Kala Meme Rp17.845 per Dolar Kian Nyata, Bagaimana Cegah Rupiah Tak Makin Jatuh?
Nada santai keluar dari mulut Presiden Prabowo Subianto pada akhir pekan lalu, saat menanggapi nilai tukar rupiah yang terus melemah. Sambil berguyon, ia menyebut pelemahan rupiah hanya menjadi kekhawatiran segelintir pihak dan tak berdampak pada warga desa.
"Mau dolar berapa ribu (rupiah), kalian di desa-desa tidak pakai dolar,” ujar Prabowo saat peresmian Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5).
Pernyataan ini dilontarkan Prabowo saat rupiah berada di level 17.500 per dolar AS. Ironinya, rupiah terus melemah dan menembus level 17.700 per dolar AS pada Selasa (19/5), makin mendekati guyonan warganet soal dolar AS menuju Rp 17.845, angka yang merujuk tanggal kemerdekaan Indonesia.
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah hari ini ditutup melemah 0,24% ke level 17.705 per dolar AS setelah sempat menyentuh 17.743 per dolar AS. Rupiah telah melemah 6,15% sepanjang tahun ini.
Jika mengacu data JISDOR Bank Indonesia, rupiah telah kehilangan nilainya lebih dari 2.200 poin atau hampir 15% selama masa pemerintahan Prabowo-Gibran yang baru berjalan 1,5 tahun.
Pernyataan Prabowo soal dolar AS yang tak digunakan warga desa memunculkan kritik beragam di media sosial hingga diluruskan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Ketua Komisi XI DPR RI Muhammad Misbakhun. Purbaya mengatakan, pernyataan Prabowo harus dipahami dalam konteks lokasi saat membawakan pidato tersebut.
"Untuk menghibur rakyat saja di situ. Saya lihat konteksnya di pedesaan, tidak apa-apa ngomong begitu,” ujar Purbaya di Istana Merdeka JakHal senada juga disampaikan Misbakhun yang menjelaskan bahwa pernyataan Prabowo tidak dapat dimaknai secara harfiah dan sebenarnya bertujuan untuk menenangkan masyarakat.
"Apa yang disampaikan oleh Pak Presiden itu adalah upaya untuk menenangkan masyarakat Jangan dibaca terlalu eksplisit," kata Misbakhun di DPR.
Rapat Tiga Jam di Istana Negara
Faktanya, Prabowo mungkin tak sesantai itu melihat pelemahan rupiah. Ia memanggil Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Koordinator Airlangga Hartarto, dan sejumlah menteri lainnya pada Senin (18/5). Rapat di Istana Negara itu berlangsung hingga tiga jam.
Purbaya menjelaskan bahwa rapat tak semata membahas rupiah, tetapi kondisi ekonomi secara keseluruhan. Ia pun meyakinkan kondisi ekonomi Indonesia kuat. “Rupiah hanya ditanya bagaimana, kondisi ekonomi bagus. Fondasi ekonomi betul-betul bagus,” ujar Purbaya.
Purbaya juga menjelaskan bahwa pemerintah telah mulai mengaktifkan bond stabilization fund (BSF) guna membantu meredam gejolak rupiah. Kebijakan intervensi pasar obligasi ini dijalankan dengan menyiapkan dana segar senilai Rp 2 triliun per hari untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar.
Data Badan Pusat Statistik memang menunjukkan bahwa kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tumbuh mencapai 5,61% secara tahunan, tertinggi pada periode tersebut dalam satu dekade terakhir. Namun memasuki kuartal kedua 2026, sejumlah data sebenarnya mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
Laporan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global salah satunya, menunjukkan kondisi industri dalam negeri berada dalam fase kontraksi pada April 2026, pertama kali dalam sembilan bulan terakhir. Indeks turun ke level 49,1 seiring anjloknya volume produksi akibat lonjakan biaya bahan baku dan gangguan rantai pasok global.
Gejolak juga terjadi di pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga kembali ke level seperti saat Pandemi Covid-19 imbas pengumuman rebalancing indeks MSCI. Sepanjang tahun ini, investor asing telah melakukan aksi jual bersih atau net sell mencapai lebih dari Rp 40 triliun di pasar saham.
Masalah di Balik Pelemahan Rupiah dan Potensi Dolar AS Tembus Rp 20.000
Gubernur BI Perry Warjiyo juga beberapa kali menjelaskan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia. Menurut dia, pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipicu faktor musiman kenaikan permintaan dolar AS, seperti untuk ibadah haji dan umrah, pembayaran dividen perusahaan, serta pembayaran utang luar negeri korporasi.
“Kebetulan saya memang hidup dari krisis ke krisis. 1997-1998 juga saya ikut di sana, 2008 global seperti itu, taper tantrum juga seperti itu, Covid juga begitu, memang tekanan-tekanan nilai tukar itu umumnya kalau Juli, Agustus, dan semuanya itu akan menguat,” ujar Perry dalam rapat dengan DPR, Senin (18/5).
Ia juga menyinggung sejumlah faktor global yang memberikan tekanan seperti memanasnya kondisi geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada melonjaknya harga minyak dunia dan mempengaruhi penguatan dolar AS. Ada pula faktor perubahan arah suku kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve.
Perry pun menekankan, posisi rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalue atau lebih rendah dibanding fundamental ekonominya. Nilai tukar rupiah, menurut dia, seharusnya berada di level rata-rata 16.500 per dolar AS seiring dengan asumsi fundamental ekonomi lainnya yang masih sesuai dengan target APBN.
“Kami masih meyakini 2026 ini rerata nilai tukar rupiah seluruh tahun adalah 16.500 dengan kisaran 16.200-16.800 per dolar AS,” kata dia.
Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan, faktor global, terutama lonjakan harga minyak, menjadi penyebab utama pelemahan rupiah. Namun, menurut dia, ada faktor lain yang juga mempengaruhi pelemahan rupiah, yakni kekhawatiran investor terkait dampaknya terhadap kondisi fiskal.
David pun menilai, ada potensi rupiah terus melemah hingga menembus 18.000 per dolar AS. Namun, ia memperkirakan rata-rata kurs tahun ini akan berada di kisaran 17.400 per dolar AS.
Bhima juga menekankan adanya faktor domestik lain di balik pelemahan rupiah, yakni ketidakpercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah. Hal ini, menurut Bhima menjadi alasan rupiah melemah lebih dalam dibandingkan mata uang negara-negara tetangga. Menurut catatan Bhima, rupiah telah melemah terhadap ringgit malaysia mencapai 11% dalam enam bulan terakhir.
"Jadi, ini sebenarnya adalah bukti distrust investor. Sudah tahu situasi ekonomi Indonesia butuh perbaikan kualitas belanja atau defisit APBN melebar, ini program MBG (Makan Bergizi Gratis) dan Koperasi Desa Merah Putih masih dipaksakan," ujar dia.
Bhima memperkirakan kurs rupiah bisa menyentuh Rp 20 ribu per dolar AS pada awal Juni jika pelemahan harian bertahan di kisaran 0,57% dan tak ada kebijakan berarti yang ditempuh regulator.
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan juga melihat potensi rupiah terus melemah ke level 18.000 per dolar AS, bahkan menembus level Rp 20 ribu per dolar AS. Namun, ia menekankan, pergantian pejabat moneter yang sempat menjadi wacana dalam rapat DPR pada Senin (18/5) tak akan lantas memperkuat rupiah.
Ia menekankan, pelemahan rupiah saat ini turut disebabkan masalah struktural ekonomi Indonesia yang telah berlangsung lama, seperti defisit transaksi berjalan, deindustrialisasi, stagnasi ekspor, serta ketergantungan terhadap utang luar negeri. Anthony pun menekankan, pelemahan rupiah saat ini adalah sinyal bahwa ekonomi domestik semakin rentan terhadap gejolak global.
“Selama itu tidak diperbaiki secara struktural, kurs rupiah akan terus melemah,” ujar Anthony.
Dampak Pelemahan Rupiah Bakal Terasa hingga ke Desa
Lantas bagaimana dampaknya jika rupiah terus melemah?
Bhima menjelaskan, pelemahan rupiah akan mendorong harga berbagai barang impor dan bahan baku. Hal ini tentunya akan berdampak juga pada warga desa, tak seperti yang sebelumnya disebutkan Prabowo.
Ia mencontohkan, bahan baku tempe dan tahu yakni kedelai yang saat ini masih diimpor turut dipengaruhi kurs dolar AS. Dampaknya, menurut dia, kemungkinan belum terasa karena produsen masih menggunakan bahan baku yang berada di stok gudang.
"Tetapi setelah stok habis, produsen dikhawatirkan tidak bisa membeli bahan baku impor dan mengurangi produksi," ujar Bhima.
Kenaikan harga barang paling awal, menurut Bhima kemungkinan akan terasa pada harga BBM nonsubsidi yang berpotensi naik pada akhir bulan ini. Harga barang elektronik dan komponen kendaraan bermotor yang saat ini masih banyak diimpor juga berpotensi naik.
Menurut Bhima, tekanan juga berpotensi menjalar ke subsidi energi dan pupuk jika rupiah terus melemah. "Yang jelas jika rupiah terus melemah, APBN tidak akan kuat," ujar dia.
Ia bahkan menilai kondisi saat ini mulai menunjukkan kemiripan dengan krisis 1997, ketika pelaku usaha terus mengganti daftar harga dan invoice akibat perubahan kurs yang terlalu cepat. “Perubahannya terlalu drastis, bahkan bisa setiap hari diganti,” kata Bhima.
Adapun jika rupiah terus melemah hingga menembus Rp 20 ribu per dolar AS, dampaknya terhadap perekonomian dinilai lebih buruk. "Level itu kemungkinan batas stress test perbankan dan pelaku usaha. Jika kurs melewati itu, mungkin akan terjadi krisis," ujar dia.
Karena itu, Bhima menilai, pemerintah perlu segera mengambil langkah yang lebih kredibel untuk memulihkan kepercayaan investor agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam. Pemerintah harus mulai merasionalisasi sejumlah program belanja besar yang dianggap membebani fiskal di tengah situasi global yang penuh tekanan, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
Selain itu, transparansi dan tata kelola lembaga seperti Danantara juga perlu segera diperjelas agar tidak terus memicu kekhawatiran pasar.