Reli Semu IHSG dan Euforia Saham Gorengan, Alarm Rapuhnya Fondasi Pasar Modal RI
Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) datang secara beruntun dalam sepekan terakhir. Rilis terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Rabu (28/1) yang mengumumkan penangguhan penyesuaian ulang atau rebalancing saham-saham Indonesia dalam indeks global menjadi penyulut utama. Tekanan ini sekaligus menyingkap struktur pasar saham Indonesia yang rapuh dan terlalu bergantung pada reli saham-saham spekulatif.
MSCI menyebut tidak dapat mengikutkan saham Indonesia dalam kocok ulang lantaran belum terpenuhinya standar metodologi yang diinginkan. Lembaga pemeringkat yang menjadi rujukan investor global itu menyoroti kualitas kepemilikan saham publik (free float), keterbukaan data kepemilikan, serta kedalaman dan likuiditas pasar.
Pengumuman MSCI direspons negatif pelaku pasar. IHSG rontok melebihi 8% hingga memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham atau trading halt. Sehari berselang, dua bank investasi global yaitu Goldman Sachs dan UBS AG menurunkan peringkat investasi saham Indonesia, memicu pelemahan lanjutan IHSG dan kembali berujung pada trading halt.
Tekanan eksternal itu berkembang menjadi krisis di pasar modal Tanah Air. Direktur Utama BEI Iman Rachman menyatakan mundur pada Jumat (30/1) sebagai bentuk tanggung jawab atas gejolak pasar. Empat petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk Ketua Dewan Komisioner Mahendra Siregar dan wakilnya Mirza Adityaswara, turut menyatakan mundur yang menandakan tekanan telah menjalar ke level institusional.
“Sebagai bentuk tanggung jawab atas apa yang terjadi dua hari ini, saya menyatakan mengundurkan diri sebagai Direktur Utama BEI,” kata Iman dalam konferensi pers.
Namun, gejolak pasar tidak berhenti pada perubahan kepemimpinan. Rilis MSCI justru membuka diskusi yang lebih mendasar tentang kualitas pasar saham Indonesia. OJK mengakui kedalaman pasar modal domestik masih terbatas, sehingga pergerakan IHSG sangat sensitif terhadap perubahan sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri.
Kondisi tersebut tercermin dari pergerakan IHSG yang dengan cepat reli hingga menembus level 9.000 pada pekan kedua Januari, namun juga mudah terperosok ketika sentimen global berbalik arah. Pada perdagangan Senin (2/2), meski pemerintah melalui OJK dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) melakukan intervensi untuk menenangkan pasar, IHSG tetap ditutup melemah 5,45%.
OJK menilai struktur pasar modal Indonesia masih bergantung pada pergerakan saham-saham tertentu yang likuiditasnya tinggi, tetapi fundamental dan tata kelolanya dipertanyakan. Catatan MSCI soal likuiditas sejalan dengan dominasi saham berkapitalisasi menengah yang pergerakannya sangat volatil.
Dibandingkan dengan negara ASEAN, pasar Indonesia masih memiliki banyak ruang pengembangan. Bila dilihat dari kapitalisasi, market cap pasar RI pada 2025 berada di kisaran US$ 911 miliar di atas Singapura US$ 563 miliar dan Thailand US$ 500 miliar. Namun, dari segi rasio kapitalisasi pasar terhadap GDP Indonesia masih berada di bawah Malaysia dan Singapura seperti terlihat dari gambar berikut:
Data perdagangan BEI memperkuat kekhawatiran tersebut. Dalam beberapa pekan terakhir, pergerakan IHSG tidak sepenuhnya ditopang saham-saham unggulan anggota indeks LQ45. Sebaliknya, sebagian besar penguatan indeks justru dipengaruhi saham di luar indeks utama yang volatilitasnya tinggi.
Pada pekan terakhir Januari, BEI mencatat 8 dari 10 saham penopang IHSG berasal dari luar LQ45. Saham-saham berkapitalisasi menengah seperti PT Bintang Oto Global Tbk (BOGA), PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI), dan Bhakti Multi Artha Tbk (BHAT) justru tampil menjadi penggerak utama indeks.
BOGA dan ELPI, misalnya, mencatatkan kenaikan harga mingguan masing-masing 38% dan 50% meskipun kapitalisasi pasarnya relatif kecil. Lonjakan ini memberi tambahan poin bagi IHSG. Namun, lantaran tidak ditopang fundamental yang mapan dan likuiditas berkelanjutan, saham tersebut tidak masuk radar investor institusi global.
