Mayoritas masyarakat Indonesia masih mengabaikan pencegahaan penyakit kritis. Hal ini terlihat dari banyaknya masyarakat terutama di perkotaan yang berperilaku tidak sehat, antara lain merokok, konsumsi minuman beralkohol dan makan junkfood yang berlebihan. Selain itu, kurang berolahraga, sedikit tidur serta stress yang berkepanjangan disinyalir menjadi penyebab munculnya penyakit-penyakit kritis.

 

Di Indonesia, kasus penyakit kritis terus meningkat. Kesimpulan tersebut  didukung oleh data Riskesdas Kementerian Kesehatan 2018, yang menunjukkan prevelansi atas diagnosis terhadap beberapa penyakit kritis di Indonesia terus meningkat. Penyakit yang mengalami peningkatan penderita yang paling signifikan adalah stroke, dengan prevelansi mencapai 10,9 persen pada 2018 diikuti oleh diabetes dengan 8,5 persen, ginjal dengan 3,8 persen dan kanker 1,8 persen.

 

Melihat data tersebut, masyarakat perlu memberikan perhatian ekstra terhadap kesehatan. Terutama agar tidak berdampak terhadap kondisi finansial. Dalam laporan Zurich pada 2015, setidaknya 50 persen dari total klaim yang masuk berasal dari penderita kanker. Diikuti penyakit yang berkaitan dengan jantung sebanyak 20 persen, pneumonia sebanyak lima persen, serta bunuh diri dan kecelakaan dengan masing-masing empat persen.