Layanan pembayaran Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater kian digemari masyarakat Indonesia, terutama anak muda. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pembiayaan paylater pada Juni 2026 mencapai Rp44,1 triliun dari total penyaluran lewat bank dan lewat perusahaan pembiayaan.
“Perilaku konsumsi masyarakat, khususnya generasi muda, menunjukkan kecenderungan menjadikan cicilan berbunga jangka pendek sebagai bagian dari gaya hidup,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, Rabu, 5 Agustus.
Mayoritas penyaluran paylater disalurkan lewat bank. Namun, penyaluran oleh perusahaan pembiayaan juga mengalami peningkatan pesat, yaitu mencapai Rp13,4 triliun per Juni 2026 atau naik 57% yoy.
Menggunakan paylater sebagai opsi pembayaran deferred payment memang dinilai lebih cepat dan fleksibel. Selain itu, metode pembayaran ini dapat menjaga daya beli yang sedang melemah, di mana rumah tangga perlu memenuhi kebutuhan konsumsi jangka pendek mereka.
Dalam laporan “Indonesia Millennial and Gen Z Report 2025” oleh IDN Research Institute misalnya, rata-rata pinjaman paylater generasi milenial mencapai Rp1,48 juta per bulan. Peruntukan paling besarnya adalah untuk membayar internet atau tagihan, yaitu sebanyak 57% dari total responden milenial yang menggunakan paylater, dan untuk pengeluaran bulanan sebanyak 55% responden.
Tingginya permintaan pembayaran via paylater ini bukan tanpa risiko. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menyebut, OJK dan pelaku industri perlu mengantisipasi lonjakan permintaan ini dengan perbaikan kualitas penyaluran pembiayaan.
“Patut diwaspadai, penyaluran paylater yang tinggi bisa menimbulkan tingkat gagal bayar yang tinggi juga,” kata Nailul Huda kepada Katadata.co.id, Selasa, 11 Agustus.