Mimpi Besar Singapura Menuju Era AI hingga Nuklir, Peran Indonesia jadi Kunci
ChatGPT
Ilustrasi Singapura dan batas dengan Indonesia. Katadata/Ameidyo Daud/Chatgpt
Singapura memiliki sejumlah mimpi besar yang siap untuk diwujudkan dalam beberapa waktu mendatang. Mereka kini membidik sejumlah lompatan kemajuan di bidang teknologi, energi, hingga bidang ekonomi hijau.
Katadata sempat mewancarai beberapa anggota kabinet Singapura pada dua pekan lalu. Dari hasil diskusi, mereka menginginkan tetangga Indonesia itu berkembang menjadi pusat akal imitasi (AI), data, hingga motor pertumbuhan ASEAN untuk menjaga daya saing kawasan.
Di bidang AI, tetangga Indonesia itu akan menggunakannya untuk melanjutkan tujuan mereka sebagai Smart Nation, visi yang sejak satu dekade lalu dicanangkan. AI akan masuk ke layanan publik, dunia usaha, pendidikan, pekerjaan, hingga ikut dalam tata kelola pemerintahan.
"Singapura berupaya menjadi negara yang mengutamakan digital (digital first), bukan hanya sekadar digital (digital only)," kata Menteri Perkembangan Digital dan Informasi Singapura Josephine Teo dalam diskusi bersama Katadata dan sejumlah jurnalis asal Indonesia beberapa waktu lalu.
Teo mengatakan, Singapura akan terus mendigitalisasi layanan mereka ke segala bidang. Mereka bahkan akan menyasar penggunaan AI untuk membantu lansia, difabel, hingga komunitas masyarakat. Mereka juga telah mengembangkan model pencarian informasi berbasis bahasa (large language models) untuk regional Asia Tenggara yang bernama SEA-LION.
Dia juga menjelaskan, untuk terus mengembangkan kecanggihan model AI, Singapura akan menerapkan lima pilar yakni infrastruktur, kapabilitas tenaga kerja, pelibatan masyarakat hingga perusahaan, regulasi, serta memastikian kerja sama internasional dalam isu AI lintas negara.
Teo juga menjanjikan perkembangan kecerdasan buatan tak akan menyingkirkan manusia. Menurutnya, keberadaan AI harus tetap berpusat kepada manusia. "Kami ingin AI bekerja untuk melayani manusia. Kami ingin AI menjadi asisten, jadi rekan tim, jadi kolaborator. Kami tidak ingin manusia tersingkir," katanya.
Bicara tentang kemajuan teknologi tentunya erat kaitannya dengan pasokan energi yang memadai. Oleh sebab itu, Negeri Singa juga mempersiapkan strategi mereka untuk memiliki keandalan energi. Apalagi mereka bukanlah produsen energi dunia.
Siap Diversifikasi Energi
Untuk menjaga kelanjutan roda ekonomi hingga perkembangan teknologi, Singapura menyiapkan strategi menjaga energi. Apalagi mereka juga ikut merasakan kesulitan pasokan energi imbas konflik Timur Tengah. Oleh sebab itu, mereka menyiapkan strategi diversifikasi energi, salah satunya bersiap mengandalkan energi berbasis nuklir.
Menteri Negara Bidang Perdagangan dan Industri Singapura Gan Siow Huang mengatakan negaranya akan segera mengubah sumber energi untuk masa depan. Saat ini Singapura masih mengandalkan pasokan gas alam cair (LNG) untuk menghidupi roda-roda perekonomian mereka.
Diversifikasi akan dilakukan dengan membidik pasokan listrik yang berasal dari pembangki tenaga Surya. Gan mengatakan, negaranya telah berhasil mencapai puncak target pembangkit listrik tenaga surya sebesar 2 gigawatt tahun lalu. Saat ini, Singapura akan membidik peningkatan kemampuan PLTS memasok listrik menjadi 3 gigawatt.
"Sama seperti di Indonesia, kami memiliki iklim yang cukup kondusif untuk energi surya," kata Gan.