Sebaliknya, sejumlah saham berkapitalisasi besar anggota LQ45 seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Barito Renewables Energi Tbk (BREN) justru tercatat menjadi pemberat indeks. Ekstremnya volatilitas saham di luar indeks utama juga tercermin dari lonjakan harga mingguan seperti terlihat dari tabel berikut:
Dominasi Reli Saham Gorengan
Rentannya pasar saham Indonesia juga terlihat dari sisi aktivitas perdagangan. Saat IHSG reli hingga menyentuh level baru di 9.000 pada awal Januari, aktivitas perdagangan terkonsentrasi pada segelintir saham volatil, terutama di luar LQ45.
Saham-saham berkapitalisasi kecil hingga menengah mencatat lonjakan frekuensi dan volume transaksi. Sementara saham-saham berkapitalisasi besar tidak mengalami peningkatan aktivitas yang sepadan.
Selama masa reli, transaksi harian di BEI konsisten berada di kisaran Rp 18 triliun hingga Rp 22 triliun per hari, lebih tinggi dibandingkan rata-rata sepanjang 2025 yang berada di bawah Rp 15 triliun. Namun, kemunculan saham dengan rasio valuasi sangat tinggi di papan top gainers dan top leaders IHSG justru memunculkan kembali sorotan mengenai saham gorengan.
Berikut daftar 10 saham penghuni top gainers selama Januari 2026
| Emiten | Kode | Periode | Perubahan Harga Sepekan(rp) | Kenaikan harga sepekan (%) |
| PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk | RMKO | Top Gainer 12–15 | 990 | 133,78% |
| PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk | BIPI | Periode 26-30l | 110 | 119,57% |
| PT Abadi Lestari Indonesia Tbk | RLCO | Periode 26-30 | 2.070 | 106,70% |
| PT Ifishdeco Tbk | IFSH | Periode 26-30 | 865 | 106,13% |
| PT Soho Global Health Tbk | SOHO | Top Gainer 5–9 | 1.730 | 104,85% |
| Kokoh Exa Nusantara Tbk | KOCI | Periode 26-30 | 84 | 97,67% |
| PT Satria Mega Kencana Tbk | SOTS | Top Gainer 5–9 | 2.445 | 94,77% |
| PT Indospring Tbk | INDS | Top Gainer 5–9 | 269 | 94,06% |
| PT Artha Mahiya Investama Tbk | AIMS | Top Gainer 12–15 | 389 | 91,31% |
| PT Bersama Mencapai Puncak Tbk | BAIK | Top Gainer 12–15 | 151 | 87,28% |
Sumber: BEI diolah
Pejabat Pengganti Anggota Dewan Komisioner sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, mengatakan tidak ada definisi khusus mengenai saham gorengan dalam regulasi. Istilah tersebut merujuk pada praktik pembentukan harga saham tak wajar sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995.
“Undang-undang sudah jelas mengatur apa yang dimaksud dengan manipulasi harga di pasar. Tindakan tersebut masuk dalam kategori pelanggaran pidana,” ujar Hasan.
Dalam Pasal 91 disebutkan larangan bagi setiap pihak menciptakan gambaran semu atau menyesatkan mengenai kegiatan perdagangan, kondisi pasar, atau harga efek. Keberadaan saham gorengan yang tidak memiliki bobot struktural kuat membuat IHSG mudah berbalik arah. Harga saham dapat berubah drastis dalam waktu singkat dan memicu aksi ambil untung massal ketika sentimen negatif muncul.
Fenomena lain yang memperkeruh ritme pasar adalah minimnya keterbukaan informasi yang mendasari lonjakan harga saham gorengan. Pergerakan harga seringkali dibarengi ajakan beli dari kelompok tertentu, termasuk pemengaruh di media sosial.
Sebagai contoh, saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) pada pekan kedua Januari melonjak setelah adanya komentar Yudo Achilles Sadewa, anak Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa, yang menyebut dalam unggahannya bermimpi harga saham DADA naik hingga Rp 300 ribu. Saham yang semula di level 50 tersebut sempat menyentuh auto reject atas (ARA) di Rp 67 sebelum berbalik turun tajam ke auto reject bawah (ARB) dan parkir di harga Rp 50 lagi pada hari yang sama.
Manajemen DADA kemudian menyatakan tidak mengetahui adanya informasi material yang dapat mempengaruhi harga saham perseroan. “Perseroan tidak mengetahui adanya informasi fakta atau kejadian penting lainnya yang bersifat material dan dapat mempengaruhi efek perseroan,” tulis manajemen dalam surat kepada BEI.
Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, menilai fenomena influencer saham tidak terelakkan seiring membesarnya jumlah investor ritel domestik. Menurutnya, pemengaruh dengan jumlah pengikut besar di media sosial berpotensi memengaruhi keputusan beli investor.
“Dengan semakin banyaknya investor ritel, memang fenomena ini tidak terelakkan. Hati-hati saja jangan terjebak saham gorengan,” kata Rudiyanto.
Di tengah upaya BEI dan OJK memelototi dugaan aksi menggoreng saham di bursa, muncul pula perdebatan apakah pergerakan saham yang terafiliasi dengan konglomerat juga masuk kategori gorengan atau tidak?
