Transformasi artificial intelligence (AI) di perusahaan tidak cukup dilakukan dengan sekadar mengadopsi teknologi terbaru.

Perusahaan perlu memastikan implementasi AI menjawab persoalan bisnis yang nyata, memiliki tata kelola yang kuat, serta memberikan manfaat yang dapat diukur.

Hal tersebut mengemuka dalam panel discussion International Best Practices yang dimoderatori Darrick Rochili, Chief Innovation Officer DANA Indonesia, bersama Ted Ding, Director of Tencent Cloud Global Technical Support Team, dan Kenneth Siow, Senior Vice President INF Tech.

Diskusi membahas bagaimana perusahaan dapat bergerak dari tahap eksperimen menuju implementasi AI yang memberikan nilai nyata.

Kenneth menilai penerapan AI menjadi penting karena teknologi ini dapat menciptakan keunggulan kompetitif, khususnya melalui peningkatan pengalaman pelanggan.

Salah satu contohnya adalah layanan pelanggan berbasis AI yang dapat beroperasi selama 24 jam dan menangani sebagian kebutuhan nasabah secara otomatis.

Respons yang lebih cepat dan pengalaman layanan yang lebih baik berpotensi memperkuat hubungan dengan pelanggan, meningkatkan loyalitas, hingga membuka peluang peningkatan pangsa pasar.

Sementara itu, Ted mengingatkan agar perusahaan tidak mengadopsi AI semata-mata karena khawatir tertinggal dari kompetitor. Menurutnya, transformasi harus didukung pemahaman dan keterlibatan manajemen serta terintegrasi dengan kebutuhan bisnis.

Perusahaan juga disarankan memulai dari persoalan yang spesifik dan berskala kecil dengan investasi terukur, membuktikan manfaatnya, kemudian memperluas implementasi ke fungsi lainnya.

Pendekatan bertahap tersebut juga perlu disertai visi jangka panjang dan operating model yang konsisten. Kenneth menjelaskan, perusahaan perlu menentukan stakeholder, persoalan yang hendak diselesaikan, serta prioritas proyek berdasarkan tingkat kesulitan dan anggaran.

Implementasi dapat dimulai dari collaboration tools untuk meningkatkan produktivitas internal, kemudian berkembang ke pelayanan konsumen, sebelum memasuki area yang lebih kompleks seperti Anti-Money Laundering dan credit scoring yang membutuhkan keselarasan lebih kuat dengan regulator.

Fondasi implementasi AI, lanjut Kenneth, bertumpu pada tiga elemen utama, yakni people, process, dan platform.

Teknologi perlu didukung sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan dan mengawasi sistem, sementara proses bisnis harus dirancang secara menyeluruh.

"Manusia, proses, dan platform membentuk model operasional yang menjadi fondasi untuk mendorong keberhasilan implementasi AI.”  ujar Kenneth.

Proyek AI juga tidak ideal jika dikembangkan secara terpisah dalam silo departemen karena perpindahan pekerjaan dan data dapat melibatkan berbagai fungsi organisasi.

Pengalaman Tencent turut menunjukkan pentingnya efisiensi dalam pemilihan teknologi. Ketika penggunaan AI meningkat, perusahaan tidak selalu membutuhkan model terbesar atau termahal.

Untuk kebutuhan tertentu, model open source yang lebih ringan dapat memberikan hasil memadai dengan biaya lebih rendah.

Artinya, kemampuan AI perlu dipilih berdasarkan kebutuhan pekerjaan, bukan menggunakan teknologi yang sama untuk seluruh kasus.

Ke depan, kemampuan AI agent diperkirakan terus berkembang, sementara biaya model cenderung semakin rendah. Karena itu, perusahaan perlu membangun arsitektur yang terbuka, menghindari ketergantungan pada satu vendor, melibatkan berbagai fungsi organisasi, serta tetap mengutamakan keamanan.

Panel discussion tersebut menegaskan bahwa transformasi AI bukan perlombaan untuk menggunakan teknologi sebanyak-banyaknya.

Nilai AI justru muncul ketika perusahaan mampu memahami persoalan yang ingin diselesaikan, memilih teknologi yang sesuai, memastikan kesiapan data dan tata kelola, serta membangun implementasi secara bertahap hingga manfaatnya dapat diukur secara nyata.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.