Selain Kopi, Upnormal Siap Sajikan Menu Indomie di Singapura

Ilustrator Katadata/Betaria Sarulina
Sarita Sutedja, Founder Warunk Upnormal
Penulis: Yuliawati
24/2/2019, 09.36 WIB

Setelah lima tahun CRP Group terbentuk, banyak sekali unit usaha kuliner yang terbentuk dan populer. Warung Upnormal sendiri telah menerima banyak penghargaan. Sebenarnya kapan menyebut usaha ini sukses?

Bicara tentang kesuksesan, indikatornya ada empat, yakni pertama, penjualan, kedua menghasilkan profit atau keuntungan, ketiga BEP atau balik modal dan keempat harus sustainable atau bertahan. Menurut saya poin terakhir masih harus pembuktian dievaluasi lebih dari 5 tahun.

CRP sendiri kan berdiri sejak 2013. Jadi belum bisa membuktikan apapun juga. Kalau dari brand Upnormal kami belum 5 tahun, jadi belum bisa disebut sukses. Mengenai penghargaan yang telah kami terima itu bonus. Di CRP kami punya keinginan agar memberikan kebahagiaan lewat makanan dan menyantap makanan.

Kami selalu gaungkan di internal: bring happiness through eating experience. Jadi bagaimana caranya membuat konsumen-konsumen bahagia, lewat pengalaman-pengalaman makan. Siapa juga yang enggak senang kalau makan.

(CRP Group mendapatkan beberapa penghargaan di antaranya The Most Favorite Merchant 2016 yang diberikan Go-Jek kepada Warunk Upnormal, Marketing Leader Awards 2018, dan Milenialpreneur Waralaba Indonesia 2018)

CRP Grup ini dibentuk tujuh orang, termasuk Sarita. Bagaimana menyatukan pikiran para pendiri yang jumlanya cukup banyak?

Hal yang paling penting itu kami memiliki visi dan misi yang sama dan semuanya berkomitmen. Kami dulu duduk bareng, bertanya mau bawa perusahaan ini ke mana. Kami memang mulai dari kecil, tapi pada saat itu yakin suatu saat nanti akan berkembang. Pertemanan tetap, tapi kami harus mulai bagi tanggung jawab. Dari tujuh orang pendiri itu punya kemampuan yang berbeda-beda. Itu kuncinya. Kemampuan yang berbeda dan visi yang sama. Komitmen dari awal itu bahkan kami tuangkan dalam kertas (perjanjian).

Kami saling bersinergi, ada yang ahli di bidang desain interior, ada juga yang mengusai pemasaran, dan lainnya. Namun, kami harus saling mengimbangi. Misal ada founder yang membuat rancang desain yang keren banget, namun tim operasional mengatakan akan susah dibersihkan. Nah yang terpenting dalam bisnis makanan kan atribut harus mudah dibersihkan, jadi desain harus mengalah. Karena satu tujuan yang sama, maka kami harus menahan diri atau ego. Kami harus saling mengimbangi, yang penting kebersamaan dibanding ego pribadi.

Founder Warunk Upnormal Sarita Sutedja (Katadata/Hindra K. Wijaya)

Jadi ada pembagian tugas memisahkan posisi founder dan manajemen?

CRP kan korporasi, bicara founder dan co-founder, itu sudah kami sepakati apakah mereka akan masuk di manajemen atau tidak. Seperti saya yang merupakan founder dan masuk manajemen, konsekuensinya saya sama posisinya dengan pekerja profesional biasa. Saya punya target, KPI (Key Performance Indicator) dan bertanggung jawab dengan atasan saya. Bahkan saya juga bisa dipecat. Directur CRP pun tidak semuanya founder.

(Sarita merupakan pendiri CRP yang menjabat juga sebagai Deputy Director of Corporate Communication & Government Relation)

Dengan para founder yang sebagian berlatar belakang sebagai konsultan bisnis, hal apa yang terpenting membuat produk berhasil?

Produk yang kualitasnya baik, harganya bisa diterima, menurut kami itu bukan sesuatu yang bisa dijadikan daya saing. Tapi itu adalah standardisasi yang harus kami penuhi saat memulai bisnis. Kalau kita mau jualan ya sudah harus bagus produknya.

