Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi anomali iklim El Niño “Godzilla” dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif bakal terjadi April hingga Oktober 2026. Kombinasi keduanya berpotensi membuat musim kemarau dan kekeringan lebih panjang.
Secara resmi, El Niño “Godzilla” dikenal dengan nama El Niño variasi super atau sangat kuat. Saat fenomena ini berlangsung, terjadi kenaikan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik, hingga 2 derajat celcius atau lebih di atas normal, dan “kolam panas” bergeser ke bagian timur samudra dekat perairan Amerika Selatan.
“Dampaknya, awan dan hujan lebih banyak terbentuk di Pasifik, sementara Indonesia kekurangan hujan. IOD positif juga membuat suhu laut di sekitar Sumatra dan Jawa mendingin, sehingga curah hujan semakin berkurang,” dikutip dari akun X BRIN, Kamis, 19 Maret.
Sedangkan IOD positif atau kering adalah ketika terjadi anomali kenaikan suhu laut di Samudra Hindia melebihi 0,4 derajat Celcius. Akibatnya, bagian barat samudra dekat perairan Afrika memanas, sementara perairan Indonesia di bagian timur samudra mendingin.
Terakhir kali El Niño terjadi berbarengan dengan IOD Positif saat paruh kedua 2023. Saat itu, kekeringan terjadi mayoritas di wilayah Jawa, Bali Nusa Tenggara, hingga Sulawesi. Hal ini mengakibatkan produksi padi dan jagung menurun akibat gagal panen. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mencatat peningkatan titik api atau hotspot di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.