Tantangan ekonomi di Indonesia turut dirasakan pengusaha pada awal 2026. Hal ini tercermin dalam hasil survei Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Business Pulse Q1 2026.

Survei menemukan  40,5% pengusaha menilasi kondisi bisnisnya tidak membaik pada kuartal I-2026. Persentase ini meningkat dari 34,8% yang merasa kondisi bisnis tidak membaik pada kuartal 4-2025.

Survei yang melibatkan 210 responden anggota Kadin di 27 provinsi itu juga merekam bahwa 44,% pengusaha menilai kinerja industri tidak membaik. Sebanyak 39% pebisnis juga mengaku tidak merencanakan berinvestasi setidaknya untuk 6 bulan ke depan.

Ketua Umum Kadin, Anindya Novyan Bakrie mengatakan dinamika dan konflik di Timur Tengah telah memberikan dampak signifikan bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

“Dampak paling terasa adalah kenaikan harga BBM yang kemudian merembet ke peningkatan biaya operasional. Namun, kondisi ini tidak diimbangi dengan kenaikan daya beli, karena likuiditas saat ini juga sangat ketat,” ujar pria yang kerap disapa Anin itu, 24 April 2026.

Menurutnya, pelaku usaha perlu menyiapkan model bisnis yang lebih tangguh. Tidak hanya untuk bertahan, tetapi juga siap menghadapi krisis berikutnya.

“Tantangannya sekarang adalah bagaimana menyikapi situasi ini. Apakah hanya fokus pada efisiensi dengan mengencangkan ikat pinggang, atau segera kembali ke jalur pertumbuhan,” kata Anin.

Sigi itu juga mencatat variabel apa saja yang menjadi tantangan utama pengusaha untuk operasional bisninya bisnisnya. Empat variabel yang paling menjadi tantangan adalah: kebijakan pemerintah (16,7%), birokrasi (14,3%), dan permintaan (11,4%), dan akses pembiayaan (9,5%).

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.