Selama satu dekade terakhir, BUMN Karya menjadi tulang punggung pembangunan infrastruktur nasional. Namun di balik laju ekspansi itu, tersimpan akumulasi risiko yang kini mulai menagih harga.

Memasuki 2025, kinerja emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor konstruksi tidak sekadar melambat, tetapi memasuki fase koreksi yang dalam. Lonjakan kerugian yang terjadi di hampir seluruh entitas menjadi sinyal bahwa tekanan yang selama ini tersembunyi akhirnya muncul bertepatan dengan upaya penyehatan yang tengah dikebut Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara. 

Sebagian besar perusahaan mencatatkan kerugian yang semakin dalam, bahkan ada yang berbalik dari laba menjadi rugi. Secara total, dari empat induk BUMN Karya yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI), kerugian empat emiten konstruksi pelat merah mencapai Rp 18,2 triliun, melonjak tajam dibanding Rp 5,5 triliun pada tahun buku 2024.

Di sisi lain, lonjakan kerugian tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan memburuknya operasional, melainkan juga bagian dari proses pembersihan laporan keuangan yang selama ini ditopang akuntansi. Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan era “mempercantik” kinerja telah berakhir.

 “Tidak ada lagi laporan yang dibedaki agar terlihat sehat. Kalau kinerjanya tertekan, harus tercermin apa adanya,” ujar Rosan.

Dalam konteks itu, hanya segelintir entitas yang masih mampu bertahan di zona positif. Koreksi ini, meski menekan kinerja jangka pendek, dipandang sebagai langkah krusial untuk memulihkan kredibilitas dan kesehatan keuangan BUMN Karya dalam jangka panjang. Lebih lengkap mengenai kinerja emiten BUMN Karya bisa dilihat dari tabel berikut: 

Ringkasan Kinerja Emiten BUMN Karya 

EmitenPerusahaanKinerja 2025 Kinerja 2024 (Rp)
PTPPPT PP Tbk (PTPP)(Rp 8,08 triliun) (Rp 1.8 triliun)
PPREPT PP Presisi Tbk (Rp 1.34 triliun)Rp 197,98 miliar 
PPROPT PP Properti Tbk(Rp 4,84 triliun) (Rp 1,09 triliun) 
WIKAPT Wijaya Karya (Persero) Tbk(Rp 10,18 miliar) (Rp 2,59 milir)
WTONPT Wijaka Karya Beton Tbk Rp 5,7 miliar Rp 67,56 miliar 
WEGEWijaya Karya Bangunan Gedung( Rp 627,92 miliar) Rp 56,6 miliar 
WSKTPT Waskita Karya(Rp 4.36 triliun) (Rp 3.83 triliun) 
WSBPWaskita Beton Precest (Rp 495,46 miliar) (Rp 920,21 miliar)
ADHIPT Adhi Karya Tbk (Rp 5,56 triliun)Rp 113,26 miliar 
ADCPPT Adhi Commuter Properti TbkBelum diumumkanRp 42,8 miliar 

Salah satu emiten yang belum terjebak di zona rugi adalah PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) dengan laba komprehensif tahun berjalan Rp 5,7 miliar. Direktur Utama WTON Kuntjara mengatakan strategi diversifikasi bisnis dan efisiensi menjadi kunci kinerja.
“Dua tahun terakhir WTON melakukan transformasi di proses produksi. Sehingga yang dinamakan lean process itu bukan jargon, memang kita lakukan betul-betul,” kata Kuntjara seperti dikutip Selasa (7/4).

Perusahaan juga memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk menekan biaya serta mengurangi pemborosan. Selain itu, inovasi penggunaan material seperti fly ash turut meningkatkan efisiensi sekaligus mendukung keberlanjutan.

Bila ditarik lebih jauh, tekanan terhadap BUMN Karya kini tidak lagi bertumpu pada ekspansi, melainkan pada menyusutnya proyek dan margin yang kian tergerus. Pada saat yang sama, beban pembiayaan tinggi menjadi faktor utama yang menggerus kinerja secara menyeluruh.

Sejumlah ekonom menilai fase koreksi ini merupakan konsekuensi dari model bisnis yang terbentuk pada masa ekspansi. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai akar persoalan tidak berada di permukaan.
“Mayoritas pembengkakan kerugian BUMN Karya sumber masalah berada di jantung model bisnis, bukan di permukaan laporan laba rugi,” ujar Syafruddin kepada Katadata.co.id.

Ia mencontohkan kondisi PT Waskita Karya Tbk yang masih dibebani utang lama, tekanan bunga tinggi, serta penurunan proyek. Dengan struktur keuangan seperti itu, ruang untuk ekspansi baru menjadi terbatas, sementara kewajiban lama tetap harus ditanggung.

Lebih jauh, penugasan proyek pada masa sebelumnya juga menyisakan persoalan. Ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai sejumlah proyek tidak sepenuhnya layak secara finansial, tetapi tetap dijalankan dengan pembiayaan komersial.
“Ini membuat tingkat utang mereka melejit,” ujar Wijayanto.

Kombinasi antara proyek dengan imbal hasil rendah, tingginya utang, serta keterlambatan pembayaran pada akhirnya membuat tekanan terhadap arus kas semakin berat.