Strategi diversifikasi selanjutnya adalah mengandalkan energi nuklir untuk memasok listrik. Menurut Gan, langkah ini memerlukan waktu lebih panjang, berkisar antara 10 hingga 15 tahun ke depan. Singapura saat ini akan memulai proses Tinjauan Terpadu Infrastruktur Nuklir oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA-INIR). IAEA akan menilai, apakah jiran Indonesia itu punya pengetahuan hingga institusi memadai untuk mengembangkan program energi nuklir sipil. "Kami masih berada pada tahap sangat awal," kata Gan.
Singapura juga menargetkan seluruh kendaraan baru yang didaftarkan mulai 2030 harus menggunakan energi yang lebih bersih (cleaner-energy vehicles). Kendaraan yang masuk dalam kategori energi bersih mencakup kendaraan listrik, kendaraan hybrid, serta kendaraan berbasis teknologi hidrogen.
Meski demikian, Pemerintah Singapura menyadari bahwa untuk mendorong masyarakat beralih menggunakan kendaraan berbasis energi yang lebih bersih, mereka perlu memberikan dorongan. Salah satunya menyiapkan infrastruktur yang lebih memudahkan pengisian baterai.
"Membeli kendaraan adalah satu hal, mengisi daya, dan mencari tempat pengisian daya, adalah hal lain," katanya.
Singapura juga memiliki keterbatasan lahan dan sumber daya alam. Oleh sebab itu mereka melihat ekonomi sirkular menjadi kebutuhan penting. Salah satu contohnya adalah mencari cara agar limbah untuk kembali memiliki nilai ekonomi dan menjadi salah satu sumber energi.
"Karena kita tidak memiliki banyak lahan dan hanya memiliki satu tempat pembuangan sampah," kata Menteri Negara Senior Bidang Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura Janil Puthucheary.
Saat ini, Singapura memiliki empat pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) yakni PLTSa TuasOne, PLTSa Keppel Seghers Tuas, PLTSa Senoko danPembangkit Pembakaran Sampah Tuas Selatan (TSIP). Katadata sempat meninjau salah satunya, yakni PLTSa TuasOne yang berada di ujung barat Singapura.
Dikutip dari laman Badan Lingkungan Nasional Singapura, pembangkit yang berdiri di atas lahan seluas 4,8 hektare ini mulai beroperasi pada akhir 2021. PLTSa TuasOne memiliki kapasitas pengolahan sampah sebesar 3.600 ton per hari. Listrik yang mampu dihasilkan dari pembangkit tersebut mencapai 120 megawatt dan mampu memasok 240 ribu unit HDB (apartemen publik Singapura).
Konsep yang digunakan adalah membakar sampah menjadi abu. Langkah ini bukan berarti benar-benar menghilangkan sampah, namun untuk menekan volume sampah saat dibawa ke pembuangan paling akhir yakni Semakau.
"Prioritas utama kami dalam proses pengolahan sampah menjadi energi adalah pengurangan volume sampah," kata Janil menjelaskan tujuan dari keberadaan sejumlah PLTSa di negaranya.
Peran Tetangga jadi Kunci
Dengan berbagai tujuan yang disampaikan, Singapura sadar tak mampu mewujudkan hal tersebut sendirian. Para anggota kabinet dalam diskusinya mengatakan negara tersebut keterbatasan mereka sebagai negara yang relatif berukuran mini dan tak memiliki banyak sumber daya alam. Oleh sebab itu, mereka masih akan bergantung pada tetangga-tetangganya seperti Indonesia.
Terkait pengembangan AI, Menteri Digital Josephine Teo mengatakan negara-negara ASEAN seperti Singapura dan Indonesia akan lebih kuat jika bekerja sama. Ia mencontohkan pengembangan SEA-LION yang memerlukan basis data lebih luas, termasuk dari Indonesia.
"Kami hanya mampu melakukan hal tersebut berkat rekan-rekan di ASEAN yang berbagi kumpulan data dalam bahasa mereka yang berguna untuk model tersebut," katanya.
Sedangkan Menteri Gan Siow Huang melihat Indonesia bisa menjadi sumber energi negaranya pada masa depan. Apalagi saat ini kedua negara masih membicarakan kemungkinan RI bisa memasok listrik ke Singapura. Meski belum ada kesepakatan lebih lanjut, Gan mengakui bahwa Singapura sebenarnya sangat ingin mewujudkan kesepakatan jual beli listrik dengan Indonesia.
