'OKB' Diprediksi Makin Banyak, Perbankan Ramai-ramai Jadi Pengelola Kekayaan

Katadata
Head of Investment & Insurance Product PT Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo, Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia Melfrida Gultom, dan Head of Consumer Banking Segment & Liabilities Product PT Bank DBS Indonesia Natalina Syabana berdiskusi mengenai strategi investasi dan pengelolaan kekayaan di tengah dinamika ekonomi global dalam Media Gathering Bank DBS Indonesia di Jakarta, Kamis (18/6/2026)
Penulis: Arif Hulwan
18/6/2026, 21.05 WIB

Jakarta — Meski persaingan bank penyedia layanan manajemen kekayaan (Wealth Management) makin ketat, ceruk pasar tetap potensial menyusul makin naiknya jumlah kaum kaya atau affluent di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Beberapa keunikan layanan bisa jadi pembedanya.

Dirangkum dari berbagai sumber, manajemen kekayaan merupakan layanan keuangan dan pengembangan aset lewat investasi yang terencana. Hal itu bisa berupa paparan soal isu terkini, risiko, diversifikasi, hingga prioritas investasi. Target pasarnya terutama kelompok affluent. Mereka akan mendapat manajer kekayaan atau manajer hubungan pelanggan (RM) yang menjadi penasihat keuangannya.

Kini, hampir semua bank, bank skala kecil hingga raksasa, sudah menyediakan layanan Wealth Management. Contohnya, BCA, Bank Mandiri, CIMB, BRI, BNI, BTN, hingga Bank CTBC. Itu belum termasuk dari lembaga keuangan jenis lain seperti Sekuritas.

Sementara, menurut data Boston Consulting Group (BCG), pada 2020 saja Indonesia memiliki 16,5 juta kelompok makmur (affluent), kalah besar ketimbang kelas menengah (68,2) dan menengah atas (49,3 juta).

Potensi di Indonesia

Meski ceruknya terbilang kecil, berbagai data menunjukkan potensi pasar affluent yang terus menanjak.

Menurut data firma konsultasi Ken Research, secara global kekayaan finansial mencapai US$333 triliun pada 2025, tumbuh 10,7% dibandingkan 2024. Asia Tenggara bahkan diperkirakan akan memiliki sekitar 80 juta orang kaya baru pada 2030.

Indonesia pun menjadi salah satu negara yang kelompok makmurnya diprediksi terus tumbuh. Pada periode 2025-2030, menurut Ken Research, RI diprediksi mengalami peningkatan kekayaan US$0,16 triliun, atau memiliki tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) 6%.

Potensi pasar ini, kata Ken Research, mesti digarap sejak dini lewat pembangunan infrastruktur manajemen kekayaan demi keberlanjutan bisnis jangka panjang.

"Bank-bank yang membangun kemampuan untuk melayani mereka sekarang tidak perlu lagi membangun hubungan itu nanti," menurut keterangan tersebut.

"Bank-bank yang bergerak lambat mungkin akan terus memegang rekening operasional, tetapi hubungan penasihat, pendapatan biaya, dan pangsa pasar jangka panjang dapat beralih ke pemain dengan kemampuan pengelolaan kekayaan yang lebih kuat."

Michael Stanhope, Founder & CEO Hubbis, perusahaan riset manajemen kekayaan, mengungkap sejumlah kecenderungan dari generasi baru kaum kaya Indonesia. Mereka, kata dia, menginginkan nasihat yang lebih baik, panduan yang bersifat jangka panjang seperti warisan, akses investasi yang lebih luas, penggunaan alat digital yang lebih cerdas.

Hal ini mendorong pergeseran di industri keuangan, dari yang semula berbasis produk menjadi layanan wealth manajemen, seperti yang sudah lebih dulu terjadi di pasar yang sudah mapan seperti Singapura, Hong Kong, dan Swiss.

"Pergeseran ini mengarahkan industri menuju model yang lebih konsultatif dan berorientasi pada perencanaan," kata Stanhope, dalam tulisannya di LinkedIn.

Perbankan Bersaing Ketat

Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia Melfrida Gultom mengakui kalangan affluent yang jadi target pasar layanan Wealth Management ini kecil. Merujuk data BCG, ia menyebut kalangan ini mencakup 1% populasi dengan penguasaan lebih dari 70% aset likuid. Segmennya terutama berasal dari generasi Milenial, Gen X, dan Baby Boomers.

Peluang datang dari tingkat pertumbuhan tahunan 'OKB' (Orang Kaya Baru) yang mencapai sekitar 6%.

"Peluang ekspansinya masih besar dan berkelanjutan. Makanya kalau teman-teman, familiar dengan kata OKB-OKB itu," kata Melfrida.

"Bank-bank ini pun makin interested untuk mengambil peningkatan 6% itu tadi," lanjut dia.

Selain itu, kata Melfrida, peluang juga didorong dari ketidakpastian geopolitik dan volatilitas global yang mendorong perubahan perilaku nasabah affluent. Hal ini berpengaruh pada tren suku bunga serta ketatnya persaingan promosi perbankan sepanjang 2025.

Di tengah ketatnya persaingan memperebutkan nasabah affluent ini, Melfrida menyebut DBS punya tiga strategi utama untuk menjadi unggul.

1. Insight Driven

Bank DBS Indonesia mengintegrasikan insight global dari CIO (Chief Investment Office) regional dengan teknologi AI dan machine learning untuk menghadirkan strategi investasi yang dipersonalisasi.

Insight ini dikirim ke WhatsApp dan email nasabah untuk kemudian didiskusikan bersama Relationship Manager dan disesuaikan dengan kebutuhan personal nasabah. Setelahnya, nasabah dapat menindaklanjuti dengan cepat melalui aplikasi DBS digibank yang dapat diakses 24 jam. 

2. Globally connected

DBS memiliki jaringan kuat di 6 pasar utama Asia, yakni Indonesia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, China, dan India. Hal membuat perspektif pakarnya dekat dengan wealth trend di pasar tersebut. Potensi kolaborasi juga muncul dengan sesama nasabah affluent se-Asia.

3. Trusted

Diakui secara berturut-turut oleh berbagai lembaga dunia atas kekuatan finansial dan keberhasilan menavigasi pengelolaan kekayaan.

Dengan rangkaian strategi itu, Melfrida mengungkap hingga Mei 2026 DBS Treasures mencatat pertumbuhan signifikan Net Profit After Tax (NPAT) sebesar 289 persen secara tahunan (YoY), melampaui target anggaran sebesar 157 persen. Pertumbuhan ini seiring dengan peningkatan nasabah baru sebesar 73 persen YoY.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.