Restrukturisasi, Menata Ulang Fondasi

Tekanan yang kini dihadapi, memaksa BUMN Karya memasuki fase yang tidak terhindarkan, yakni penyehatan dan penataan ulang fondasi bisnis. Tekanan laba yang terlihat dalam laporan keuangan justru menjadi bagian dari strategi koreksi yang didorong Danantara untuk menata ulang fondasi bisnis secara lebih transparan.

Pada saat bersamaan, Danantara juga kian dekat untuk mengumumkan penggabungan atau merger beberapa entitas. Direktur Utama PTPP Novel Arsyad mengatakan proses tersebut sudah melalui tahap diskusi, meski ia menekankan merger sebaiknya dilakukan setelah kondisi keuangan perusahaan benar-benar sehat.
“Kalau kami melihat, mestinya lebih mengarah restrukturisasi terlebih dahulu dengan perusahaan itu benar-benar sehat, sehingga akan dilakukannya merger,” ujar Novel.

Ia menjelaskan, saat ini PTPP masih menjalani tahapan restrukturisasi sebelum menuju proses merger, termasuk evaluasi bersama PT Adhi Karya Tbk (ADHI).

Di sisi lain, langkah divestasi juga mulai dijalankan. Sejumlah aset dilepas atau dikembangkan bersama mitra strategis guna meningkatkan nilai tambah. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari perampingan struktur usaha untuk memperkuat likuiditas.

Langkah serupa juga ditempuh PT Adhi Karya Tbk melalui pembukuan biaya non-operasional dan pencadangan kerugian. Dalam jangka pendek, langkah ini memang menekan laba, tetapi menjadi bagian dari pembersihan neraca untuk memperbaiki fondasi keuangan.

Sementara itu, Direktur Utama Wijaya Karya Agung Budi Waskito menyebut Danantara memberi sinyal hanya akan menyisakan tiga BUMN Karya pasca-merger. Namun, fokus utama saat ini tetap pada percepatan penyehatan kinerja dan peningkatan kualitas pelaporan keuangan.

Selain restrukturisasi utang, WIKA juga mulai menyiapkan perampingan anak dan cucu usaha. Evaluasi menyeluruh dilakukan untuk memastikan keberlanjutan setiap entitas, termasuk kemungkinan penutupan atau restrukturisasi bagi unit yang tidak lagi prospektif. Langkah ini menjelaskan bahwa tekanan yang dihadapi bukan lagi bersifat siklikal, melainkan menuntut koreksi struktural pada model bisnis.

Peran Danantara: Restrukturisasi atau Sekadar Menyatukan Masalah?

Di titik ini, peran Danantara menjadi semakin krusial sebagai penentu arah restrukturisasi BUMN Karya. Lembaga ini tidak hanya diharapkan mengorkestrasi penyehatan, tetapi juga memastikan pergeseran menuju model bisnis yang lebih berkelanjutan.

Namun, efektivitas langkah tersebut masih menjadi pertanyaan. Wacana merger dan konsolidasi dinilai belum cukup untuk menjawab persoalan mendasar. Syafruddin menilai penggabungan entitas memang berpotensi meningkatkan efisiensi dan skala usaha, tetapi tidak serta-merta memperbaiki kualitas aset maupun arus kas.
“Karena itu merger layak dilihat sebagai alat restrukturisasi, bukan sebagai obat utama,” ujarnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa inti persoalan BUMN Karya terletak pada fondasi bisnis yang rapuh. Selama proyek berimbal hasil rendah masih dijalankan, disiplin investasi longgar, dan arus kas tidak terjaga, konsolidasi berisiko hanya memindahkan masalah ke entitas yang lebih besar.

Pandangan serupa disampaikan Wijayanto. Tanpa perubahan strategi dan tata kelola, merger justru berpotensi memperbesar kompleksitas persoalan, terutama dalam kondisi neraca yang masih terbebani.

Di sisi lain, Danantara menegaskan fokus restrukturisasi saat ini berada pada pembenahan fundamental—mulai dari penyesuaian nilai aset, restrukturisasi utang, hingga peningkatan kualitas pelaporan keuangan. Tahapan ini menjadi prasyarat sebelum konsolidasi dilakukan.

Apa yang terjadi pada BUMN Karya saat ini pada dasarnya merupakan fase koreksi dari siklus ekspansi panjang yang tidak sepenuhnya diimbangi kualitas pertumbuhan. Lonjakan kerugian ini bukan anomali, melainkan harga yang harus dibayar dari model pertumbuhan yang sejak awal rapuh.

Langkah penyehatan yang kini dijalankan memang mengarah pada perbaikan struktural. Namun, tantangan sesungguhnya bukan hanya membersihkan neraca, melainkan memastikan transformasi model bisnis berjalan secara konsisten.

Di tengah prospek proyek yang lebih terbatas dan tekanan pembiayaan yang masih tinggi, BUMN Karya tidak lagi bisa mengandalkan pola lama berbasis ekspansi volume. Ke depan, keberhasilan akan ditentukan oleh kemampuan menjaga kualitas proyek, disiplin finansial, serta menciptakan sumber pendapatan yang lebih stabil.

Tanpa perubahan mendasar, restrukturisasi berisiko hanya menjadi jeda sementara, bukan titik balik. Di tengah ruang fiskal yang menyempit dan pasar yang kian selektif, BUMN Karya tidak lagi dituntut sekadar bertahan, tetapi membuktikan bahwa model lama yang rapuh benar-benar ditinggalkan. Jika tidak, fase koreksi ini berpotensi menjadi awal dari siklus krisis berikutnya.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila, Karunia Putri