Investasi Makin Mudah, Mengapa Orang Masih Menunda?

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Matthew Nainggolan
3/9/2026, 08.05 WIB

Instrumen investasi ritel meledak, mulai dari reksa dana, kripto, fraksi saham, hingga P2P. Namun, partisipasi riil tetap rendah. Kelimpahan pilihan kadang bikin orang diam, bukan bergerak.

Angkanya memang terlihat meyakinkan di permukaan. Jumlah investor pasar modal Indonesia menembus 30,30 juta Single Investor Identification (SID) per Agustus 2026, tumbuh 48,78% sejak awal tahun. Investor aset kripto bertambah dari 20,19 juta menjadi 22,4 juta hanya dalam lima bulan pertama tahun ini. Akun reksa dana aktif naik dari 12,8 juta menjadi 15,3 juta dalam setahun terakhir. Kalau hanya membaca judul berita, kesimpulannya mudah: masyarakat Indonesia sedang beramai-ramai berinvestasi.

Setiap platform investasi baru diluncurkan dengan janji yang sama: mempermudah orang mulai berinvestasi. Setelah bertahun-tahun dan puluhan platform kemudian, janji itu belum sepenuhnya terbukti, bukan karena platformnya gagal, tapi karena mungkin masalahnya sudah bukan lagi soal kemudahan akses.

Yang perlu diperiksa lebih dulu adalah pergeseran jenis hambatannya. Satu dekade lalu, hambatan untuk mulai berinvestasi memang struktural: minimum pembelian reksa dana bisa mencapai ratusan juta rupiah, satu lot saham setara 500 lembar, dan setoran awal di sekuritas sering dipatok puluhan juta. 

Sekarang, minimum investasi reksadana bisa mulai dari seribu rupiah, saham bisa dibeli secara fraksional, dan seluruh proses pembukaan rekening selesai dalam hitungan menit lewat aplikasi. Data pertumbuhan tadi, SID naik hampir 50%, akun reksa dana aktif naik lebih dari 2 juta dalam setahun, adalah bukti bahwa hambatan struktural itu memang sudah banyak yang runtuh. 

Namun, ada satu angka yang tidak ikut naik sejalan: nilai aset yang tercatat di C-BEST, sistem penyimpanan efek Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), justru turun 22% dibandingkan akhir 2024. Orang-orang membuka rekening lebih cepat dari sebelumnya. Yang mereka lakukan setelah rekening itu terbuka adalah cerita yang berbeda.

Di sinilah choice overload mulai masuk. Begitu hambatan akses hilang, yang tersisa adalah hambatan memilih, dan pilihannya sekarang jauh lebih banyak dari yang bisa ditangani kebanyakan orang dengan nyaman. Ada ratusan produk reksa dana dari puluhan manajer investasi yang beredar di berbagai platform distribusi, belum termasuk saham, obligasi ritel, fraksi saham, aset kripto, dan pembiayaan P2P yang semuanya bersaing memperebutkan alokasi dana yang sama. 

Semakin banyak opsi yang harus dibandingkan, semakin besar kemungkinan seseorang menunda keputusan sampai “nanti setelah riset lebih lengkap”, dan nanti itu sering tidak pernah datang. Salah satu indikator paling jujur soal ini adalah rasio investor yang benar-benar aktif bertransaksi dibanding total yang terdaftar. Pada akhir 2024, rata-rata investor yang aktif bertransaksi harian di pasar modal hanya sekitar 147 ribu orang, dari total basis investor yang saat itu sudah mendekati 15 juta SID. Rekeningnya ada. Keputusannya belum tentu ada.

Yang memperparah keadaan: kelimpahan pilihan produk sekarang dibarengi kelimpahan opini soal produk itu. Bukan cuma instrumennya yang banyak, tapi rekomendasi, prediksi, dan “sinyal” soal instrumen mana yang sedang bagus juga membanjiri linimasa media sosial setiap hari. Regulator sendiri tampaknya menyadari skala persoalan ini. Sepanjang tahun ini ada program edukasi investasi berkala yang melibatkan puluhan manajer investasi dan agen penjual, dirancang khusus untuk membantu investor pemula memahami produk sebelum memutuskan. 

Kalau masalahnya cuma soal jumlah produk, edukasi soal produk saja sudah cukup. Yang sebenarnya dibutuhkan banyak orang bukan lebih banyak informasi, tapi kepercayaan pada satu sumber informasi yang cukup. Itu jauh lebih sulit disediakan lewat kampanye literasi mana pun.

Akibat gabungan dari semua itu adalah godaan untuk menunggu momen yang paling tepat, yang pada praktiknya jarang benar-benar datang. Menunggu harga instrumen kripto turun lebih dulu, menunggu produk reksa dana baru yang katanya lebih optimal, menunggu penjelasan yang lebih lengkap sebelum benar-benar memutuskan. Semua terasa seperti kehati-hatian, padahal seringkali hanya penundaan berulang dengan alasan yang berbeda-beda. 

Dalam skala populasi, akibatnya terlihat jelas: meski jumlah investor tumbuh nyaris 50% tahun ini, tingkat penetrasi investor pasar modal Indonesia terhadap total populasi masih berada di kisaran 7%. Angkanya jauh di bawah negara tetangga seperti Singapura atau Jepang yang penetrasinya sudah di atas 30%. Pertumbuhan yang terlihat cepat di atas kertas, ternyata masih berjalan lambat dibanding potensi sesungguhnya.

Setiap platform baru menjanjikan investasi yang lebih mudah. Yang tidak pernah dijanjikan siapa pun: bantuan untuk berhenti mencari pilihan yang lebih baik dan mulai dengan yang ada.

Kita tidak kekurangan cara untuk mulai. Kita cuma kelebihan cara untuk menunda mulainya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Matthew Nainggolan
Research Analyst Investment & Treasury BNI Life

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.