Pertamina berupaya mendukung pemerintah dalam mengurangi emisi karbon, salah satunya melalui program Green Refinery yang dijalankan oleh Kilang Pertamina Internasional. Program ini mengolah bahan baku dari minyak kelapa sawit menjadi bahan bakar ramah lingkungan.

Dalam rentang waktu 2020-2021, Pertamina berhasil mengurangi emisi sebanyak 7,4 juta ton CO2e. Capaian tersebut setara dengan tiga kali kenaikan emisi gas rumah kaca (GRK) DKI Jakarta dalam rentang 2010-2018 yang rata-rata sebesar 2,4 juta ton CO2e per tahun.

Melalui program Green Refinery, Pertamina berhasil menghasilkan produk-produk berkelanjutan seperti Green Diesel (Pertamina Renewable Diesel) dan Green Avtur (Sustainable Aviation Fuel).

Pertamina Renewable Diesel merupakan bahan bakar alternatif untuk kendaraan diesel dan generator dengan kapasitas produksi sekitar 3 ribu barel per hari. Keunggulan produk ini terletak pada kadar sulfur kurang dari 10 ppm (setara dengan standar EURO V), serta nilai cetane lebih dari 70.

Selain itu, Pertamina Renewable Diesel telah bersertifikat International Sustainability and Carbon Certification (ISSC) karena memberikan kontribusi signifikan dalam menurunkan emisi karbon LCA basis scope 3 (70 persen), lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar fosil.

Lalu, ada produk Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang merupakan bahan bakar alternatif pesawat terbang untuk mengurangi emisi dari penerbangan. Proses pembuatan SAF memanfaatkan bahan nabati dari inti minyak kelapa sawit sebanyak 2,4 persen melalui penggunaan teknologi Co Processing (HEFA).

SAF telah diujicobakan pada pesawat CN235 pada tahun 2021 dan akan diujicobakan pada pesawat komersial pada Agustus-September 2023.

Ke depannya, Kilang Pertamina Internasional akan terus mengembangkan program Green Refinery. Green Refinery Cilacap fase II direncanakan akan memiliki kapasitas produksi sekitar 6 ribu barel per hari dengan target operasi pada 2026. Sementara itu, Green Refinery Plaju memiliki kapasitas produksi hingga 20 ribu barel per hari dan akan beroperasi pada 2027.

Kilang Pertamina Internasional juga memiliki rencana pengembangan bioethanol di Sei Mangkei dengan kapasitas produksi sekitar 50 kiloton per tahun dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. 

SAFE Forum 2023 akan menghadirkan lebih dari 40 pembicara yang akan mengisi 15 lebih sesi dengan berbagai macam topik. Mengangkat tema "Let's Take Action", #KatadataSAFE2023 menjadi platform untuk memfasilitasi tindakan kolaboratif dari berbagai pemangku kepentingan yang disatukan oleh misi menjadikan Indonesia sebagai negara yang lebih hijau. Informasi selengkapnya di sini.