting agar proyek-proyek jaringan listrik mampu menarik investasi jangka panjang dengan biaya modal yang kompetitif.
Di sisi lain, penguatan jaringan domestik sebenarnya juga memberikan manfaat ekonomi yang jauh lebih luas dibanding sekadar mendukung perdagangan listrik regional. Jaringan yang lebih andal akan meningkatkan kualitas pasokan listrik, mengurangi kehilangan energi (losses), mempercepat elektrifikasi kawasan industri, mendukung pertumbuhan pusat data, memperkuat rantai pasok kendaraan listrik, sekaligus membuka ruang yang lebih besar bagi pengembangan energi terbarukan. Dampaknya tidak berhenti di sektor energi, tetapi merambat pada peningkatan produktivitas dan daya saing ekonomi nasional.
Dalam konteks geopolitik, jaringan listrik yang modern juga merupakan instrumen ketahanan energi. Negara yang memiliki sistem transmisi yang kuat dan fleksibel akan lebih siap menghadapi gangguan pasokan, cuaca ekstrem, maupun volatilitas harga energi global. Dengan demikian, investasi jaringan listrik sejatinya merupakan investasi pada keamanan ekonomi sekaligus daya saing kawasan.
Tentu ASEAN tetap membutuhkan interkoneksi lintas negara. Perdagangan listrik regional dapat meningkatkan efisiensi sistem, menekan biaya pembangkitan, mempercepat integrasi energi terbarukan, dan memperkuat ketahanan energi kawasan. Namun, data IEA mengingatkan bahwa interkoneksi hanyalah puncak gunung es. Fondasi sesungguhnya berada pada jaringan listrik nasional yang modern, andal, dan siap menopang transformasi energi.
Karena itu, diskusi mengenai ASEAN Power Grid sudah saatnya bergeser. Fokus tidak boleh hanya tertuju pada kabel bawah laut yang menghubungkan satu negara dengan negara lain. Perhatian yang jauh lebih besar harus diarahkan pada pembangunan gardu induk, perluasan jaringan transmisi, digitalisasi operasi sistem, modernisasi distribusi, serta peningkatan fleksibilitas jaringan di dalam negeri.
Pada akhirnya, integrasi kelistrikan ASEAN tidak dimulai di perbatasan negara, melainkan dari dalam negeri masing-masing. Sebelum listrik mengalir melintasi batas negara, ia harus terlebih dahulu mampu mengalir secara andal di dalam negeri. Karena itu, keberhasilan ASEAN Power Grid pada akhirnya tidak ditentukan oleh panjang kabel lintas negara yang dibangun, melainkan oleh seberapa kuat fondasi jaringan nasional yang menopangnya. Di situlah sesungguhnya masa depan integrasi energi ASEAN akan dibangun.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.