Dari Hormuz ke Bojong Gede: Saat Perang Ikut Menggerus Laba Pedagang Plastik
Toko plastik milik Restu Anggi (42) tampak biasa saja. Plafonnya sudah menguning dimakan usia. Namun dalam beberapa bulan terakhir, rak-rak yang dulu menjadi sumber penghidupan itu justru berubah menjadi sumber tekanan. Harga plastik melonjak, margin tergerus, dan usahanya kini berada di ujung ketidakpastian.
Restu sudah menempati toko itu sejak 2015. Lokasinya strategis, tidak jauh dari Stasiun Bojong Gede, Bogor. Tokonya nyaris tak pernah tutup kecuali saat perayaan hari-hari besar seperti lebaran. Hasilnya memang tak seberapa. Namun, dari berjualan plastik itulah Restu menggantungkan hidupnya.
Belakangan, periuk dapurnya itu terusik. Perang di Iran membuat harga plastik melonjak. Saat Selat Hormuz tercekik, pasokan minyak global seret. Dampaknya bukan cuma ke energi. Plastik juga bergantung dari minyak mentah untuk bahan baku. Iran dan toko plastik di Bojong Gede itu berjarak lebih dari 7.400 kilometer, tapi apa yang terjadi sana, Restu ikut merasakannya.
Restu bercerita, hampir seluruh produk plastik melonjak harganya. Beberapa produk kenaikannya lebih dari 50%. “Yang paling terasa itu plastik bening untuk bungkus, seperti buat es, laundry. Itu naiknya luar biasa,” katanya, saat ditemui Katadata.
Harga plastik es yang sebelumnya ia jual Rp33.000 kini naik hingga Rp53.000 per pak. Restu pun tak punya pilihan selain merogoh modal lebih dalam. Tidak hanya pembungkus. Produk lain seperti sedotan, gelas plastik, hingga wadah makanan juga ikut meroket.
Kenaikan harga ini mulai terasa sebelum lebaran. Awalnya, Restu berpikir tren ini dipicu oleh kenaikan musiman biasa saat permintaan melonjak. Namun, harga tak kunjung turun dan bahkan kian meroket.
Menaikkan harga jual produk juga bukan opsi yang mudah. Saat ini Restu cenderung memangkas margin keuntungan, dari sebelumnya di kisaran 15% menjadi hanya 8%.
“Harganya masih berubah-ubah. Harga tadi malam bisa berbeda dengan harga pagi ini. Kami jadi tertekan,” keluhnya.
Sementara itu, tak jauh dari toko plastik milik Restu, Yanto (35) dan Indra (28) ikut merasakan dampak kenaikan harga plastik. Yanto bergantung pada kemasan plastik untuk menjual es teh, sementara Yanto memakainya untuk menjual gorengan. Harga gelas plastik naik dari sebelumnya Rp5.000 per pak menjadi Rp9.000 per pak.
“Kalau harga dinaikkan, susah. Pembeli pada kabur,” katanya.
Menekan industri dan UMKM
Bagi para pedagang kecil, kenaikan harga plastik akan membuat mereka terjepit. Sekretaris Jenderal Asosiasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Indonesia (Akumindo) Edy Misero mengatakan banyak pelaku UMKM memilih tidak menaikkan harga jual agar tetap kompetitif di pasar. Langkah ini diambil agar produk tetap terjangkau bagi masyarakat, terutama di tengah kekhawatiran pelemahan daya beli.
Menurut Edy, dampak kenaikan harga plastik dapat dibagi ke dalam dua kelompok UMKM. Pertama, pelaku usaha yang menjadikan plastik sebagai bahan baku utama. Ini misalnya produsen barang berbahan plastik, kemasan makanan, hingga produk turunan lainnya. Kelompok ini disebut paling terdampak karena kenaikan harga langsung memukul biaya produksi.
“Kemudian ada UMKM yang menggunakan plastik sebagai pembungkus atau penunjang, misalnya pedagang di pasar. Dampaknya tetap ada, tapi tidak sebesar yang menjadikan plastik sebagai bahan baku utama,” katanya.
Edy menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah untuk meredam tekanan harga. Salah satunya dengan mendorong pengelolaan limbah plastik agar dapat didaur ulang menjadi bahan baku.
“Plastik harus dipilah dan diolah kembali agar bisa jadi bahan baku. Itu bisa membantu mengurangi ketergantungan pada impor,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga didorong mencari sumber impor alternatif untuk biji plastik guna menjaga pasokan tetap stabil. Pasalnya, kebutuhan plastik di dalam negeri dinilai terus meningkat seiring aktivitas ekonomi masyarakat.