Selain itu secara value sudah harus bisa diterima oleh konsumen. Kami selalu memperhatikan customer journey, pengalaman konsumen dari dia turun di depan gerai, kemudian kalau membawa kendaraan, bagaimana dengan kondisi tempat parkir? Saat dia masuk gerai, bagaimana sambutannya? Ketika dia memesan seperti apa? Ketika dia mau ke kamar kecil, ketika dia mau cari sekring listrik, ketika dia mengkonsumsi internet, hingga proses bayar dan sampai dia keluar.

Nah kami melakukan evaluasi customer journey, agar mereka tetap nyaman. Hal yang membuat konsumen berdatangan karena value yang mereka terima lebih besar. Jadi memang itu yang kami perbaiki terus.

Sampai akhir 2018, ada berapa outlet yang dimiliki CRP Group ya? Semuanya sistem kemitraan?

Saat ini total ada 227 outlet di seluruh Indonesia, terdiri dari 10 brand. Outlet terbanyak dari Upnormal sebanyak 93, baik Warunk Upnormal, Upnormal Coffee Roasters, dan Upnormal Coffee Express.

Prosentase kepemilikan dengan kemitraan itu 70:30 dengan nilai CRP 70 dan mitra 30. Kami juga membuka kerja sama misal ada pemilik lahan yang lokasinya strategis, namun tak mau disewa. Jadi kami ajak berbisnis dengan sistem partnership.

Untuk kemitraan, modal yang diperlukan untuk bergabung berapa? Perkiraan mencapai BEP berapa lama?

Untuk gerai yang kategori besar modal yang diperlukan sekitar Rp 4-5 miliar. Perhitungan detilnya termasuk apa saja, nanti akan dibicarakan lagi. BEP di atas kertas itu sekitar 1.5 sampai 2 tahun.

Peran CRP dalam kemitraan seperti apa?

Setelah perjanjian kerja sama, kami menyiapkan pelatihan untuk karyawan. Kami punya CRP training center, namanya CRP Academy di Bandung. Karyawan atau mitra datang ke bandung nengikuti pelatihan selama 2-3 bulan untuk training. Setelah materi tertulis, akan ada class room yang namanya studio. Pelatihan di studio bisa praktek sama persis seperti yang ada di outlet.

Suasana di Upnormal Coffee Roasters di Cihampelas, Bandung, Januari 2019. (Katadata/Hindra K. Wijaya)

Kami baca di media sosial salah satu founder sekaligus Direktur Marketing CRP Group Rex Marindo mengatakan pertama kali memulai bisnis dengan memberikan 1000 piring gratis yang diganti doa. Apa benar?

Itu benar, saat itu pertama kali kami membuka Nasi Goreng Rempah Mafia. Jadi kami kan memulai dari bisnis kecil dan saat itu kami tidak punya dana yang besar untuk promosi. Saat itu tahun 2013 sedang booming Twitter, maka muncul ide untuk promosi memberikan gratis dengan syarat me-retweet dan menunjukkannya ke kami. Setelah mereka duduk, nanti pelayan datang dan memberikan kertas yang isinya doa. Jadi kami memang minta dibacakan doa.

Pemikirannya ada dua hal. Pertama, dari segi bisnis, sebenarnya kami hanya mengeluarkan harga pokok produksi dan biaya karyawan saja. Kemudian, promosi akan booming dengan sendirinya. Kalau gratis, orang akan makan. Masalah enak dan gak enak itu belakangan. Bila masakannya enak, dia tentu akan kembali lagi. Apalagi harganya juga sesuai dengan konsumen. Kedua, kami pihak manajemen percaya banget dengan kekuatan doa. Asumsinya, dari 1000 orang yang berdoa buat kami, masa tidak satu pun yang terkabul.

Sistem meminta doa ini masih berlaku?

Masih, namun modelnya berbeda. Setiap kali membuka outlet baru sudah ada budget untuk itu. Tidak lagi membagi gratis ke pengunjung, caranya mengundang anak-anak yatim piatu. Jadi tetap bagi-bagi makanan dan kami meminta doa.

Ekpektasi CRP lima tahun mendatang?

Yang pasti kami akan terus berekspansi. Masa lima tahun sepertinya panjang banget. Kami akan tetap terus ekspansi di daerah lain di Indonesia dan persiapan mulai masuk ke Asia.

Halaman: