Kasus campak kembali menjadi perhatian pada awal 2026. Kementerian Kesehatan mencatat adanya peningkatan jumlah kasus dan suspek di sejumlah daerah, yang memicu terjadinya beberapa kejadian luar biasa (KLB). Kondisi ini mendorong pemerintah mempercepat program imunisasi guna menekan penularan serta mencegah munculnya kasus yang lebih luas.

Hingga minggu ke-8 tahun 2026, tercatat 45 KLB campak yang tersebar di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi. Dalam periode tersebut, enam orang dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit ini.

Campak merupakan penyakit menular yang sangat mudah menyebar, terutama pada kelompok anak-anak yang belum mendapatkan perlindungan imunisasi secara lengkap.

Menyikapi situasi tersebut, Kementerian Kesehatan menetapkan 102 kabupaten/kota sebagai target pelaksanaan imunisasi respons wabah. Program ini difokuskan pada wilayah yang telah mengalami KLB melalui kegiatan Outbreak Response Immunization (ORI). Selain itu, pemerintah juga menjalankan program Catch Up Campaign atau imunisasi kejar di wilayah yang dinilai memiliki risiko tinggi terjadinya wabah.

Sasaran utama program imunisasi ini adalah anak usia 9 hingga 59 bulan. Pelaksanaan kegiatan direncanakan berlangsung pada Maret 2026. Upaya ini bertujuan meningkatkan kekebalan kelompok (herd immunity) sehingga penyebaran virus campak dapat ditekan secara lebih efektif.

Untuk menjangkau lebih banyak masyarakat, layanan imunisasi tidak hanya dilakukan di fasilitas kesehatan. Pemerintah juga membuka layanan di berbagai lokasi yang mudah diakses oleh masyarakat, seperti puskesmas, posyandu, satuan pendidikan seperti PAUD dan taman kanak-kanak, tempat ibadah, hingga pos pelayanan mudik. Petugas kesehatan juga melakukan layanan imunisasi secara langsung dari rumah ke rumah di sejumlah wilayah.

Selain memperluas akses imunisasi, pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Langkah ini penting untuk membantu mencegah penularan berbagai penyakit menular, termasuk campak.

Perlindungan terhadap campak dilakukan melalui vaksin MR, yaitu vaksin kombinasi measles (campak) dan rubella. Keamanan serta efektivitas vaksin ini telah dibuktikan melalui berbagai penelitian dan uji klinis.

Data menunjukkan bahwa setelah imunisasi, titer antibodi protektif terhadap campak meningkat dari 10,41% menjadi 80,21%. Sementara itu, perlindungan terhadap rubella meningkat dari 15,10% menjadi 98,96%.

Dengan percepatan imunisasi serta dukungan masyarakat dalam menjaga perilaku hidup sehat, pemerintah berharap penyebaran campak dapat segera dikendalikan dan risiko wabah di berbagai daerah dapat diminimalkan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.