Menjawab perdebatan itu Hasan menyatakan OJK tidak akan menunjuk saham atau pihak tertentu. OJK hanya akan menilai apakah suatu praktik memenuhi unsur manipulasi harga di pasar atau tidak.
“Bukan soal saham siapa. Selama unsur tindak pidana kejahatan di pasar modal terpenuhi maka akan kami tindak. Penegakan ketentuan dan hukum ini menjadi bagian dari rencana aksi reformasi pasar modal dan akan kami lakukan,” ujarnya.
Risiko Sistemik dari Saham Gorengan
Rapuhnya struktur pasar saham Indonesia disadari oleh pengambil kebijakan. Pejabat Pengganti Ketua sekaligus Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan otoritas akan memperkuat penegakan hukum terhadap berbagai pelanggaran di pasar modal, termasuk praktik manipulasi saham.
“Contoh yang utama yang akan kami lakukan penguatan enforcement adalah manipulasi transaksi saham atau yang sering disebut goreng-goreng saham, serta penyebaran informasi yang menyesatkan,” ujar Friderica.
Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan setiap aktivitas yang bertujuan memanipulasi harga saham merupakan kejahatan pasar modal dan akan ditindak tegas oleh otoritas dan self regulatory organization (SRO). Namun, dominasi saham gorengan bukan sekadar persoalan volatilitas jangka pendek.
Di sisi lain, pergerakan harga yang ekstrem kerap diiringi konsentrasi kepemilikan, transaksi afiliasi, serta minimnya transparansi. Dalam kondisi pasar tertekan, saham-saham tersebut cenderung mengalami koreksi tajam dan memicu efek domino terhadap sentimen investor ritel.
Sementara itu, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai praktik saham gorengan tumbuh dari struktur pasar yang belum sepenuhnya sehat. Beberapa faktor mulai dari free float yang kecil, likuiditas timpang, hingga rendahnya literasi sebagian investor membuat praktik saham gorengan merajalela.
“Regulator perlu memperkuat sistem deteksi dini transaksi tidak wajar, meningkatkan transparansi kepemilikan dan afiliasi, serta menegakkan sanksi pasar secara konsisten agar menimbulkan efek jera,” ujar Hendra.
Ia menambahkan, pendekatan pidana sebaiknya ditempatkan sebagai langkah lanjutan jika ditemukan unsur penipuan terorganisir atau kerugian publik yang nyata. Pendekatan yang terlalu represif tanpa pemahaman mekanisme pasar justru berisiko menimbulkan ketakutan dan menggerus kepercayaan investor.
Peran Investor Institusi dan Kualitas Volatilitas Pasar
Selain manipulasi harga, kualitas volatilitas pasar saham juga sangat dipengaruhi oleh struktur investor. Hingga kini, aktivitas perdagangan di BEI masih didominasi investor ritel, baik dari sisi jumlah maupun frekuensi transaksi.
Data BEI menunjukkan investor ritel menyumbang sekitar 47,3% dari nilai transaksi harian. Sementara itu, dari sisi kepemilikan jangka panjang, peran investor institusi termasuk dana pensiun dan perusahaan asuransi masih relatif terbatas, yakni di kisaran belasan persen.
Ketimpangan struktur investor tersebut membuat pergerakan harga saham lebih mudah terdistorsi, terutama pada saham-saham dengan free float kecil dan likuiditas terbatas. Investor ritel yang cenderung berorientasi jangka pendek membuat reli harga berlangsung cepat, tetapi mudah berbalik arah saat sentimen berubah.
Sebagai upaya memperbaiki kualitas volatilitas, OJK berencana mendorong peningkatan peran investor institusi jangka panjang dengan menaikkan batas porsi investasi saham dari maksimum 8% menjadi 20% dari total portofolio dana pensiun dan perusahaan asuransi. Kebijakan ini diharapkan dapat menciptakan basis permintaan yang lebih stabil dan memperbaiki struktur kepemilikan pasar.
Pada akhirnya, euforia saham gorengan bukan sekadar persoalan selera spekulasi investor ritel, melainkan cerminan persoalan struktural pasar modal Indonesia yang belum sepenuhnya matang. Selama kedalaman pasar masih terbatas dan mekanisme pengawasan belum maksimal, IHSG akan tetap rapuh dan mudah terguncang oleh perubahan sentimen.
Tantangan bagi regulator bukan hanya menindak pelanggaran setelah gejolak terjadi, tetapi membangun kualitas pasar yang mampu menopang pertumbuhan jangka panjang. Kenaikan indeks perlu ditopang oleh fundamental, tata kelola, dan kepercayaan yang berkelanjutan, bukan oleh lonjakan semu yang sewaktu-waktu berubah menjadi krisis.