KATADATA - Siapapun pemerintah baru yang akan berkuasa pada periode 2014-2019, apakah Prabowo Subianto atau Joko Widodo, akan menghadapi ancaman yang sama dengan pemerintah saat ini. Defisit neraca migas diperkirakan akan membesar seiring dengan peningkatan konsumsi dan impor minyak.

"Kabinet baru akan menghadapi tugas berat dan sulit, menyangkut defisit neraca migas yang bisa berlanjut pada pada horor krisis minyak," kata Abdul Muin, mantan Wakil Ketua Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas.  

Menurut dia, besarnya impor minyak bukan hanya memicu defisit perdagangan migas dan defisit fiskal. Bahkan, defisit ini akan memicu tekanan terhadap cadangan devisa dan nilai tukar rupiah. Dengan lonjakan konsumsi dan impor minyak, di saat produksi terus menurun, krisis minyak juga akan menjadi horor bagi pemerintah baru.

"Saya perkirakan pada 2019, krisis minyak akan menjadi ancaman berat bagi pemerintah baru," kata Abdul Muin kepada Katadata beberapa waktu lalu.

Unduh riset lengkap: Ancaman Krisis Minyak bagi Pemerintah Baru

Reporter: Heri Susanto