Teknologi Bedah Robotik, Era Baru Layanan Kesehatan Indonesia

Katadata/Hari Widowati/Chatgpt
Ilustrasi telaah masa depan bedah robotik
Penulis: Hari Widowati
10/8/2026, 14.38 WIB

Tren layanan kesehatan yang memanfaatkan teknologi bedah robotik terus berkembang. Sejak diperkenalkan pada 2012, teknologi bedah robotik semakin banyak diadopsi oleh rumah sakit-rumah sakit di Indonesia seiring meningkatnya kebutuhan terhadap bedah invasif yang minimal, mengurangi rasa sakit, dan masa penyembuhan yang lebih cepat.

PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) merupakan salah satu rumah sakit yang berinvestasi besar di teknologi bedah robotik. Presiden Direktur Siloam International Hospitals David Utama, dalam Siloam Robotic Summit 2026 yang berlangsung 18 Juli lalu, menyatakan perusahaan menginvestasikan hamper Rp 1 triliun selama lima tahun terakhir untuk bedah robotik. 

"Siloam International Hospitals terus memperkuat kapabilitas klinis dan telah memelopori layanan bedah robotik selama setahun terakhir di berbagai disiplin, termasuk ortopedi, urologi, bedah digestif, dan neurologi," ujar David. 

Tujuh sistem robotik milik Siloam beroperasi di Jakarta, Surabaya, Bali, dan Makassar. David menyatakan Siloam telah membangun salah satu ekosistem bedah robotik paling komprehensif di Indonesia. Dengan adanya layanan bedah robotik yang semakin lengkap, David berharap masyarakat Indonesia tidak perlu lagi berobat ke luar negeri. 

Pemanfaatan teknologi bedah robotik di Siloam antara lain digunakan untuk operasi bedah lutut hingga bedah ginjal. Chief Medical Officer Siloam International Hospitals Grace Frelita menyebut bedah robotik menunjukkan manfaat yang terukur dalam aspek presisi, keselamatan, dan pemulihan pasien. 

Ia membandingkan Siloam Knee Arthoplasty Registry atau operasi bedah lutut robotic dan konvensional dari empat rumah sakit Siloam. "Kami menemukan tingkat keamanan yang setara, dengan 0% readmisi 30 hari dan 0% infeksi pada kedua kelompok. Namun, pasien yang menjalani prosedur robotik menunjukkan pemulihan lebih cepat dengan rata-rata rawat inap 4,5 hari dibandingkan 6,2 hari pada prosedur konvensional," ujar Grace. 

Bukan hanya Siloam, PT Bundamedik Tbk (BMHS) yang merupakan operator jaringan RS Bunda dan sejumlah rumah sakit lainnya di berbagai daerah telah menangani hampir 1.000 prosedur bedah robotik di Indonesia sejak 2012. Pencapaian ini mencakup transplantasi ginjal berbasis robotik ketiga di Indonesia dan skin sparing mastectomy atau operasi pengangkatan jaringan payudara dengan mempertahankan kulit asli pasien pertama di Asia Tenggara. 

BMHS telah mengadopsi teknologi Robotic Surgery System generasi kedua yang menawarkan presisi lebih tinggi, luka operasi lebih kecil, dan pemulihan pasien lebih cepat. Teknologi ini disebut sebagai teknologi bedah robotik Da Vinci Xi. 

Da Vinci Xi dikembangkan oleh Intuitive Surgical, perusahaan teknologi medis asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai pionir dalam sistem pembedahan robotik di dunia. Selama lebih dari dua dekade, sistem Da Vinci telah digunakan dalam jutaan prosedur di berbagai negara, khususnya untuk operasi dengan tingkat kompleksitas tinggi.

Komisaris Utama BMHS Ivan Rizal Sini mengatakan operasi bedah robotic telah menjadi standar emas di banyak negara maju karena tingkat presisi dan akurasi yang tinggi. Hal ini berkat teknologi tangan robotik yang mampu bergerak 360 derajat meniru tangan manusia dengan lebih stabil dan presisi. Sistem robotic ini juga dilengkapi kamera 3D berdefinisi tinggi yang mampu memberbesar area operasi hingga sepuluh kali lipat. Alhasil, dokter lebih mudah melihat detail yang sulit dijangkau dengan metode biasa. Teknologi ini juga mengurangi tremor tangan, sehingga lebih aman untuk operasi jaringan halus. 

"Teknologi ini juga memberikan minim sayatan dan risiko karena hanya memerlukan 3-5 lubang kecil berukuran 5-10 mm, dibandingkan dengan bedah konvensional yang butuh sayatan 10-20 cm," kata Ivan. 

