Freeport Berkomitmen Kembangkan Penelitian Biodiversitas di Papua

Katadata
Kukuh Indra Kusuma, Koordinator Fauna Biodiversity PT Freeport Indonesia (PTFI), saat menjadi pembicara Katadata Green Collabs Blok M, di Jakarta, Sabtu (23/8/2025).
Editor: Arif Hulwan
23/8/2025, 21.34 WIB

Upaya menjaga keanekaragaman hayati Indonesia mendapat sorotan pada salah satu sesi talkshow di acara Green Colabs di Taman Literasi Martha Tiahahu, Jakarta Selatan, Sabtu (23/8).

Pada talkshow yang mengangkat tema “Dari Kota, Kembali ke Alam: Kolaborasi Merawat Keanekaragaman Hayati”, Kukuh Indra Kusuma, Koordinator Fauna Biodiversity PT Freeport Indonesia (PTFI), menegaskan komitmen perusahaan dalam riset biodiversitas di Papua, yang menghasilkan penemuan ilmiah penting.

Salah satunya adalah berhasil mendokumentasikan 130 spesies baru. Kukuh menjelaskan, sejak 1997 Freeport menjalankan studi dasar biodiversitas di wilayah operasi PTFI di Mimika, yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Lorentz—salah satu kawasan dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

“Hasilnya, lebih dari 130 spesies baru berhasil terdokumentasi, dan riset itu telah melahirkan buku serta artikel ilmiah yang bisa diakses publik secara gratis,” ungkap Kukuh.

PTFI, menurutnya, membuka ruang lebih besar bagi para peneliti mengingat akses ke kawasan ini sebelumnya terbatas. “Dengan keberadaan kami di Mimika, penelitian biodiversitas Papua bisa dilakukan lebih intensif,” tambahnya.

Capaian lainnya yang paling menonjol adalah mengungkap bahwa hewan yang sempat diduga punah, yaitu New Guinea Singing Dog, ditemukan kembali di area dekat operasi Freeport.

“Pada 2018, fase kedua riset membuktikan bahwa gen Singing Dog yang kami temui itu ternyata masih murni. Lalu pada 2022, kajian ekologi kami lakukan untuk memahami habitatnya. Kini fokusnya adalah bagaimana konservasinya bisa berjalan berkelanjutan,” kata Kukuh.

Ia menambahkan, transisi Freeport dari tambang terbuka menuju tambang bawah tanah juga memberi dampak positif pada konservasi habitat satwa langka tersebut.

Kukuh juga menekankan bahwa semua rencana pengembangan Freeport harus melalui kajian ekologis. Misalnya, bila pembangunan fasilitas baru berpotensi mengganggu spesies tumbuhan atau satwa terancam punah, perusahaan mencari alternatif lain.

“Kebutuhan akomodasi karyawan kami siasati dengan pembangunan vertikal agar tidak perlu membuka area baru. Semua dilakukan agar keseimbangan operasi dan konservasi tetap terjaga,” jelasnya.

Terkait pelestarian keanekaragam hayati ini, Freeport Indonesia juga meraih penghargaan Program Konservasi Mamalia Terbaik dari Wildlife Habitat Council (WHC) pada konferensi WHC 2024 di New Orleans, Louisiana.

Hal ini didapat atas komitmen perusahaan dalam melestarikan New Guinea Singing Dog, spesies anjing paling langka di dunia. Penghargaan ini juga mengakui peran Freeport dalam meningkatkan kesadaran konservasi melalui kolaborasi dengan masyarakat, akademisi, dan pemerintah terkait.

Pada sesi yang sama hadir pula Jemmy Chayadi, Head of Sustainability Djarum Foundation. Ia menekankan pentingnya pelestarian macan tutul Jawa sebagai predator puncak terakhir di Pulau Jawa setelah harimau Jawa dinyatakan punah pada 1990-an.

“Kalau macan tutul Jawa punah, ekosistem di Jawa akan terganggu. Karena itu kami mendukung sensus satwa liar nasional dan mengajak perusahaan lain ikut menjaga,” ujarnya.

Dari sisi organisasi konservasi, Priscilla Christine, Direktur Komunikasi dan Sekretaris Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), mengingatkan soal ancaman krisis ganda, yaitu perubahan iklim dan hilangnya biodiversitas.

Ia mengatakan bahwa YKAN telah melakukan kolaborasi dengan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat yang tinggal di wilayah program konservasi organisasi nirlaba tersebut untuk mengatasi dampak dari krisis ganda.

“Masalahnya tidak cepat selesai, tapi ada progress, yaitu: satwa mulai terlindungi, kerusakan alam dapat diminimalkan. Kuncinya adalah kolaborasi multipihak,” kata Priscilla.

YKAN juga terus menggalakkan kampanye publik, salah satunya lewat Life Music: Suara Alam Nusantara, yaitu rekaman suara alam Indonesia yang kini bisa diakses di Spotify dan YouTube.

Diskusi Green Colabs menegaskan bahwa keberhasilan konservasi hanya mungkin tercapai melalui kolaborasi. 

PTFI menunjukkan kontribusi besar lewat riset dan konservasi di Papua, Djarum Foundation memperkuat pelestarian satwa kunci di Jawa, dan YKAN menghubungkan masyarakat dengan suara alam melalui kampanye kesadaran publik.

Gabungan peran swasta, organisasi, dan komunitas menjadi bukti bahwa pelestarian keanekaragaman hayati adalah tanggung jawab bersama, dari kota hingga kembali ke alam.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Septiani Teberlina