Apalagi jika hal ini terwujud, maka satu langkah menuju jaringan kelistrikan ASEAN atau ASEAN Power Grid telah tercapai. Saat ini kedua negara masih membahas aspek regulasi, teknis, hingga mekanisme penetapan harga. "Indonesia dapat memainkan peran besar dalam mendorong hal ini," katanya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan kesepakatan harga ekspor listrik Indonesia ke Singapura masih dalam tahap pembahasan. Pemerintah menginginkan penentuan harga listrik memberikan keuntungan seimbang bagi Indonesia dan Singapura.
"Kerja sama itu harus saling menguntungkan kedua pihak. Tinggal di titik itu saja dan saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu," kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam siaran pers, Selasa (7/7).
Singapura juga membuka diri untuk mengandalkan Indonesia dalam perdagangan karbon. Mereka optimistis kerja sama pasar karbon dengan Indonesia dapat segera diwujudkan, meski implementasinya menghadapi tantangan yang kompleks.
Indonesia dan Singapura telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang kerja sama kredit karbon. Meski demikian, MoU ini belum mengatur implementasi kolaborasi secara penuh.
Dari sisi Singapura, tantangan utama kerja sama pasar karbon dengan Indonesia ada pada proses pemantauan, verifikasi, akuntansi, dan kepatuhan untuk memastikan integritas kredit karbon sesuai standar internasional. Namun, pemerintah Singapura menilai Indonesia telah memiliki contoh proyek kredit karbon berintegritas tinggi, salah satunya Katingan Peatland yang memperoleh peringkat kredit karbon AA.
"Ada contoh di sana, dan kami memiliki alasan kuat untuk percaya bahwa hal itu dapat dilakukan," kata Janil Putchucheary.
"Masa Depan Singapura dan Indonesia sangat Terkait"
Tak kalah penting, Singapura berharap relasi dengan Indonesia bisa tetap terjaga di masa depan. Negara tersebut menilai, hubungan dua negara masih berada di jalur yang stabil meski belakangan muncul riak-riak di media sosial.
Hubungan Indonesia dan Singapura belakangan menghangat lantaran berbagai hal. Salah satunya usai media Singapura, The Straits Times menyitir sebuah artikel Bloomberg yang salah satu kutipannya menyinggung 'Sell Indonesia'. Warganet RI lalu merespons dengan memunculkan tagar 'Sell Singapore' di media sosial.
Isu hubungan kedua negara memanas usai muncul kabar manipulasi harga jual ekspor komoditas Indonesia melalui praktek under-invoicing dan transfer-pricing. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan sedang menyelidiki indikasi permainan yang ditengarai lewat Singapura.
Pemerintah Singapura menilai hubungan dengan Indonesia dibangun berdasarkan kepentingan jangka panjang, bukan karena sentimen tertentu. Mereka juga berpandangan, sentimen negatif di media sosial tak menunjukkan hubungan nyata dengan RI.
"Baik pemimpin Singapura maupun Indonesia selalu menunjukkan melalui tindakan mereka bahwa kita terus menjadi mitra strategis," kata Menteri Negara untuk Urusan Luar Negeri Singapura Zhulkarnain Abdul Rahim.
Presiden Prabowo Subianto juga telah bertemu dengan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka, Jakarta pada Senin (6/7). Dalam pertemuan tersebut, Prabowo mengapresiasi komitmen Singapura untuk memelihara persahabatan dengan Indonesia. Prabowo juga menjanjikan untuk mengatasi setiap perbedaan dengan komunikasi yang terbuka.
"Kami sepakat bahwa kalau ada salah paham, kalau ada salah persepsi, kami akan selesaikan sebagai sahabat dengan terbuka," kata Prabowo.
Sedangkan Lawrence Wong mengamini pernyataan Prabowo. Ia menegaskan komitmen negaranya untuk memperkuat kerja sama dengan Indonesia. Tak hanya itu, Wong juga menyampaikan optimismenya dengan masa depan hubungan dua negara.
"Kami ingin Indonesia berhasil karena masa depan kita sangat terkait," kata Wong di depan Prabowo.