Tidak hanya menekan UMKM, kenaikan harga plastik juga membebani industri secara umum. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menyebut komponen plastik menyumbang 20%-40% dari total biaya produksi. Pada beberapa produk tertentu bahkan mencapai 50%-80%.
“Bagi UMKM dan sektor dengan margin tipis, kondisi ini sudah mulai menggerus profitabilitas,” katanya kepada Katadata.
Berbagai sektor seperti makanan dan minuman, fast moving consumer goods (FMCG), farmasi, logistik, hingga ritel merasakan dampaknya. Perkumpulan Pengusaha Air Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA) misalnya, memperkirakan harga air minum dalam kemasan (AMDK) berpotensi naik 35%–45%.
Ketua Umum AMDATARA, Karyanto Wibowo, menjelaskan harga bahan baku plastik seperti Polietilena Tereftalat (PET) resin, high density polyethylene (HDPE), dan polipropilen (PP) telah melonjak antara 25% hingga 70%. Beberapa material bahkan naik hingga dua kali lipat. Kondisi ini membuat biaya produksi AMDK meningkat tajam dan berpotensi mendorong kenaikan harga jual di tingkat konsumen dalam waktu dekat.
“Kami menyampaikan keprihatinan serius atas tekanan yang semakin berat terhadap industri AMDK akibat lonjakan harga bahan baku kemasan,” ujar Karyanto kepada Katadata.co.id, Jumat (10/4).
Pengalihan Impor
Meskipun kenaikan harga plastik sudah dirasakan hingga ke tingkat pedagang kecil, pemerintah masih cukup percaya diri. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita misalnya, memastikan stok plastik bagi industri dalam negeri tetap aman.
“Plastik merupakan produk turunan dari petrokimia berbasis minyak bumi, sehingga gangguan pada pasokan nafta secara global memang berdampak pada industri,” ujar Agus dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/4).
Kemenperin juga menepis isu stok plastik nasional yang hanya mampu bertahan hingga Mei 2026. Ia memastikan kondisi di lapangan masih terkendali. Agus mengacu pada data Indeks Kepercayaan Industri (IKI), subsektor industri kemasan pada Maret 2026 tercatat berada dalam fase ekspansi yang tinggi. Hal ini menandakan kinerja industri tetap kuat dan pasokan produk masih mencukupi.
Hal senada juga diungkapkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Meski tak menampik kenaikan harga plastik, menurutnya kenaikan itu masih terkendali.
“Jadi kita lihat ke depan seperti apa. Ini dampak kenaikan BBM bukan, tapi yang jelas katanya harga plastik sudah naik, karena bahan baku plastik bukan dari minyak juga. Tapi, secara umum masih terkendali,” kata Purbaya di kantornya, Selasa (7/4).
Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pihaknya tengah mencari alternatif impor bahan baku bijih plastik dan nafta dari India, Amerika, dan Afrika. Namun, proses ini memerlukan waktu.
“Banyak yang force majeure. Ini memang krisis global terkait keterbatasan bahan baku,” katanya.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Fajar Budiyono, mengatakan industri sebenarnya telah mengantisipasi potensi gangguan sejak akhir Februari 2026, ketika terjadi serangan ke Iran. Menurutnya, kondisi itu diperparah dengan momentum menjelang Lebaran, di mana industri lebih fokus menjaga distribusi produk ke pasar. Namun, perubahan situasi yang cepat membuat kepastian pasokan bahan baku menjadi sulit diprediksi.
“Di minggu pertama kita sudah mulai membuat perkiraan, tapi di minggu kedua harga sudah melonjak. Kemudian di minggu ketiga, banyak pabrik yang tutup sehingga ketidakpastian suplai bahan baku semakin besar,” ujar Fajar kepada Katadata.co.id, Kamis (2/4).
Sebelumnya pasokan bahan baku plastik yang berasal dari Timur Tengah dapat dikirim dalam waktu relatif singkat, sekitar 10 hingga 15 hari. Namun kini, dengan peralihan sumber impor ke luar kawasan tersebut, waktu pengiriman meningkat tajam.
"Ini menjadi tantangan besar bagi industri untuk menjaga keberlanjutan pasokan,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, industri mulai mencari alternatif sumber bahan baku dari berbagai kawasan, seperti Afrika, Asia Tengah, hingga Amerika. Meski demikian, perubahan pola impor ini turut berdampak pada efisiensi logistik dan biaya produksi.