Lansia Tahun 2045: Memiliki Banyak Aset atau Tetap Bekerja?

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Maulana MS Aji
10/8/2026, 07.05 WIB

Pemerintah telah meluncurkan berbagai program strategis untuk memperkuat fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Dua di antaranya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penguatan kelembagaan koperasi. 

MBG diarahkan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, sehingga mampu menghasilkan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif. Di sisi lain, penguatan koperasi diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan melalui peningkatan akses pembiayaan, pemberdayaan usaha produktif, serta penciptaan lapangan kerja. 

Kedua program tersebut merupakan investasi jangka panjang yang saling melengkapi, yaitu membangun kualitas manusia sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional sebagai modal utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Namun, keberhasilan mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak hanya ditentukan oleh kualitas generasi muda sebagai penerima bonus demografi. Keberhasilan juga ditentukan kemampuan Indonesia dalam menghadapi transisi menuju masyarakat menua (ageing society). 

Setelah melewati periode bonus demografi, Indonesia akan memasuki fase penuaan penduduk yang ditandai dengan meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia secara signifikan. Pada 2045, penduduk berusia 60 tahun ke atas diproyeksikan mencapai sekitar 20% dari total penduduk, atau sekitar satu dari setiap lima penduduk Indonesia merupakan lansia.

Menarik untuk mengkaji bagaimana posisi lansia dalam perekonomian Indonesia akan berubah seiring perjalanan menuju Indonesia Emas 2045. Di satu sisi, meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia berpotensi meningkatkan rasio ketergantungan. 

Namun di sisi lain, jika didukung oleh kesehatan yang baik, peningkatan keterampilan, dan kesempatan kerja yang inklusif, lansia dapat menjadi modal manusia yang tetap produktif. 

Dengan demikian, tantangan Indonesia bukan sekadar menghadapi penuaan penduduk, melainkan memastikan bahwa proses penuaan tersebut mampu menghasilkan lansia yang sehat, mandiri, dan tetap berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi ekonomi penduduk lanjut usia, salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah National Transfer Accounts (NTA) atau Neraca Transfer Nasional yang baru dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). 

NTA tahun 2024 menggambarkan bagaimana setiap kelompok umur memperoleh pendapatan dari tenaga kerja, melakukan konsumsi, serta menutup defisit siklus hidup melalui transfer publik, transfer privat, dan realokasi berbasis aset. 

Berdasarkan data tersebut, dilakukan proyeksi NTA tahun 2045 dengan mengasumsikan bahwa profil ekonomi per kapita. Ini meliputi pendapatan tenaga kerja, konsumsi, dan mekanisme transfer, tetap sama seperti tahun 2024. Sementara struktur umur penduduk disesuaikan dengan proyeksi penduduk Indonesia tahun 2045.

Dengan pendekatan ini, proyeksi NTA 2045 dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana perubahan struktur demografi. Meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia akan memengaruhi kondisi ekonomi lansia dan mekanisme pembiayaan defisit siklus hidup di masa mendatang.

Berdasarkan NTA tahun 2024, kelompok penduduk lanjut usia (60 tahun ke atas) mengalami defisit siklus hidup sebesar Rp645,7 triliun. Kondisi ini menunjukkan bahwa nilai konsumsi mereka telah melampaui pendapatan yang diperoleh dari aktivitas bekerja. 

Defisit tersebut terutama ditutup melalui realokasi berbasis aset, seperti pemanfaatan tabungan, hasil investasi, maupun penjualan aset yang telah diakumulasi selama masa produktif. Selain itu, melalui transfer publik, termasuk pembayaran pensiun dan berbagai program perlindungan sosial dari pemerintah. 

Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia, hasil proyeksi NTA menunjukkan bahwa defisit siklus hidup lansia diperkirakan meningkat secara signifikan menjadi Rp 1.426,4 triliun pada 2045. 

Peningkatan yang lebih dari dua kali lipat tersebut mencerminkan semakin besarnya kebutuhan pembiayaan konsumsi lansia di tengah proses penuaan penduduk. Alhasil, penguatan sistem perlindungan sosial, perluasan cakupan pensiun, serta peningkatan akumulasi aset selama usia produktif menjadi semakin penting untuk menjaga keberlanjutan kesejahteraan lansia di masa mendatang.

NTA  menunjukkan bahwa lansia di Indonesia tidak sepenuhnya menjadi penerima transfer. Sebagian lansia justru masih menjadi pemberi transfer bersih kepada keluarga, dengan nilai bersih mencapai sekitar Rp39 triliun pada 2024 dan Rp86,9 triliun pada 2045. 

Hal ini mengindikasikan bahwa masih banyak lansia yang menanggung kebutuhan anggota keluarga, seperti membiayai anak yang masih bersekolah, membantu anak yang belum memperoleh pekerjaan, atau menopang kebutuhan ekonomi rumah tangga. Temuan ini memperlihatkan bahwa peran ekonomi lansia di Indonesia masih sangat kuat, baik sebagai penerima dukungan maupun sebagai penopang kesejahteraan antargenerasi.

Hasil proyeksi NTA menunjukkan bahwa, baik pada 2024 maupun 2045, mekanisme utama yang digunakan lansia untuk menutup defisit siklus hidup adalah melalui realokasi berbasis aset, seperti pemanfaatan tabungan, hasil investasi, maupun penjualan aset yang telah diakumulasi selama usia produktif. 

Nilai realokasi berbasis aset diproyeksikan meningkat secara signifikan, dari sebesar Rp630,7 triliun pada 2024 menjadi Rp1.391,1 triliun pada 2045. Temuan ini mengindikasikan bahwa seiring meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia, peran akumulasi aset sebagai sumber pembiayaan konsumsi pada masa tua akan semakin penting. 

Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mendorong masyarakat mempersiapkan masa pensiun sejak usia produktif melalui peningkatan literasi keuangan, kepemilikan aset, dan tabungan jangka panjang. Dengan begitu, mampu menjaga kesejahteraan pada masa lansia tanpa bergantung sepenuhnya pada transfer dari keluarga maupun pemerintah.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, kondisi ekonomi lansia pada 2045 menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan konsumsi pada masa tua akan semakin bergantung pada kepemilikan aset yang berhasil dibangun selama usia produktif. 

Bagi lansia yang tidak memiliki aset yang memadai, salah satu alternatif untuk menutup defisit siklus hidup adalah dengan tetap berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi melalui bekerja lebih lama atau meningkatkan produktivitas sesuai dengan kondisi kesehatan dan kapasitasnya. 

Temuan ini menegaskan pentingnya kebijakan yang mendorong masyarakat mempersiapkan hari tua sejak usia produktif melalui peningkatan tabungan, investasi, dan kepemilikan aset. Selain juga dengan penguatan sistem perlindungan sosial dan pensiun serta penciptaan kesempatan kerja yang ramah lansia (age-friendly employment). Dengan demikian, meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia tidak harus diikuti oleh meningkatnya kerentanan ekonomi pada masa tua.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Maulana MS Aji
Statistisi di BPS

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.