Dengan sayatan yang minim, kemungkinan pendarahan dan risiko infeksi pasien akan jauh lebih sedikit karena luka lebih kecil dan tertutup lebih cepat. Operasi semacam ini juga meminimalisasi gangguan terhadap jaringan sekitar, sehingga fungsi organ tetap optimal pasca-operasi. 

"Adopsi Robotic Surgery System generasi kedua ini merupakan bagian dari Langkah strategis BMHS dan RS Bunda Group untuk memperkuat posisi sebagai pionir dalam transformasi layanan bedah robotic di Indonesia," ujar Agus Heru Darjono, Direktur Utama PT Bundamedik Tbk. 
Saat ini, BMHS telah memiliki 16 dokter spesialis dan konsultan tersertifikasi untuk melakukan bedah robotik.


Teknologi bedah robotik yang digunakan RS Bunda Group. (Dok. PT Bundamedik Tbk (BMHS))


 

Tren Penggunaan Bedah Robotik 

Riset terbaru Mordor Intelligence berjudul "Global Medical Robotic Systems Market Industry" memperkirakan pasar sistem robotika medis akan tumbuh dari US$ 15,47 miliar (Rp 274,5 triliun) pada tahun 2025 menjadi US$ 17,92 miliar (Rp 317,97 triliun) pada tahun 2026. Angka ini akan melonjak hingga mencapai US$ 37,44 miliar (Rp 664,33 triliun) pada tahun 2031 dengan rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 15,88% selama periode 2026-2031. 

Pertumbuhan pasar robotika medis ini didorong oleh konvergensi yang kian berkembang antara kecerdasan buatan dan rekayasa presisi, model pembiayaan berbasis langganan yang menghilangkan hambatan modal, serta kebijakan regulasi yang mendukung solusi otomatis menjadi faktor pendorong utama. 

"Volume prosedur robotika medis meningkat paling pesat di pusat bedah rawat jalan di seluruh Amerika Serikat dan Eropa, sementara rumah sakit tingkat 3 (tier-3) di Tiongkok mulai menerapkan platform khusus onkologi untuk memangkas antrean pengobatan kanker," kata Mordor Intelligence. 

Mordor Intelligence menyebut Amerika Utara mempertahankan posisi dominannya di pasar robotika medis berkat kebijakan penggantian biaya (reimbursement) yang menguntungkan. Adapun kawasan Asia-Pasifik mencatat kurva pertumbuhan paling tajam seiring dengan perluasan akses melalui program rehabilitasi yang didukung pemerintah.

Kemenkes Dorong Perluasan Pemanfaatan Bedah Robotik

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan teknologi robotik menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam mentransformasi industri kesehatan nasional. "Ada tiga teknologi Kesehatan yang kita fokuskan, yakni Robotics Technology, AI on health, dan biotechnology," ujar Budi. 

Budi mengatakan Kemenkes akan mempercepat adopsi bedah robotik secara nasional, termasuk pengadaan 40 unit robot bedah untuk rumah sakit pemerintah, pengembangan AI di sektor kesehatan, serta pelatihan dokter. 

Ia juga mendorong peran rumah sakit swasta untuk memperluas pemanfaatan teknologi bedah robotic. "Rumah sakit swasta jumlahnya lebih banyak daripada rumah sakit pemerintah. Jadi, mereka sangat dibutuhkan terutama untuk membuka akses," kata Budi. 

Namun, pemanfaatan bedah robotik di Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara, termasuk Singapura, Thailand, Malaysia, bahkan Vietnam. Budi mengatakan pemerintah mengambil langkah agresif untuk mempercepat adopsi teknologi bedah robotik melalui kebijakan nasional. 

Salah satu langkah yang diambil adalah pembentukan Komite Robotik Kemenkes yang bertugas menyusun arah pengembangan teknologi robotik di Indonesia, mulai dari kebutuhan teknologi, standar pelayanan, hingga strategi agar layanan dapat diakses masyarakat dengan biaya yang lebih efisien. Di sisi pembiayaan, Kemenkes juga sedang mengevaluasi skema pembayaran melalui BPJS Kesehatan agar tindakan bedah robotik dapat masuk ke dalam sistem pembiayaan nasional sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat memanfaatkan teknologi tersebut.

Kemenkes juga memperkuat layanan bedah minimal invasif melalui program nasional pelatihan operasi laparoskopi bagi dokter bedah di 514 kabupaten dan kota. Program ini diharapkan memperluas akses masyarakat terhadap operasi modern, seperti operasi hernia, usus buntu, kantung empedu, dan berbagai tindakan bedah digestif lainnya. 

"Kami ingin semakin banyak dokter Indonesia memiliki kompetensi bedah minimal invasif dan robotik. Jangan sampai kemampuan ini hanya dimiliki kelompok tertentu atau hanya tersedia di kota-kota besar," kata Budi.  

 
 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Desy Setyowati