Aksi unjuk rasa atas kematian seorang warga kulit hitam George Floyd di tangan polisi berbuntut kerusuhan di sejumlah kota di Amerika Serikat (AS). Rangkaian kejadian ini mengakibatkan setidaknya 12 orang tewas dan 4,4 ribu orang ditangkap. Toko-toko juga dijarah dan dibakar sehingga pembukaan kembali aktivitas ekonomi setelah Covid-19 tertunda.

(Baca: Trump Sempat Dibawa ke Bungker saat Demonstran Serbu Gedung Putih)

Masyarakat dunia juga menunjukkan solidaritas melalui gerakan “Blackout Tuesday” di media sosial. Mereka mengunggah foto hitam polos ke akun masing-masing. Sejumlah merek ternama ikut melakukan penghormatan terhadap kematian Floyd. Spotify menghilangkan suara pada layanannya selama 8 menit 46 detik, durasi leher Floyd ditekan lutut polisi.

(Baca: Cek Fakta Cuitan Trump, Bos Twitter Sebut Tak Berupaya Jadi 'Wasit')

Selain memprotes kematian Floyd di tangan polisi, demonstrasi ini menyuarakan diskriminasi rasial yang masih terjadi di AS. Warga kulit hitam berpotensi mengalami kekerasan polisi tiga kali lebih besar dari warga kulit putih. Sebanyak 24 persen korban meninggal akibat kekerasan polisi pada 2019 pun merupakan warga kulit hitam.

(Baca: Trump Tawarkan Bantuan Militer untuk Redam Kerusuhan di Minnesota)

Kemudian, diskriminasi rasial menyebabkan kesenjangan sosial dan ekonomi. Misalnya, dalam hal pendapatan, rata-rata yang dihasilkan setiap rumah tangga warga kulit hitam adalah US$ 58,7 ribu per tahun. Sementara itu, warga kulit putih bisa memperoleh US$ 98,2 ribu.