Bersiap Musim Dingin Startup Belum Akan Berakhir

123rf/Igor Sapozhkov
Ilustrasi telaah, situasi dalam keadaan genting dan butuh pertolongan
15/12/2022, 16.00 WIB
  • Sejumlah pengamat memprediksi badai PHK karyawan startup saat ini belum mencapai puncaknya dan bisa memburuk di 2023.
  • Kombinasi antara keterbatasan aliran modal, strategi bakar uang, dan krisis global akan membuat efisiensi menjadi jalan yang dipilih startup.
  • Startup harus mulai mencari cara untuk mencari laba ketimbang jor-joran dengan strategi bakar uang.

Akhir pekan yang biasanya berisi sukacita tidak dirasakan Jevon (bukan nama sebenarnya) pertengahan November lalu. Pagi itu, manajernya datang, mengajaknya berbicara empat mata, dan memberi kabar buruk: ia di-PHK. Jevon adalah satu dari ratusan pegawai Ruangguru yang terdampak PHK pada Jumat, 18 November lalu.

Dari penuturan Jevon, Ruangguru merekrut terlalu banyak orang di masa pandemi sehingga sekarang harus memangkas jumlah karyawannya. Sebagai startup yang bergerak di bidang edutech, Ruangguru mendapat pasar yang besar kala pandemi karena murid harus belajar dari rumah dan membutuhkan pelajaran tambahan. 

Jevon pun begitu, ia bergabung dengan Ruangguru pada tahun lalu di divisi desain, lantaran banyaknya proyek yang diterima Ruangguru. Dalam catatan Katadata, Ruangguru mulai merekrut banyak pegawai pada 2020. Bahkan bila dibanding pada akhir 2019, jumlah karyawannya melonjak 25% menjadi 5.000 orang karyawan. 

“Tapi sekarang pandemi mereda, project-nya juga mungkin sudah berkurang, nggak sebanyak pandemi lah. Jadi orang yang direkrut itu udah nggak terlalu effort kerjaannya dan di-cut,” kata Jevon pada Katadata, Selasa (13/12).

Selama ia bekerja di Ruangguru, ia melihat perusahaan tersebut cukup stabil dan masih menghasilkan untung. Hal ini juga sesuai dengan laporan Tech in Asia yang menyatakan Ruangguru memperoleh laba operasional sekitar US$ 1,8 juta atau setara Rp 25,6 miliar pada 2020. Valuasi startup ini pun ditaksir mendekati taraf unicorn di angka lebih dari US$ 1 miliar.   

Sebulan pasca berhenti bekerja di Ruangguru, Jevon fokus untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Meski sebelumnya memiliki pengalaman terdampak PHK startup, Jevon mengaku dirinya masih tetap tertarik bekerja di perusahaan rintisan. 

“Nggak (kapok) kok. Nggak harus melihat jenis perusahaannya, yang penting aku tetap cari pekerjaan di bidang design,” tukas Jevon.

Infografik_Badai PHK Startup Belum Berlalu (Katadata/ Nurfathi)
 

Era Baru Pendanaan Startup 

Tidak hanya Ruangguru, efisiensi berupa PHK pun terpaksa dilakukan berbagai startup kecil hingga unicorn. Hingga Desember 2022 tercatat sudah ada 21 startup yang melakukan PHK pada karyawannya. 

Kendati badai PHK sudah banyak terjadi di berbagai startup, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai puncaknya masih belum terjadi, “Karena kami belum tahu apa yang akan terjadi pada 2023,” ujarnya pada Katadata (25/11). 

Menurutnya, bila prediksi ekonom yang menyatakan resesi global benar-benar terjadi tahun depan, otomatis startup akan meneruskan proses efisiensi. Salah satunya adalah mengurangi pegawai dalam jumlah yang besar. Adapun Heru menjabarkan lima faktor yang menyebabkan startup terpaksa melakukan PHK.

Pertama, kesulitan memperoleh investasi. Laporan Google, Temasek, dan Bain menyebut modal tersedia alias dry powder investor modal ventura Asia Tenggara memang menurun. Hanya sekitar US$ 15 miliar pada tahun ini. Padahal tahun lalu nilainya mencapai US$ 16 miliar. Lebih lanjut laporan ini memperkirakan perusahaan modal ventura akan berinvestasi di startup yang sudah pernah didanai, daripada menjelajahi startup baru. 

Faktor kedua menurut Heru, startup saat ini masih mengandalkan strategi bakar uang mengakuisisi pelanggan melalui beragam promo. Ketiga, pengeluaran tinggi untuk gaji pegawai dan fasilitas penunjang. Keempat, konflik Rusia dan Ukraina yang berdampak terhadap inflasi, dan terakhir ncaman resesi ekonomi global.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Eddi Danusaputro menjelaskan PHK adalah jalan efisiensi terakhir sebuah startup. Dari sisi investor pun sudah ada perubahan kebijakan dalam pemberian dana. Ia pun menuturkan kini Indonesia sedang memasuki masa pencarian keseimbangan baru, antara kualitas dan kuantitas startup.

“Pemberian dana enggak segampang dulu,” kata Eddi kepada Katadata. 

Eddi menuturkan sebelumnya pertimbangan modal ventura hanya berdasarkan pendapatan. Namun, saat ini pemodal mulai fokus ke laba. “Ini proses pendewasaan, enggak mungkin juga semua startup bertahan, kan?,” Eddi menambahkan.

Ia pun melihat bahwa startup yang bergerak dengan model business to business alias B2B akan lebih kuat daripada yang berbasis konsumen. Pasalnya, startup B2C sangat mengandalkan promosi terkait harga yang sudah sulit dilakukan dengan kebijakan pendanaan masa kini. Meski begitu, ada beberapa sektor startup yang menurutnya masih akan dilirik oleh investor.

“Misalnya fintech, itu biasanya orang tetap akan butuh, kemudian agritech karena orang masih harus tetap makan, dan health tech karena orang sudah lebih sadar akan kesehatan,” katanya. 

Di sisi lain, pandangan optimistis datang dari Chief Investment Officer Mandiri Capital Indonesia, Dennis Pratistha. Menurutnya, PHK adalah pilihan terakhir untuk efisiensi di tengah kondisi ekonomi global yang sedang melambat. Namun, bisnis lain masih akan tetap tumbuh dan menyerap tenaga kerja tersebut. 

Ia membandingkan keadaan PHK ini dengan krisis ekonomi 2008 lalu, di mana banyak pekerja bank investasi yang juga mengalami pemutusan hubungan kerja. Dari amatan Dennis, tidak butuh waktu lama bagi karyawan yang terdampak ini untuk bekerja di sektor baru yang tercipta kala itu.

“Jadi ketika kondisi membaik, saya yakin justru akan membuat perusahaan lebih baik, ekonomi lebih baik, dan mereka direkrut oleh different position on different company,” kata Dennis.

Gagasan serupa dikemukakan Co-Founder sekaligus Managing Partner Ideosource dan Gayo Capital Edward Ismawan Chamdani. Menurutnya, PHK yang terjadi sekarang cenderung menerpa startup yang sudah besar dan berada di sektor yang sudah lama digarap investor. Ia melihat masih banyak sektor yang belum digarap serta memiliki peluang lebih besar.

“Rata-rata yang sudah mature seperti e-commerce dan fintech itu CAGR-nya 20%-25%, sudah pasti. Tapi kalau misalnya ada startup yang fokusnya ke pasar baru atau blue ocean, itu masih bisa lebih tinggi lagi,” kata Edward dalam sambungan telepon dengan Katadata, Rabu (14/12).

Oleh sebab itu, peneliti ekonomi digital Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menyarankan agar startup mulai mengubah strategi kerja mereka. Sebagai sebuah perusahaan yang mengandalkan pendanaan untuk bersaing, startup harus membuat perkiraan kapan mereka akan mencapai keuntungan.

“Mereka harus lepas dari strategi bakar uang. Sekarang bukan zamannya balik modal 10 tahun, harus lebih cepat,” ujar Nailul. 

Bisakah Pemerintah Bisa Bantu Startup?

Mengutip laporan Google, Temasek, dan Bain, Nailul menjelaskan ada penurunan proyeksi ekonomi digital Indonesia pada 2025. Dalam laporan tahun lalu, ekonomi digital Indonesia diproyeksi bisa mencapai US$ 146 juta pada 2025. Namun, tahun ini proyeksi tersebut turun menjadi US$ 130 juta, seperti yang ditampilkan pada Databoks berikut:

 

“Apa artinya? Sebenarnya Google memperkirakan ekonomi Indonesia itu dalam keadaan yang tidak baik-baik saja dan investasi pun melambat,” kata Nailul melalui sambungan telepon dengan Katadata, Rabu (14/12)

Dengan perubahan tersebut, Nailul berharap pemerintah bisa masuk ke dalam ekosistem startup melalui perusahaan modal ventura milik pemerintah. Beberapa diantaranya seperti Mandiri Capital, BRI Ventures, MDI Ventures, Telkomsel Mitra Inovasi dan terakhir BNI Ventures.

“Sebenarnya yang diharapkan startup ini pendanaan, inliah yang bisa dipegang oleh BUMN melalui perusahaan modal ventura. Kalau soal perubahan aturan itu bersifat relatif saja agar startup tidak semakin terpuruk,” jelas Nailul.

Meski begitu, Eddi tidak menyarankan adanya relaksasi aturan untuk membantu jalannya startup di Indonesia. Menurutnya, resiliensi startup harus dibangun secara alami. “Saya tidak suka founder dimanja dengan sedikit-sedikit dibantu dan dibela. Founder startup sering gitu, dapat founding dia go crazy, giliran susah dia efisiensi. Itu terlalu ekstrem menurut saya” tegasnya. 

Reporter: Amelia Yesidora